Belajar Hingga Akhir Hayat

  by

Kaliurang, Yogyakarta – Sebagai manifestasi rasa syukur terhadap anugerah akal fikiran yang Allah berikan, kita perlu merenungkan tentang makna kehidupan yang haqiqi. Mustahil seorang hamba mampu mengenali Tuhan penciptanya, ajaran Rasulnya, mengapa dirinya di ciptakan, apa yang harus dilakukan untuk mempersiapkan kehidupan yang sesungguhnya tanpa melalui proses pembelajaran.

Pengetahuan adalah kehidupan dan kemajuan. Adapun kebodohan adalah kematian  bagi seseorang, dimana ia tidak menyadari kematian yang membelenggunya, sampai akhirnya jasad-jasad mereka mati sebenarnya. Kaum arab quraisy sebelum datangnya risalah kenabian baginda rasul Muhammad SAW, kita kenal sebagai kaum jahiliah (zaman kebodohan). Bukan orangnya yang bodoh secara intelektual tetapi mereka bodoh dalam akidah/Ketuhanan dan prilaku, mereka menyembah patung latta, uzzah dan hubal.

Jadi mengapa kita harus belajar sampai akhir hayat? Karena kita ingin kehidupan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Dalam sebuah ayat Al-Qur’an dikatakan “ dan janganlah engkau turut apa-apa yang engkau tidak ada ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan ditanya,” (QS. Al Isra : 36). Artinya apa bahwa ilmu merupakan dasar dari segala tindakan manusia. Tanpa ilmu segala tindakan manusia menjadi tidak terarah, tidak benar dan tidak bertujuan. Sahabat Ali ibn Thalib berkata, ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikutnya. Ilmu memanggil perbuatan. Jika dia menjawabnya maka ilmu tetap bersamanya, namun jika tidak maka ilmu pergi darinya”.

Menurut KH. Hasyim Asyari inti dari dakwah adalah membuat orang lain menjadi lebih baik, membuat diri kita menjadi lebih baik, oleh sebab itulah yang namanya belajar tidak akan pernah berhenti.

Every leader is reader

Sering kita dengar istilah every leader is reader, semua pemimpin itu pembaca tetapi tidak semua pembaca itu pemimpin. Pertanyaannya adalah buku apa yang sebaiknya kita baca? Presiden IIBF menyarankan “ikutilah orang-orang yang diinginkan seperti mereka terjadi terhadap diri kita. Mengapa demikian? Karena sebagian besar buku hanya sampah. Pernah mendengar buku yang judulnya “sejarah Tuhan”? tidak usah dibaca, selain buang-buang waktu juga Tuhan tidak ada sejarahnya. Tidak semua perkara harus dilogika kan, karena dilain sisi disitulah porsi iman,  yang membedakan satu orang dengan yang lainnya di hadapan Allah SWT”.

Beliau nenambahkan bahkan buku populer pun belum tentu berkwalitas, sebut saja buku “the secret”, itu juga tidak perlu dibaca, apa bedanya menuhankan batu dengan menuhankan alam? Pikirkanlan dan alam akan memberikan apa yang kamu inginkan. Sangat membahayakan aqidah, sebab itulah di IIBF buku ini diharamkan.

Tugas semua pemimpin adalah membuat yang rumit menjadi sederhana. Sederhana tidak harus mudah. Sebelum mampu membuat yang rumit terlihat sederhana sesungguhnya kamu belum paham menurut Albert Einsten. Pemimpin menyederhanakan apa yang dibaca, bukan di bikin rumit.

Ilmu adalah pemimpin dan pembimbing amal perbuatan. Amal bisa lurus dan berkembang bila didasari ilmu. Berbuat tanpa didasari pengetahuan tidak ubahnya dengan berjalan bukan di jalan yang benar. Dalam semua aspek kehidupan manusia harus disertai dengan ilmu, baik itu yang berupa amal ibadah maupun amal perberbuatannya. Dalam perspektif bisnis, IIBF selalu mengatakan bahwa hanya menyampaikan ilmu-ilmu bisnis yang ada hujjahnya.

Terus bergerak, dengan ikhtiar, ketekunan dan keuletan di topang jiwa pantang menyerah dan di iringi lantunan doa-doa, yakinlah dunia bisa kita taklukkan dan bintang pun kita raih. ANS