Apakah IIBF Eksklusif?

  by

Dua bulan lalu ketika saya di Palembang bersama mas Purdi E. Chandra, ketemu dengan Ridwan sahabat pejuang yang memiliki sikap keras dalam perjuangan.

Ridwan dahulu adalah sponsor bagi beberapa Trainer Bisnis yang datang ke Palembang. Semua itu dilakukan karena keinginannya untuk membantu sahabat-sahabatnya agar bisa sukses dalam berbisnis.

Namun perjalanan justru membuatnya merasa bersalah karena banyak teman-temannya “terjerumus” pada ilmu bisnis model cepat sukses yang membawa petaka hidup berkepanjangan.

Banyak anak muda yang jatuh miskin, ada yang memalsukan surat kematian dirinya sendiri untuk menghindari penagih hutang, banyak yang harus kehilangan anak istri, bahkan tidak satu dua berusaha menjual organ tubuh untuk keluar dari lilitan hutang.

Karena pengalamannya itu pernah suatu saat menjelang acara Seminar Bisnis, Ridwan “menyekap” seorang pembicara yang akan tampil karena dia kuatir tentang apa yang akan disampaikan kepada para pengusaha muda di Palembang.

Pembicaraan saya dengan mas Purdi malam itu selalu saya ingat. Beliau mengatakan bahwa banyak murid-muridnya mengembangkan teori bisnis jalan pintas tanpa sepengetahuannya. Termasuk ilmu goreng kartu kredit yang mencelakakan itu bukan dari beliau.

Tapi masalahnya kebanyakan orang tidak tahu, bahkan banyak orang yang mengikuti model bisnis yang diajarkan oleh murid-murid beliau karena menganggap konsep itu dari beliau. Malam itu mas Purdi menanyakan ke saya “apakah saya ikut berdosa ya, apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan saya?”, saya bilang “Mas Purdi harus turun tangan dan perbaiki, selagi kita masih hidup mas”.

IIBF sendiri lahir bukan karena direncanakan untuk lahir. IIBF lahir karena sebuah panggilan, ketika banyak keluarga berantakan karena bisnis, ketika di tengah kesulitan banyak orang-orang yang berusaha menarik keuntungan dengan menawarkan ilmu dengan imbalan selangit.

IIBF meyakini bahwa kaya dan miskin adalah persoalan karakter. Persoalan pembangunan karakter yang sudah lama ditinggalkan oleh bangsa ini.

Maka IIBF hadir mengambil posisi sebagai pembangunan karakter. Posisi yang diambil IIBF ini membawa konsekwensi di mana IIBF menjadi sangat selektif dalam mengadopsi ilmu-ilmu dari luar, menghindari sesuatu yang mudharat menjadi prioritas di IIBF.

Hanya di IIBF buku-buku tertentu dengan tegas tidak diperkenankan. Sebagaimana pesantren yang dengan tegas melarang santrinya menonton sinetron.

IIBF memiliki spirit menyatukan umat, memimpikan perjuangannya menjadi rahmatan lil alamin. Di IIBF kita lihat ada yang datang dari NU, Muhammadiyah, PKS, HTI, PDI, hidayatullah, bahkan tidak sedikit yang beragama kristen, katolik, budha dan hindu. Allah juga menghibur di sana ada non muslim mendapat hidayah dan memeluk Islam dengan wasilah IIBF.

Meskipun demikian, kehati-hatian IIBF dalam berjuang membangun karakter kadang kala terasa bahwa IIBF “eksklusif”, tidak semua pembicara dari luar bisa masuk pada forum IIBF. Kalaupun masuk pasti panjang pertanyannya. Itulah sebuah konsekwensi ketika kita mengambil posisi. Ada harga yang harus dibayar.

Kekuatiran Ridwan barangkali bisa dilihat sebagai kekuatiran yang sama dirasakan oleh IIBF. Karena membangun karakter itu merupakan proses yang berat dan tidak kunjung usai, sedangkan untuk meruntuhkannya bisa-bisa berlangsung dengan sangat cepat. Tulisan ini sebagai hadiah saya untuk sahabat pejuang yang gigih sebagaimana ditunjukkan oleh Ridwan di Palembang, juga sebagai doa untuk sahabat saya mas Purdi E. Chandra, semoga Allah angkat derajatnya.

Akhirnya, biarlah IIBF menjadi dirinya sendiri, berjuang membangun karakter di tengah kancah dakwah. Dengan suatu tujuan yang tidak bisa dipertukarkan dengan apapun, yaitu mencari keridhoan Allah.

Ir. H. Heppy Trenggono
Presiden IIBF