5 Warning Bagi Pengusaha

  by

Memiliki bisnis yang benar-benar menjadi mesin uang tentu sangatlah menyenangkan, debar-bedar akhir bulan bukan lagi teman baikmu lantaran OCF yang selalu positif, tidak hanya itu bahkan free cash nya pun berlimpah, namun untuk mencapai hal itu juga bukan perkara mudah. Menurut Founder IIBF Heppy Trenggono ada 5 hal yang harus selalu diperhatikan terhadap bisnis-bisnis yang dimiliki.

“jika ada gejala-gejala ini pada bisnis yang sedang anda jalankan, artinya inilah warning kalau bisnis kita dalam masalah dan perlu segera kita perbaiki”.

Pertama, Lack of Operational Control. Sulit mengontrol operasi. Kalau bisnis menjadi susah di kontrol atau susah mengendalikan itu artinya tanda bahaya baik bagi usaha itu apalagi pengusahanya. Presiden IIBF mencontohkan, ketika kalian sulit mengetahui keberadaan sebuah inventory, tidak tahu mana yang fast moving dan mana yang tidak, berapa HPP setiap produk yang kita miliki, tidak tahu berapa cost yang sebenarnya dikeluarkan untuk menghasilkan sales, tidak tahu suplier mana yang bagus, dan hal lain yang berkenaan dengan operational artinya anda dalam bahaya. Harus segera dilakukan perbaikan.

Kedua, Lack Of Financial Control. Sulit mengontrol keuangan. Ibarat mengemudikan pesawat harus tahu panel mana saja yang harus di awasi diantara banyaknya panel yang ada di cockpit. Panel mana yang benarnya harus dijagain. Demikian juga dalam menjalankan usaha, ada inventory, ada AR Days, AP Days, COGS, Contribution Margin, OCF, ICF, FCF, profit, cost operation, fix cost, variable cost, dan masih banyak lagi, dan kita harus tahu mana yang harus selalu dalam monitoring.

Belum lagi yang namanya laporan keuangan rugi bisa dibuat untung dalam pembukuan, kalau pengusahanya tidak tahu karena tidak bisa membaca laporan keuangan sama artinya lagi di ajak balapan miskin sama staff tapi ownernya tidak tahu.

Financial Control adalah kuncinya. Mau berbisnis warung makan atau perusahaan BUMN atau MNC yang bernilai triliunan rupiah sama panel-panelnya. Bisnis itu permainan angka-angka. Jadi selain harus pandai dalam berjualan seorang pengusaha juga harus melek financial atau melek keuangan. Sayangnya di Indonesia sendiri lebih banyak pengusaha yang financial incompetent alias tidak melek keuangan. Bukan untuk menjadikan anda seorang akuntan ya, melainkan cerdas keuangan.

Ketiga, Lack Of Profitability. Tidak Profit. Beberapa bulan lalu kita dikejutkan oleh sebuah travel umroh yang gagal memberangkatkan 70.000 jamaahnya. Apa pelajarannya? Ternyata memahami bahwa sales dilakukan untuk menciptakan profit itu penting. Penjualan dikurangi biaya-biaya sama dengan profit. Apalagi kalau memang didesain sejak awal untuk merugi. Memang ada ya? Banyak sekali contohnya ya usaha yang cara bermainnya jualan rugi.

Jadi life on margin.

Keempat, Lack Of Operating CashFlow. Adalah Cash yang dihasilkan dari aktivitas menjalankan usahanya, sales menjadi profit setelah di kurangi biaya, profit yang menjadi cash itulah cashflow yang dimaksud. Kalau tiap akhir bulan dada berdebar-debar karena memikirkan uang gaji dari mana sedangkan penjualan naik, profit naik, artinya OCF negatif. Jika OCF selalu negatif artinya usaha anda dalam bahaya. Sehingga pengusaha IIBF diajari financial literacy untuk memahami hal ini.

Kelima, Out Of Business Blueprint. Keluar dari Blueprint bisnis. Beberapa usaha masih bisa diperbaiki sebelum terlambat. Apapun jenis usahanya perjalananya selalu begini :

Bahwa uang yang investasikan dimaksudkan untuk menjadi aset, aset dimaksudkan untuk menghasilkan sales dimana sales dimaksudkan untuk menghasilkan profit, dan profit dimaksudkan agar menjadi cash, fresh money yang bisa kita gunakan untuk keperluan apapun. Inilah flow bisnis beneran.

Jadi sahabat apabila salah satu atau salah semua warning ini terjadi pada usaha yang sudah dijalankan, Anda dalam bahaya, saran saya segera lakukan perbaikan.