3 Jalan Sesat Dalam Membangun Ekonomi Umat

  by

Kencong, Jember – Presiden IIBF Heppy Trenggono mengajak umat Islam di Indonesia untuk membangkitkan potensinya di bidang ekonomi. Dengan kesadaran itu maka umat Islam di Indonesia tidak hanya menjadi sasaran pasar tetapi mampu menjadi pelaku dan memainkan peran ekonomi yang lebih strategis lagi. Hal ini disampaikan pada Halaqoh Pesantren se-kabupaten Jember (13/2) di Pondok Pesantren As-Sunniyyah, Kencong beberapa waktu yang lalu.

“di Indonesia ada perusahaan menguasai 5 juta hektar lahan, dan pasti bukan milik umat. Bahkan urusan air minum saja 93 persen dikuasi asing. Mengapa bisa terjadi seperti itu, karena kita membiarkan hal itu terjadi, seolah ekonomi yang memang begitu berjalannya”

Oleh sebab itu potensi umat yang demikian besar harus diarahkan dalam rangka membangun kesejahteraan umat, terlebih lagi lingkungan pesantren yang menjangkau jutaan santri, keluarga santri hingga alumni nya. Ditambah kultur kepatuhan yang tinggi pada pondok/kyai sungguh itu adalah potensi yang sedang menunggu untuk digerakkan dan diarahkan.

Namun Presiden IIBF mengingatkan agar dalam rangka upaya membangun ekonomi umat tidak terjebak dengan pendekatan yang tidak sesuai apalagi berpotensi menyesatkan.

“ada langkah-langkah yang harus kita hindari dalam mengkonstruksi sebuah pergerakan membangun ekonomi umat. Saya sebut ini 3 aliran sesat dalam membangun ekonomi umat” cetusnya.

Yang dimaksud 3 aliran sesat dalam membangun ekonomi umat, pertama adalah Crowd Funding atau menghimpun dana dari masyarakat. Seolah-olah inilah satu-satunya cara yang bisa ditempuh untuk membangun ekonomi umat. Berapa banyak kita jumpai dilapangan ketika berbicara membangun ekonomi umat yang dilakukan pertama kali adalah mengumpulkan dana umat. Seolah ini pula yang paling berjamaah. Padahal banyak cara lain yang bisa dilakukan selain dari pada mengumpulkan dana umat.

“Awal 2018 dana pensiun dikabarkan menginvestasikan US$ 2,3 milyar atau setara  32 triliun rupiah di pasar saham. Artinya banyak dana-dana nganggur lagi cari tempat. Kalau kita bisa berikan konsep yang bagus, pasar siap, pasti bisa akses mereka, bahkan investor akan antri” ungkap Heppy mencontohkan.

Belum lagi international fund  yang juga siap menggelontorkan dana untuk pemberdayaan ekonomi umat. Jadi bukan konsepnya mengambi sesuatu dari umat melainkan membuat mereka menjadi lebih sejahtera dari sebelumnya, itulah spirit membangun ekonomi umat yang harus dimiliki.

Kedua, mencari bapak angkat. Heppy menegaskan bahwa yang dibutuhkan bukanlah bapak angkat dalam membangun ekonomi umat. Kerangka ini berpijak tidak jauh dari konsep trickle down effect yang terbukti gagal, justru hanya melahirkan ketimpangan ekonomi lantaran segelintir pengusaha yang dulu di-support justru membuat konglomerasi bukan menetes kebawah seperti yang diharapkan.

“yang dibutuhkan umat bukan bapak angkat, yang umat butuhkan adalah perlakuan yang sama dalam akses dan support oleh pemerintah” tegas Heppy.

Mencari bapak angkat seperti terlalu menggampangkan persoalan, padahal ketimpangan ekonomi yang kian lebar terjadi lantaran keberpihakan akses ekonomi yang tidak merata pada sesama anak bangsa, hanya pada pihak-pihak tertentu saja.

“2016 kita impor 10,5 juta ton gandum, nilainya puluhan triliun pastinya. Dan yang saya tahu dipegang oleh satu orang saja bahkan bulog pun tidak memiliki kewenangan untuk impor tersebut apalagi umat”.

Jangan mudah terpedaya, kemasannya (bapak angkat: read) saja yang dirubah ujungnya masih sama, hanya akan membuat para konglomerat itu kian bercokol, dan pada akhirnya gurita bisnisnya jadi milik anak kandung dan umat tetap sebagai anak tirinya.

Aliran sesat yang ketiga dalam membangun ekonomi umat menurut Presiden IIBF adalah selalu tentang produk. Membangun ekonomi bukan tentang produk tetapi tentang pasar dan pembelaan. Jangan pernah tanyakan apakah orang Indonesia bisa membuat ini dan itu karena pertanyaan sesungguhnya adalah apakah kita mau membela dan membeli nya atau tidak.

“jangankan buat mobil, pesawat pun kita bisa, sayangnya BUMN kita lebih memilih membeli pesawat MA 60 dari China ketimbang CN-235 produksi bandung yang telah mendunia, bahkan korea selatan menggunakannya sebagai pesawat kepresidenan”

Akibatnya meski mayoritas, umat tidak ikut memainkan peran ekonomi. Umat lebih banyak menjadi object ekonomi semata. Padahal ekonomi sangat dikendalikan oleh pasar. Begitu pasar berubah besok pagi pula keinginan masyarakat akan ada yang membuatnya. Bayangkan jika 200 juta umat islam ini belanjanya kepada saudara sendiri berapa potensi ekonomi yang bisa diserap dan disalurkan ke umat lagi.

Jadi bukan tentang produk apa, menumbuhkan ekonomi umat yang kita butuhkan adalah pembelaan dari sesama umat pula. Itulah ekonomi berjamaah yang sesungguhnya, bukan memungut dana masyarakat melainkan dengan membela dan membeli produk milik saudaranya. Dengan begitu perputaran ekonomi akan terjadi dikalangan umat dan pertumbuhan ekonomi akan terjadi. ANS