IIBF pertajam konsep pelatih bisnisnya

  by

Nah, untuk memperbaiki kultural dan struktural dalam dunia usaha di Indonesia yang dibutuhkan adalah tipe pelatih usaha yang juga ahli usaha bukan ahli bicara usaha dan kedua adalah pelatih usaha tidak mempersoalkan biaya atau tidak meminta upah. “carilah persahabatan diantara bisnis kalian, tetapi jangan mencari bisnis diantara persahabatan” itulah pesan presiden IIBF.

Oleh sebab itu IIBF melalui Direktur Kaderisasi dan Anggota, Ahmad Nursodik melakukan penajaman konsep bagi para pendamping bisnis di IIBF dengan mengukuh Foster, dimana para Vcoach yang ada kembali disaring melalui berbagai tahapan termasuk membuat studi kasus salah satunya hingga akhirnya dinyatakan lulus oleh Presiden IIBF.

Foster adalah sebuah predikat khusus yang disandang oleh kader IIBF yang memiliki kualifikasi dalam melakukan perbaikan bisnis dalam berbagai situasi. Foster mewakili IIBF dalam melakukan kegiatannya, karenanya Foster dapat mengakses seuruh resource yang dimiliki oleh IIBF. Kualifikasi seorang foster yang pertama adalah, memiliki pengetahuan ke-IIBF- an secara menyeluruh. Kedua, menunjukkan dedikasi dalam membangun umat dan bangsa. Ketiga, mengajukan teori yang bermanfaat dan teruji di lapangan melalui studi kasus yang diajukan. Keempat, dikukuhkan oleh President IIBF sebagai Foster untuk mewakili IIBF dalam membantu pengusaha dalam membangun bisnisnya. Dan keenam adalah Foster diperkuat dengan berbagai keahlian sesuai brevet yang
diterimanya.

5 Foster yang didkukuhkan presiden IIBF dalam silatnas 8 IIBF adalah sebagai berikut, Andri Budiono dengan judul discorse paper adalah “Leader Forum IIBF memberikan sumbangsih yang terukur dalam pergerakan ekonomi umat”. Jamhur Abdullah asal medan, dengan judul discorse paper “Pertumbuhan bisnis hanya bisa dilakukan jika kapasitas diri bertumbuh”. Darmawati Sudirman dengan judul discorse paper “Turn Around dapat dilakukan dengan hasil segera melalui strategi simplifikasi”. Andi Wibawa dengan discorse paper nya berjudul “Kepercayaan adalah layaknya tabungan, ketika hilang dibutuhkan kerja keras untuk mengisinya kembali”. Dan yang terakhir adalah Arsanto Adi Nugroho dengan judul discorse paper “Besar bukan berarti kuat, kecil belum tentu lemah”. ANS

 

1
2