Bank Syariah Hanya Kedok Jualan?

  by

Tulisan ini adalah jawaban saya atas pertanyaan terkait banyaknya posting “dugaan” bahwa Bank Syariah hanya kedok jualan. Sebuah perspektif dari IIBF.

Seorang kyai di Banten, namanya kyai Muffasir adalah seorang ulama yang sangat unik. Tentang riba, jangankan menggunakannya bahkan menggunakan uang pun beliau hindari. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beliau menanam padi dan sayur sendiri agar tidak perlu bersentuhan dengan uang. “Standar saya, haram menggunakan Sarung Samarina!” kata beliau. Memakai baju yang berenda juga haram karena akan menarik lawan jenis menurut beliau.

Saya kagum luar biasa dengan kyai yang satu ini. Namun saya menyadari bahwa pilihan cara hidup beliau tidak mampu saya terapkan. Mungkin bagi saya sendiri bisa, tapi bagaimana dengan anak-anak saya?

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari cara hidup beliau, sebuah cara hidup dengan standar kehati-hatian yang sangat tinggi, cara memaknai bagaimana hidup sebagai seorang muslim yang bertakwa yang sesungguhnya, kebutuhannya pada dunia nyaris nol, konsep hidup yang barangkali hanya bisa dilakukan oleh beliau sendiri.

Bicara cara hidup kyai muffasir, kita patut bertanya apakah cara hidupnya salah? Pasti tidak. Tapi apakah kita harus mengikuti cara itu sebagai muslim? Jawabannya juga tidak! Kalau untuk masuk surga harus seperti kyai muffasir maka berapa banyak ulama hebat di dunia ini yang hidupnya juga tidak seperti beliau.

Nah, tentang standar kita dalam menghindari riba, apakah kita hijrah dari Bank Konvensional ke Bank Syariah atau sama sekali menghindari bank termasuk Bank Syariah, adalah sebuah pilihan. Sebuah standar yang kita terapkan untuk diri kita sendiri.

Namun menyatakan bahwa bank syariah itu hanya kedok untuk jualan menurut saya terlalu gegabah, cenderung menghakimi, dan akan berbahaya bagi perjuangan membantu agama kita sendiri.

Bank Muamalat misalnya, bank ini didirikan atas inisiatif para cendikiawan dan ulama di Indonesia yang tergabung dalam ICMI, semangatnya adalah membangun agama, memberikan jalan keluar agar umat tidak terjebak riba. Pemegang saham Muammalat salah satunya adalah IDB (Islamic Development Bank) yang banyak membantu proyek-proyek di negara berpenduduk mayoritas muslim. Di Muammalat juga ada SedCo, sebuah perusahaan yang saya kenal atas komitmennya membantu umat di mana 50% keuntungan proyek adalah pos sedekah. Bank Syariah juga diawasi oleh ulama-ulama sepuh MUI, yang barangkali ketika kita sibuk main WA mereka sibuk berdakwah.

Ulama besar mekkah Sayyid Muahammad Maliki Al Hasani mengatakan bahwa orang yang suka menyalahkan orang lain itu ilmunya masih dangkal.

Di IIBF saya menyampaikan bahwa riba itu haram! Riba tidak akan mengantarkan kalian sukses! Tapi ketika mereka bertanya apakah ini itu boleh atau tidak? Saya sarankan mereka menanyakannya kepada guru ngajinya sendiri-sendiri dan tidak perlu menghakimi muslim yang lain.

Tujuan kita sama, mencari redho Allah. Dengan ijtihad kita masing-masing, semoga Allah redho karenanya. Karena kebenaran hanya menjadi milikNYA.

Wallahu a’lam bisawwab.

Heppy Trenggono
Presiden Indonesian Islamic Business Forum