Archive : Author

Silatnas IIBF, House of Hope, The Place of Friends

POSTED ON July 20th  - POSTED IN Berita

SEMARANG, iibf-indonesia.com. Memperingati hari jadinya yang ke tujuh, Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) akan menggelar hajatan tahunan Silaturahmi Nasional. Silatnas IIBF adalah sebuah ajang untuk memperkuat hubungan persaudaraan kader-kader IIBF yang berasal dari seluruh daerah di Indonesia yang dirangkai dengan seminar bisnis berskala dunia.

“Silatnas ini akan menjadi momen istimewa karena kader IIBF berkunjung kembali ke kota tempat dimana IIBF dilahirkan tujuh tahun lalu. Kader IIBF akan diajak melihat kembali kesuksesan dan pencapaian IIBF selama ini dan meluruskan kembali visi dan misi IIBF yang ingin diraih serta menggelorakan pekik semangat perjuangan yang lebih hebat lagi,” tutur Ahmad Yuli Susanto, Ketua Pelaksana Silatnas IIBF 2016 sekaligus Ketua IIBF Semarang.

Dalam konferensi pers, Heppy Trenggono selaku Presiden IIBF mengatakan agar menjadikan Silatnas IIBF 2016 sebagai momentum membangun kebersamaan, semangat kekeluargaan dan merapatkan barisan perjuangan agar lebih terarah. “Pada Silatnas nanti IIBF akan meluncurkan Program Nasional Konsolidasi Kader agar pembinaan semakin solid, barisan semakin kuat, pertumbuhan anggota semakin terukur. Salah satu bentuk programnya adalah registrasi anggota. Setiap anggota akan diberikan IIBF Id dan disiapkan IIBF Basic Knowledge and Tools,” tambahnya.

Pria asal Kabupaten Batang ini, juga juga menjelaskan bahwa IIBF akan harus terus melakukan terobosan agar menjadi “House of Hope, The Place of Friends” yang didalamnya ada sahabat-sahabat yang saling membela sebagaimana mereka membela saudaranya sendiri. “Jangan mimpikan IIBF menjadi organisasi dengan anggota terbanyak, mimpikanlah IIBF menjadi organisasi yang solid dengan anggota keluarga yang memiliki komitmen tinggi,” tegasnya.

Silatnas IIBF 2016 sendiri akan diadakan pada hari Sabtu, 30 Juli 2016 di bertempat di Merapi Ballroom, Hotel Grasia, Semarang. Acara tersebut juga mengundang beberapa tokoh dan ormas untuk bersilaturahmi dan urun rembug atas persoalan ekonomi bangsa. Informasi dan Pendaftaran Silatnas IIBF 2016 bisa menghubungi Damar (081226435087) atau Iman (082225909906). (zyz)

Pengajian Bisnis IIBF Pekalongan Menuai Sukses Besar

POSTED ON July 20th  - POSTED IN Berita

PEKALONGAN, iibf-indonesia.com – Hangatnya suasana Idul Fitri rupanya menjadi momentum para pengusaha Pekalongan untuk saling bersilaturahmi. Sebuah acara bertajuk “Pengajian Bisnis dan Halal Bi Halal IIBF Pekalongan” menghadirkan pembicara dr. Udi Suhono Sp.B (Ketua IIBF Pekalongan) dan Rangga (Sekolah Muamalah) berhasil diselenggarakan dengan sukses. Acara yang digelar di Warung Rame-Rame ini (12/7) ramai dihadiri oleh puluhan pengusaha Pekalongan yang memadati seluruh meja yang tersedia.

 

Dr. Udi kembali mengingatkan pentingnya menyambung silaturahmi. “Rasul bersabda barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya, dan di panjangkan umurnya, hendaklah dia menyambungkan silaturahmi, demikian yang diriwatkan H.R. Bukhori”, ungkapnya. Dokter yang juga pengusaha ini juga mengatakan dalam ilmu bisnis, silaturahmi adalah kunci dari networking. Semakin banyak silaturahminya maka akan semakin luas jaringannya sehingga berpotensi besar baginya membangun relasi demi kepentingan tertentu. Begitu juga dengan ilmu dagang, semakin banyak jaringan maka akan semakin banyak pembeli yang datang sehingga peluang pembeli untuk membeli produknya semakin besar.

 

Dalam kesempatan itu, Rangga menyampaikan bahwa silaturahmi bisa diartikan mengikat tali persahabatan. Dalam sebuah organisasi, silaturahmi sangat berpengaruh dalam membangun solidaritas dan loyalitas anggotanya sehingga semakin solid dan memiliki kekuatan besar. “Silaturahmi seperti inilah yang harus terus dipelihara agar bisa membangun kebersamaan, semangat kekeluargaan dan merapatkan barisan perjuangan. Dengan modal silaturahmi ini akan mengikat tali persahabatan diantara anggota IIBF sehingga IIBF menjadi organisasi yang solid dengan kader-kader yang militan dan berkomitmen tinggi”, ujarnya dengan semangat dihadapan puluhan pengusaha.

 

Acara ditutup dengan doa bersama dan setelah ditutup tampak para pengusaha Pekalongan belum beranjak dari meja dan melanjutkan saling bertukar pikiran tentang kesuksesan dan pencapaian bisnisnya. Pengajian Bisnis dan Halal Bi Halal IIBF Pekalongan ini diselenggarakan sebagai bagian dari konsolidasi pengusaha Pekalongan menyambut gelaran Silaturahmi Nasional IIBF di Semarang tanggal 30 Juli 2016. Informasi dan Pendaftaran Silatnas IIBF 2016 bisa menghubungi Damar (081226435087) atau Iman (082225909906). (zyz)

Baliho Dosa Riba Hebohkan Warga Cilacap

POSTED ON July 20th  - POSTED IN Berita

CILACAP, iibf-indonesia.com. “DOSA RIBA SAMA SAJA BERZINA DENGAN IBU KANDUNG”. Begitulah kalimat yang tertulis pada baliho tersebut. Baliho yang biasanya berisi promosi suatu produk akan tetapi kali ini menjadi arena kampanye bahaya riba. Tak pelak lagi hal itu menarik perhatian warga yang melintas karena ukuran dan letaknya mencolok di tengah jalan S. Parman kota Cilacap. “Besar sekali spanduknya, isi kalimatnya itu yang bikin ngeri, insya Allah saya tidak mau pakai riba mas”, tutur Deden salah seorang warga ketika dimintai pendapatnya.

 

Tepat di depan Baliho berukuran besar tersebut terlihat beberapa orang sibuk mempersiapkan dan membagikan Tajil Gratis untuk berbuka puasa sekaligus membagikan poster “No Riba Dan Perbanyak Sedekah”. Hujan deras yang mengguyur Cilacap, tak menggoyahkan semangat kader-kader IIBF dan puluhan pengusaha Cilacap untuk mensukseskan agenda Ramadhan tahun ini (27/6).

 

Menurut Bagdo Tri Siswanto, Ketua IIBF Cilacap, mengatakan bahwa kegiatan yang dilakukannya bersama teman-teman pengusaha Cilacap adalah untuk memberikan edukasi atas bahaya besar yang ditimbulkan atas pemakaian riba. Harapannya, masyarakat Cilacap bisa terbuka matanya dan menjauhi riba selama-lamanya. Ia juga berharap dakwah seperti ini bisa diikuti oleh cabang IIBF lainnya dan Pemerintah Daerah bisa mendukung kampanye bahaya riba.

 

“Terlihat remeh tetapi ini merupakan persoalan serius”, lanjutnya lagi, “Riba menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Sudah banyak korban berjatuhan karena riba. Mereka yang terjerat riba jatuh dalam kenistaan, harta benda tergadaikan, dijauhi saudara dan ditinggal istri dan anak. Inilah bentuk pemiskinan yang nyata dan warga harus disadarkan agar mereka terjerat riba dan bagi yang sudah terjerat agar segera bertobat. Kedepan kami akan memasang lagi lebih banyak baliho di pasar-pasar dan dekat bank”.
Secara terpisah, ketika diminta pendapatnya tentang baliho yang digagas IIBF Cilacap, Presiden IIBF Heppy Trenggono berujar, “Besar balihonya, lebih besar lagi pahala dakwahnya”, sambil tersenyum. “Apa yang dilakukan oleh teman-teman di Cilacap sangat inspiring dan sangat baik. Spirit riba itu adalah keserakahan, bukan memberi pertolongan. Karenanya tidak ada keberkahan. Menjauhi riba merupakan bukti kepatuhan atas perintah Allah”, tutur lelaki yang juga menjabat sebagai CEO United Balimuda Corp. (zyz)

IIBF Kebumen Inisiasi Pembentukan Pengurus Temanggung

POSTED ON July 1st  - POSTED IN Berita

TEMANGGUNG, iibf-indonesia.com – Mengambil tempat di Wisma Soemodilogo, Kranggan, Temanggung, sebuah acara bertajuk “Membangun Karakter Pengusaha Muslim” dengan pembicara Moch Nasrullah (16/6) yang diselenggarakan oleh Komunitas Universal & Moslem Entrepreneurs berkerjsama dengan IIBF Kebumen sukses terselenggara. Ruang yang disiapkan oleh panitia tampak penuh sesak oleh antusiasme pengusaha Temanggung yang hadir sore itu.

Moch Nasrullah menyampaikan tentang penting pembangunan karakter pada diri pengusaha, terlebih pengusaha muslim, karena sebagai seorang muslim dalam berbisnis memiliki standar tersendiri. Ia mencontohkan, pengusaha musliam tidak boleh menggunakan riba selain dosa besar juga dilarang oleh Allah bahkan bagi pelakunya (red:muslim) diancam sebagai musuh Alah dan Rasul sehingga harus di perangi. Bagaimana akan menggapai sukses jika kita menjadi musuh Allah dan Rosulnya?

Mini Workshop ini diselenggarakan sebagai bagian dari konsolidasi pengusaha muslim dan kader menyongsong Kongres Beli Indonesia awal Oktober tahun ini, sehingga IIBF sebagai locomotive pergerakan Beli Indonesia harus kian mengakar dan ada diberbagai daerah, termasuk di kabupaten Temanggung ini ungkap Nasrullah.

“Saya sangat bangga kepada pengusaha tetapi lebih merasa bangga lagi kepada pengusaha muslim yang ingin berhijrah ke arah yang lebih baik, pengusaha yang ikut bersama-sama ambil bagian dalam membangun agama dan bangsa. Sebagai contoh banyak pengusaha yang terjebak utang karena riba, kehadiran IIBF menjadi wadah para pengusaha untuk saling menguatkan agar bangkit, dan terlepas dari lilitan hutang apalagi riba. The Home of Hope dan the place of friends yang didalamnya ada sahabat-sahabat  yang saling membela sebagaimana membela saudaranya sendiri ”.

Selain itu, menjadi  ajang berbagi pengalaman atau sharing usaha, kegiatan seperti ini juga penting untuk terus membangun sinergi, menyatukan potensi dan kekuatan umat, juga ajang pembangunan rasa persaudaraan antar pengusaha yang terlibat dari berbagai macam bidang, karena memang itu hal yang paling lemah di kalangan pengusaha muslim. (tim)

Profil Wanita Inspiratif, Dewi Yuniati Asih

POSTED ON June 30th  - POSTED IN Berita

JAKARTA, iibf-indonesia. Seorang wanita sebagaimana kodratnya dituntut untuk tampil cantik, sopan dan penuh kasih sayang. Akan tetapi wanita tidak melulu hanya mengurusi penampilan luar saja, banyak sekali wanita Indonesia yang malah justru bekerja keras dan mendedikasikan diri agar bisa bermanfaat bagi masyarakat. Mereka mencari jalan untuk mengaktualisasikan diri dan pada akhirnya bisa menginspirasi wanita-wanita lainnya untuk memberikan kontribusi positif bagi lingkungannya.

Begitu juga dengan yang dilakukan oleh Ibu Ir. H. Dewi Yuniati Asih yang menjadi sosok wanita inspiratif kali ini. Istri dari Presiden IIBF, Bapak Ir. H. Heppy Trenggono, M.Kom, ini mendedikasikan hidupnya untuk  mendampingi keluarga, berkarya dan melakukan berbagai kegiatan sosial. Sikapnya yang rendah hati tercermin dari tidak henti-hentinya berdoa dan selalu merasa bersyukur atas semua karunia Illahi yang dilimpahkan kepadanya.

Ibu dari Jihan Putri Antyesti, Apta Archie Inayasari, Hana Claresta Nadien, Jodie Bintang Mahardika sangat peduli dengan sesama. Selama 11 tahun ibu Dewi, panggilan akrabnya, selalu membagikan 300 nasi bungkus dan itu dilakukannya setiap hari. Simak lebih dalam profil wanita inspiratif ini melalui liputan yang disajikan Tabloid Wanita Indonesia edisi 1378 tanggal 30 Juni – 6 Juli 2016. (zyz)

————————————————————————————————————————–

Dewi Trenggono Bersyukur Berada dalam Gelombang Kebaikan

 

Setiap hari Dewi Trenggono membagikan 300 bungkus nasi lengkap dengan lauk serta minuman kepada orang yang lewat di depan rumahnya. Dan itu telah berlangsung 11 tahun. Apa yang ingin ia raih?

 

Setiap hari usai salat subuh di kediaman pasangan Dewi Trenggono dan Hepi Trenggono di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan telah menggeliat. Terutama orang-orang di bagian dapur yang berjumlah tujuh orang, punya kesibukan khusus di luar melayani sarapan pagi keluarga kecil Dewi.

Kesibukan semakin terasa saat memasuki bulan Ramadan. Usai makan sahur dan dilanjutkan salat subuh, mereka memilih tidak tidur lagi karena di dapur telah menanti pekerjaan menyiapkan menu makan malam serta takjil untuk berbuka .

Jumlah yang dimasak terbilang besar untuk ukuran keluarga kecil Dewi yang hanya terdiri suami, istri dan empat anak. Karena menu yang disiapkan layaknya orang yang mau menggelar syukuran saja, kisarannya untuk 300 orang.

Setelah  matang, makanan dibungkus dengan dipisah antara nasi, lauk pauk (hari itu tempe orek dan opor ayam dan sayur labu parut), air mineral serta tak lupa sebungkus kolak pisang campur ubi merah. Semuanya digabung dalam satu kantong plastik.

Untuk siapa paket makanan untuk berbuka ini? Pejalan kaki yang melintas di depan rumah Dewi. Jika masih ada sisa, makanan tersebut dibagikan ke daerah sekitar Mampang dan Buncit.

Pagi itu Dewi yang tengah bersiap berangkat kerja mampir sebentar ke dapur. Wanita yang masih terlihat cantik  meski putra-putrinya sudah menjelang remaja ini ingin memastikan makanan yang hari itu akan dibagikan tidak kurang dari 300 bungkus.

”Tadi saya masak nasi 30 liter Bu. Besok kalau nasinya kurang, berasnya saya tambahin. Hari ini cuma 30 liter karena ada yang bilang nasinya kebanyakan. Mungkin karena sudah ada kolak jadinya orang yang makan sudah merasa kenyang duluan,” terang seorang wanita paruh baya, salah satu pekerja di kediaman Dewi.

Dewi tampak manggut-manggut mendengar penjelasan asisten rumah tangganya itu. Kemudian ia meminta agar takaran nasi tidak dikurangi. ”Baik Mbok, nggak masalah. Cuma kalau bisa takaran nasinya seperti biasa saja. Supaya orang yang biasa makan satu bungkus berdua,  nggak kaget. Kasihan kalau mereka nggak kenyang,” ujarnya dengan suara lembut.

Sudah 11 Tahun

Usai mengontrol dapur, Dewi lantas berangkat ke kantor yang berada tak jauh dari kediamannya. Ia yang mengenakan blus pink fuschia dipadu kerudung abu-abu dengan motif bunga warna pink langsung menuju ruang kerjanya.

Di sela kesibukannya, Dewi berkisah tentang kebiasaan keluarganya membagikan makanan untuk pejalan kaki yang melitas di depan rumahnya. Kebiasaanya itu telah berlangsung sejak 11 tahun lalu.

Bermula dari ucapan sang suami yang ingin mengikuti jejak ibundanya. ”Ma, kalau ada orang lewat depan rumah, kasih makan dong. Seperti ibuku zaman dulu,” ujar Dewi menirukan permintaan suaminya tahun 2005 lalu.

”Nah saya pikir kasih makan itu artinya makanan matang terus dibagi-bagi. Saya manut saja apa kata suami. Saya pikir niatnya bagus ya sudah saya langsung bergerak. Begitu suami berangkat kerja, saya buru-buru pergi ke pasar, beli macam-macam. Mulai dari beras hinga lauk pauk. Terus saya minta tolong mbak memasak,” jelas Dewi.

Pertama kali menjalankan amanat suaminya, Dewi membagikan 10 bungkus makanan. Setiap menjelang makan siang, asisten rumah tangganya berdiri di depan pagar rumah sambil  menjulurkan nasi bungkus kepada pejalan kaki.

Namun reaksi orang yang ditawari ketika itu sungguh mengejutkan. Mayoritas melambaikan tangan sebagai tanda menolak.

Mendengar laporan itu, Dewi menyadari nasi bungkusnya tidak diminati. Ia lantas menyewa ojek untuk membagikan makanan tersebut ke tempat lain.

Bersyukur, dalam sekejap nasi bungkus pun ludes. Hal tersebut membuat Dewi termotivasi untuk menyiapkan nasi bungkus lebih banyak lagi.

Namun di antara kebahagiaan tersebut, Dewi sempat sedih mendengar tuduhan-tuduhan miring yang disampaikan orang kepercayaannya. Ada yang mengatakan aksi bagi makanan itu terkait dengan rencananya membuka restoran.

Namun yang lebih pahit. Ada segelintir orang menuduh bahwa nasi yang dibagikan adalah nasi basi. Lalu ada pula yang menyebut kegiatan tersebut  adalah ritual pesugihan karena Dewi memelihara tuyul.

Dewi berusaha tak menghiraukan beragam omongan negatif tersebut. Ia malah menambah jumlah nasi yang dibagikan, dari 25 menjadi 50, 100, 150 setiap hari. Selama Ramadan jumlah makanan naik 2 kali lipat jadi 300 bungkus.

”Alhamdulillah sekarang orang yang minta nasi kita sampai mengantri. Dari yang naik motor, jalan kaki, dari yang bajunya compang-camping sampai yang pakai perhiasan emas. Tapi saya pesan ke asisten, bagikan saja semua, nggak usah dibeda-bedakan. Kalau memang mereka butuh, kenapa nggak,” katanya.

Bukan tanpa alasan Dewi bersikap begitu. Ia meneladani sikap Rasulullah. ”Seperti  Rasulullah dulu, orang berada pun tetap dikasih. Jadi siapa pun yang datang saya kasih. Prinsip saya, jika yang menikmati nasi bungkus ternyata orang miskin, maka artinya saya bersedekah. Tapi jika orang kaya ikut antri , maka saya berbagi kegembiraan pada mereka. Bersedekah dan membuat senang sesama manusia itu adalah ibadah,” tuturnya.

 

Berdoa Agar Diberi Sifat Rendah Hati

Jika bagi sebagian orang aktivitas ini mungkin sangat menghabiskan waktu dan biaya,  Dewi tak berpikir demikian. Ia bersyukur di antara dirinya dan sang suami punya satu gelombang yang sama, yaitu sama-sama memiliki kepedulian terhadap orang lain.

Hidup di masa kecil yang penuh kesederhanaan dan keterbatasan, melatih Dewi menjadi sosok yang peduli. Perlakuan-perlakuan zalim dari orang lebih kaya yang sempat dirasakannya, tidak menumbuhkan dendam di hati Dewi.

”Kehidupan saya di masa kecil sedikit prihatin. Mau nonton video saja harus mengintip di jendela tetangga. Tapi baru juga menonton, sama pemilik rumah, jendelanya ditutup. Sedih rasanya waktu itu. Tapi dalam hati saya berucap, ‘Aku akan jadi orang kaya yang dermawan. Aku akan belikan Ibu dan Mami (nenek) video yang bagus, jadi aku tidak perlu mengintip dari jendela tentangga kalau mau nonton,” cerita Dewi, mengenang kisah hidupnya.

Kini ketika dia dan suaminya mereguk keberhasilan, Dewi senantiasa berdoa agar dikarunia sifat rendah hati, dermawan dan peduli terhadap kesulitan orang lain. Ditambah oleh sejumlah pengalaman spiritual yang dialaminya, ia merasa mantap untuk  mempertahankan kebiasaan berbagi.

”Tahun 2006 lalu saya pergi haji dengan suami. Saat itu saya sempat mengalami kelaparan selama seharian. Memang waktu itu kondisi berhaji begitu crowded, jalanan macet total, dari Muzdalifah ke Mina yang jaraknya begitu dekat harus ditempuh dalam waktu 15 jam. Pendistribusian makanan dari catering pun terhambat. Saking kelelahan sambil menahan lapar saya dan suami sampai tertidur pulas hingga beberapa jam. Tapi untungnya begitu, kami seolah ditidurkan oleh Allah sementara jamaah lain sempat ada yang ngomel-ngomel,” kisah Dewi.

Ternyata peristiwa tidak dapat makanan ini sejalan dengan aktivitas pembagian nasi bungkus  yang juga tengah dihentikan asisten rumah tangga Dewi di Tanah Air. Dewi  baru sadar ketika sudah kembali ke rumah. Waktu itu tak sengaja dia sempat tanya keadaan di rumah bagaimana selama dirinya tak  ada di rumah.

”Saya juga tanya pembagian nasi bungkusnya lancar nggak? Kata si Mbaknya, pas Idul Adha sempat cuti sehari. Wah saya langsung ingat kejadian pas nggak dapat makan di perjalanan Muzdalifah ke Mina itu. Pantasan sempat kelaparan,” tutur Dewi.

Dewi lantas teringat ketika menunaikan salat jamak Zuhur dan Asar di Tanah Suci. Kebetulan imamnya membaca surat Al Maun dan Al Lail. Setelah rombongannya selesai salat berjamaah, imam kelompok lain juga membaca Al Maun dan Al Lail.

”Beberapa waktu saya seperti berhubungan dengan dua surat ini. Puncaknya ketika saya  mimpi dimatikan dan berjumpa malaikat yang berpakaian serba putih. Saya diajak ke satu tempat yang sangat luas, lalu disuruh mengaji sekaligus membacakan arti dari surat Al Maun dan Al Lail. Sampai 3 kali saya baca dengan khusyuk. Ketika saya tanya ke guru pembimbing  apa makna dari semua kejadian itu. Beliau bilang artinya saya dikuatkan untuk tetap berbagi pada orang lain. Kenapa disuruh membaca dua surat itu, karena Al Lail itu kan artinya kebaikan akan kembali ke dirimu , keburukan akan kembali ke dirimu. Sementara Al Maun, pesannya memberi makan anak yatim dan fakir miskin,” ungkap Dewi.

Dewi tidak hanya berhenti pada pembagian nasi bungkus. Ia juga membagikan sembako sekaligus menggelar pengajian akbar tiap 1-2 bulan sekali.

Dewi juga mendirikan sekolah gratis, yaitu Madrasah Ibtidaiyah dan taman pendidikan Alquran  di kampung halamannya, Tasikmalaya. Selain itu ia memiliki ratusan anak asuh yang tersebar di sejumlah panti asuhan dan pesantren di Jawa Barat serta Jawa Tengah.

Selain fokus pada pendidikan, Dewi dan Hepi juga menyediakan ambulans lengkap dengan sopir serta bahan bakar yang siap dipakai untuk membawa pasien atau jenazah dari kalangan tidak mampu. ”Pihak keluarga nggak perlu kasih tip apa-apa ke sopirnya. Pernah ada kejadian sopir yang nakal, minta bayaran pada pihak keluarga. Solusinya kami ganti saja sopirnya,” ucapnya. *DM

sumber:

http://wanitaindonesia.co.id/index.php?view=viewarticle&id=16070016

 

Bu Dewi (Tabloid Wanita Indonesia) 1-2 Bu Dewi (Tabloid Wanita Indonesia) 2-2

Menjadi Orang Baik Saja Tidak Cukup

POSTED ON June 17th  - POSTED IN Berita

Kaliurang, Yogyakarta – Hidup adalah sebuah anugerah yang Allah berikan kepada kita, tentu bukan tanpa konsekuensi. “Permainan” ini akan menentukan bagaimana kehidupan kita kelak yang abadi di alam akherat, surga atau neraka. Sehingga sekedar menjalaninya saja bukanlah langkah strategis, tetapi harus mampu mengisinya dengan hal-hal yang bernilai menjadi bekal untuk kehidupan yang akan datang.

Sebagai manusia yang hidup dalam bermasyarakat tentu kita selalu bersinggungan dengan orang lain. Tidak jarang apa yang sahabat pejuang lakukan mendapat reaksi dan respon tidak seperti yang diharapkan. Selalu memikirkan apa kata orang lain menjadi salah satu penghalang menggapai kesuksesan.

Mengenal Banyak Guru, Tahu Mana Guru Yang Harus Diikuti

POSTED ON June 8th  - POSTED IN Berita

Yogyakarta – Mengenal banyak guru, tahu mana guru yang harus diikuti itulah point ke empat dari menjadi pembelajar terbaik yang presiden IIBF di Ambassador Camp Jateng & DIY. Masih ingatkan sahabat pejuang tentang kisah salah satu guru spiritual dari Ir. Heppy Trenggono? Sosok fenomenal kyai mufasir yang sering beliau ceritakan?

Diajak temannya yang seorang Imam Besar Masjid Tangerang, Ir. Heppy Trenggono menemui seorang kyai yang tinggal di daerah Banten. Kyai itu dikenal zuhud dan sangat di hormati karena sikap dan ajaranya, sekaligus sangat alim dan banyak orang belajar kepadanya. Namanya kyai mufassir.

Untuk Sukses, Pahami Hukum Perubahan

POSTED ON June 8th  - POSTED IN Berita

Kaliurang, Yogyakarta – Diantara sikap terbuka dan rendah hati dari seorang pembelajar adalah menyadari benar bahwa ilmu itu akan sampai ke kita secara sunnatullahnya melalui perantara yaitu pendidik atau guru. Hendaknya tidak dilihat dari fisiknya, umurnya, ataupun pendidikannya saja, karena hadirnya seorang guru yang baik sejatinya adalah rizki dari Allah SWT, jika kita ridho maka mudah- mudahan Allah pun akan ridho kepada kita.

Belajar Hingga Akhir Hayat

POSTED ON May 31st  - POSTED IN Berita

Kaliurang, Yogyakarta – Sebagai manifestasi rasa syukur terhadap anugerah akal fikiran yang Allah berikan, kita perlu merenungkan tentang makna kehidupan yang haqiqi. Mustahil seorang hamba mampu mengenali Tuhan penciptanya, ajaran Rasulnya, mengapa dirinya di ciptakan, apa yang harus dilakukan untuk mempersiapkan kehidupan yang sesungguhnya tanpa melalui proses pembelajaran.

Harus Tahu Kapan Mencari, Kapan Berhenti Mencari

POSTED ON May 31st  - POSTED IN Berita

Kaliurang, Yogyakarta – Semua orang menginginkan yang terbaik dalam hidupnya. Maka aspek ketiga dari menjadi pembelajar terbaik menurut Presiden IIBF Ir. Heppy Trenggono yang disampaikan dalam ambassador camp Jateng & DIY beberapa waktu yang lalu adalah harus tahu kapan mencari, kapan berhenti mencari. Mengapa demikian, karena sahabat pejuang ditantang juga menjadi guru, bukan menjadi santri abadi.