Bank Syariah Hanya Kedok Jualan?

POSTED ON March 21st  - POSTED IN Artikel

Tulisan ini adalah jawaban saya atas pertanyaan terkait banyaknya posting “dugaan” bahwa Bank Syariah hanya kedok jualan. Sebuah perspektif dari IIBF.

Seorang kyai di Banten, namanya kyai Muffasir adalah seorang ulama yang sangat unik. Tentang riba, jangankan menggunakannya bahkan menggunakan uang pun beliau hindari. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beliau menanam padi dan sayur sendiri agar tidak perlu bersentuhan dengan uang. “Standar saya, haram menggunakan Sarung Samarina!” kata beliau. Memakai baju yang berenda juga haram karena akan menarik lawan jenis menurut beliau.

Kekuatan Itu adalah Software and Very Software

POSTED ON September 12th  - POSTED IN Artikel

Subang – berawal dari sebuah kisah pertemuan dua sahabat yang telah sangat lama tidak pernah jumpa. Kisah itu dituturkan oleh Presiden IIBF, Ir. H. Heppy Trenggono M.Kom tentang perjumpaannya dengan sahabat lamanya itu. Perjumpaan yang tidak hanya membuncahkan kegembiraan, namun juga menyisakan kesan yang cukup mendalam, ketika mengetahui perjalanan hidup sahabat lama yang diluar dugaan, pahit getirnya kehidupan yang dilalui, membangun rumah tangga, serta persoalan-persoalan lain yang datang silih berganti.

Tri Astuti Membangun Usaha Tanpa Riba

POSTED ON January 6th  - POSTED IN Artikel
Jatuh bangun mengembangkan usaha sudah dialami berkali-kali oleh Tri Astuti (32). Ia sudah mencoba berbagai usaha, mulai dari makanan, percetakan, pulsa, sampai warnet. Namun karena semua dilakoninya dengan hanya mengandalkan pengalaman, risiko jatuh pada kondisi yang sama terus berulang. Sampai akhirnya, ia bertemu seorang pembimbing yang mengarahkannya pada usaha yang “barokah” tanpa bergantung pada pinjaman bank. Kini, Tri Astuti kewalahan memenuhi permintaan pasar yang terus berdatangan.

Target Market

POSTED ON January 5th  - POSTED IN Artikel
“Pak Heppy, saya sudah menyebarkan banyak flyer dan pamflet dalam setiap kesempatan dan acara. Tapi sampai sekarang sangat sedikit orang yang datang ke butik saya.” Seorang entrepreneur perempuan bercerita dalam forum bisnis di Universitas Islam Riau, Pekanbaru beberapa waktu lalu. “Target market ibu siapa?” saya bertanya. “Semua orang, Pak!” jawabnya yakin.

Sebagian besar pebisnis memiliki pandangan yang sama dengan kisah di atas, yang menganggap semua orang sebagai target market dari produk yang ditawarkannya. Dan yang sering terjadi adalah hasilnya sama dengan kisah di atas. Karena orang yang menganggap dapat menjual kepada semua orang adalah orang yang tidak akan menjual kepada banyak orang. Karena apa? tidak semua orang membutuhkan produk itu dan dia tidak memiliki target market untuk produknya.