Demi Kepentingan Bangsa, Kita Harus Berani Gelut!

  by

iibf-indonesia.com, Semarang – Di berbagai belahan dunia, banyak negara sudah melakukan penjanjian perdagangan bebas sebagai bagian dari globalisasi. Bahkan China pun terus mendorong agar tumbuhnya zona perdagangan bebas di kawasan-kawasan termasuk di Asia, terciptanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan rancangan perdagangan bebas benua Afrika menjadi bukti bahwa proses globalisasi terus berlangsung.

Di tengah arus globalisasi yang sangat deras, Indonesia tetap harus membangun ekonomi rakyat dan bangsanya. Tantangannya adalah bagaimana melihat dan mensikapi globalisasi dengan utuh dan cerdas. Globalisasi versus Nasionalisme ini yang menjadi kebingunangan bangsa kita hari ini, karena berfikir bahwa globalisasi harus ditelan mentah-mentah, seolah jika mengikuti globalisasi lantas harus meninggalkan nasionalisme. Kenyataannya globalisasi bukan untuk menghilangkan nasionalisme.

Politik ekonomi kita mengharuskan bahwa globalisasi harus menjadi peluang peningkatan ekonomi, bukan sebaliknya. Kejadian maraknya buruh asing, penyelundupan warga china/tiongkok, masuknya invetasi ke sektor rakyat, semua itu sangat berbahaya. Belajar dari china, maunya produk mereka keluar tapi tidak mau produk negara lain masuk, kalaupun bisa dipersulit dengan segala cara. China maunya impor bahan baku seperti batubara, bijih besi, CPO dan lain sebagainya dan melarang bahan baku dari negaranya keluar. Pesawat mana mau mereka beli, sedangkan Indonesia sebaliknya, lihatlah PMK No. 261/PMK/011/2010 yang mengatur bahwa bahan baku dikenakan bea masuk, barang jadi di nol-kan bea-nya. Belajar pula dari Inggris ketika Indonesia merasa tidak ada pilihan lain, di Inggris ada fenomena “Brexit” keluarnya Inggris dari komunitas ekonominya (UE) Uni Eropa.

Dengan dukungan kekuatan fundamental ekonominya, Inggris segera memberikan respon terhadap hal-hal yang dianggap melemahkan kedaulatan bangsanya termasuk keluar dari Uni Eropa (UE), bagaimana dengan bangsa Indonesia struktur ekonominya porak poranda, kekayaan alamnya dikuasi bangsa lain dan pasarnya yang besar hanya menjadi surga bagi produk bangsa lain?

Nah, ini semua terjadi karena juga banyak pemimpin yang mengkhianati kepentingan bangsa sendiri. Mereka menjual Indonesia, menggadaikan aset, melindungi dan menyuburkan kapitalisme dan mengabaikan ekonomi rakyat.

Dihadapan 700 kader yang datang dari berbagai penjuru tanah air dalam silatnas IIBF (29/7) di Hotel Grasia Semarang, Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF), Ir. Heppy Trenggono, mengingatkan bahwa di tengah gempuran globalisasi banyak hal yang bisa dilakukan. “Keluarnya Inggris dari uni eropa bisa kita gunakan sebagai pembelajaran terutama bagi Indonesia dalam menghadapi globalisasi” ungkapnya. Inggris keluar dari Uni Eropa lantaran tidak ingin menyerahkan kedaulatan bangsa dan negaranya kepada sekelompok kecil orang di WTO, karena harus diingat bahwa globalisasi juga menuntut pengurangan peran pemerintah dalam mengatur ekonomi, jika hal itu tidak terjadi di mana peran negara terhadap rakyatnya?

Pada kesempatan itu pula, Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) memaparkan ada “4 tanda bahaya besar bagi bangsa Indonesia” yang sedang terjadi dan harus menjadi perhatian serius. Pertama, merosotnya karakter. Kedua, Meluasnya kemiskinan. Ketiga, menjauhnya dari cita-cita kemerdekaan. Keempat, kembalinya dominasi Asing.

Sehingga membangun ekonomi rakyat dan bangsa di era globalisasi seperti ini, memerlukan kesadaran semua orang di berbagai lapisan masyarakat, kesadaran itu harus dibungkus dengan semangat nasionalisme, rasa cinta tanah air. Sebuah semangat yang mampu membatasi dan mengerem setiap pemikiran dan prilaku yang berpotensi merugikan kepentingan bangsa dan negara. Oleh sebab itu kita harus segera membangkitkan kesadaran. Kepentingan bangsa harus kita perjuangankan. Kesewenangan harus kita lawan. Gelut kalau perlu!.

“Ada satu spirit yang hilang dari bangsa Indonesi dan harus ditumbuhkan kembali layaknya merebut kemerdekaan jilid kedua ini, yaitu kemerdekaan ekonomi rakyat dan bangsanya. spirit berani gelut. Ketika melihat ketidak adilan terjadi pada rakyat dan bangsa Indonesia kita harus berani gelut! Itulah spirit perlawanan dari semarang, gelut!” seru Heppy Trenggono.

Ingin lestari berada di bawah dominasi asing yang masuk dengan berbagai cara atau menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur? Jawaban kita menentukan bagaimana nasib agama dan bangsa Indonesia ke depan. AnS

Save

Save