| Dalam IIBF Itu Ada Ajaran | ||||
|
![]()
Bandar Lampung 2/04/2012. Ulul Azmi, pengusaha bahan-bahan kimia dan transportasi itu berbicara dengan penuh semangat di depan para pengurus IIBF Lampung, Senin siang. “Saya ini sudah mengikuti hampir semua workshop, training dan kelas bisnis yang ada di Indonesia. Terakhir saya menerima tawaran untuk menjadi pengurus satu komunitas bisnis yang banyak diikuti di Indonesia. Namun kemarin siang jabatan itu saya letakkan dan saya menyatakan mengundurkan diri,” kata Ulul, panggilan lelaki berpenampilan sederhana itu. Ulul mengungkapkan kisahnya itu saat memberi pengantar dalam pertemuan IIBF Lampung dengan Pengurus IIBF Pusat. Menurut Ulul, dulu dia merasakan bisnis itu sangat berat dan selalu terlilit masalah. Hidup terasa sempit dan waktu tidak pernah lapang bahkan masalah itu semakin bertambah ketika memakai banyak kartu kredit mengikuti anjuran sebuah komunitas bisnis. “Saya berubah setelah mengikuti 3 kelas IIBF dimana Pak Heppy menjadi pembicara utamanya,” ungkap Ulul. Usai mengikuti workshop IIBF itu Ulul mulai merubah cara bermain. Kartu kreditnya satu persatu diselesaikan untuk tidak menggunakannya lagi. Hutangnya pun sedikit demi sedikit dapat diselesaikan, hidup menjadi lebih ringan, bisnis terasa semakin menarik dan membuat bersemangat. Ulul yang selalu tampil penuh humor itu, mengungkapkan rasa senangnya dengan kehadiran IIBF di Lampung. Menurutnya, IIBF ada di Lampung adalah keinginan dan tekadnya sejak dia pulang dari workshop pertama yang diikutinya di Jakarta pertengahan 2011 lalu.
Sementara Pengurus IIBF Pusat, Aswandi As’an dalam sambutan pengantarnya mengatakan bahwa IIBF itu bukan hanya sekedar komunitas bisnis tetapi adalah implementasi sebuah ajaran. “Maka orang IIBF berbisnisnya tidak asal-asalan, apalagi sampai melanggar ajaran. Karena ada satu yang kita yakini bahwa pelanggaran ajaran itu adalah langkah pertama menuju kehancuran, baik kehancuran bisnis ataupun kehancuran kehidupan sendiri dan orang lain,” kata Aswandi. IIBF sendiri lahir karena ada beberapa kondisi mikro dan makro yang terjadi di Indonesia. Mikronya, banyak pengusaha yang terjebak masalah karena cara bermainnya yang keliru. Bahkan ada pebisnis yang terkena hutang karena mengikuti kelas bisnis yang melibatkan bank dalam pembayaran training itu dan menjadikan dirinya sebagai penjamin. “Angka kejatuhan bisnis itu sangat tinggi di kalangan pengusaha-pengusaha kita,” jelas Aswandi. Makronya, ekonomi Indonesia sulit bertumbuh karena para pebisnis yang sangat sedikit, jauh dari jumlah minimal dari syarat sebuah negara maju, 2% dari jumlah penduduk. “IIBF kemudian membuat visinya mencetak satu juta pengusaha yang kuat pada tahun 2020,” tegasnya. Beberapa kondisi terakhir yang berkembang di tanah air, semakin mempertegas pentingnya kehadiran IIBF. Tawaran-tawaran opotunity kemudahan hadir dalam berbagai bentuk dan rupa. Mereka yang tergiur dan terjebak adalah mereka yang tidak memiliki pegangan nilai-nilai dan ajaran tentang bisnis yang baik dan benar. “Kalau kita punya ajaran dan pedoman berbisnis yang baik dan benar, maka dengan sangat mudah kita akan bisa membedakan antara bisnis, judi, spekulasi, renten atau riba,” tegas Aswandi. IIBF belum genap 3 tahun tetapi kehadirannya merubah konstalasi komunitas bisnis di Indonesia. Karena dalam IIBF itu ada ajaran tentang berbisnis yang baik dan benar. IIBF tidak hanya membangun diri para pebisnis tetapi juga untuk membangun bangsa.
Dalam pertemuan yang berlangsung di sebuah rumah makan di tengah kota Bandar Lampung itu lebih mirip sebagai suasana “up grading” non formal pengurus IIBF Lampung yang baru terbentuk. Pertanyaan tentang hal teknis keorganisasian dijelaskan oleh Edi Cahyanto dan Ahmad Nur Sodik. IIBF Lampung dimotori oleh para pebisnis muda dengan ketuanya Aljaz Hammar Abdullah, pebisnis muda yang bermain di jamur organik untuk pasar dalam negeri dan ekspor. Duduk di jajaran dewan Pembina adalah pebisnis senior seperti Ulul Azmi, Yossy dll. Pertemuan itu berakhir bakda Zuhur dan tim IIBF Pusat langsung meninggalkan Bandar Lampung menuju Liwa, Lampung Barat. (AA)
|
| Last Updated ( Sunday, 29 April 2012 13:16 ) |



