IIBF pertajam konsep pelatih bisnisnya

  by

Karanganyar – Kehadiran Indonesian Islamic Business Forum (IIBF) tidak bisa dilepaskan dari purposenya yaitu ada untuk membangun pengusaha yang berbisnis layaknya pengusaha kelas dunia dan berprilaku sebagaimana muslim yang bertakwa. Tentu bukan kerja mudah, fakta umum pengusaha Indonesia yang tak bisa dielakkan adalah banyak pengusaha gulung tikar, bangkrut atau bahkan terlilit hutang. Padahal hari ini kita berapa pada kondisi dimana sedang mewabahnya entrepreneurship hingga program-proram pendampingan usaha.

Ini harus kita gali. Lakukan kajian mendalam. Mengapa aneka program entrepreneurship itu belum mampu menjawab persoalan utama dunia usaha kita. Pengusaha lokal sulit bersaing tidak sedikit yang berguguran, apalagi ikut memainkan peran strategis dikancah nasional, sangat sedikit.

IIBF sangat dikenal sebagai wadahnya bagi pengusaha yang ingin bangkit dari keterpurukan. Banyak kisah kebangkitan pengusaha yang terjerat dari bekapan hutangg nan menggunung bermunculan setiap hari. Tidak sedikit pengusaha yang menaruh harapan besar agar mendapat pendampingan secara langsung dari IIBF dalam mengembangkan usaha, menangani berbagai persoalan bisnis dan kehidupannya.

Dalam arahan sebelum pengukuran IIBF Foster dalam rangkaian Silatnas 8 IIBF di Tawangmangu beberapa waktu yang lalu ( 6/9) Presiden IIBF Ir. Heppy Trenggono menyampaikan kegundahannya bahwa ada satu program yang selalu difikirkannya selama bertahun-tahun, apakah program ini diperlukan apa tidak. Namanya adalah program coach. Kebangkitan selalu menjadi tema pembicaraan disini namun tidak hanya terjadi bagi individu-individu yang ada didalamnya tetapi juga memberikan imbas kebangkitan bagi keluarga, masyarakat, agama dan bangsa, harap nya.

Istilah “Coach” sendiri di Indonesia sudah “over use”. Sehingga untuk menyampaikan pesan utama seperti yang diharapkan, IIBF menambahkan kata voluntary didepan kata Coach menjadi Voluntary Coach kemudian di singkat menjadi Vcoach. Karena spiritnya utamanya adalah menolong tanpa berharap imbalan dari yang di tolong. Dari mana mereka hidup? Ya dari usahanya masing-masing, membantu saudara adalah bentuk pengambdian. Mengapa demikian karena mereka adalah pengusaha yang menjadi voluntary coach.

Sayangnya dalam perjalanan penambahan istilah Voluntary sepertinya masih belum tertangkap pesan utamanya, masih ditemui kegagalan pemahaman, adanya pengusaha putus asa menjadi indikatornya menurut Heppy Trenggono. “Pengusaha Putus Asa itu siapa sih? Adalah mereka yang karena susahnya berusaha meninggalkan dunia usaha lari kepanggung dan menjadi pelatih usaha”.

 

1
2