| IIBF Riau Deklarasikan “Beli Indonesia” | ||||
|
![]()
Pekanbaru, 29/05/2011, Minggu sore, Gedung Juang 45 yang terletak di jalan Jendral Sudirman Pekan Baru , Riau, ramai oleh para pengusaha, ulama dan mahasiswa. Di dalam gedung itu terbentang satu lembar spanduk 4 x 6 m yang bertuliskan “Beli Indonesia”. Ya.., dalam gedung itu sedang diselenggarakan deklarasi Gerakan Beli Indonesia Propinsi Riau yang dimotori oleh IIBF Wilayah Riau. “Sebelum ini kita sudah mensosialisasikan Beli Indonesia ke banyak kalangan baik door to door ataupun melalui media. Kita ingin mengajak masyarakat Riau untuk ikut serta dalam gerakan ini,” kata Ketua IIBF Wilayah Riau, Mukhlis Sofyan. Deklarasi ini menurut Mukhlis mengambil momen kehadiran Presiden IIBF, Heppy Trenggono yang datang ke Riau untuk melantik Pengurus IIBF Riau.
Deklarasi Beli Indonesia ini ditandai dengan penandatangan spanduk Beli Indonesia oleh Presiden IIBF, Heppy Trenggono yang diikuti oleh semua orang yang hadir dalam ruangan itu, antara lain Asri Nawas, SE, MM, Ketua Dewan Pembina IIBF Riau, Wakil Walikota Pekanbaru, Ayat Cahyadi dan sejumlah ustadz dan ulama dari beberapa organisasi Islam di Riau, serta mahasiswa yang berasal dari beberapa perguruan tinggi di Pekanbaru. Dalam orasinya, Heppy Trenggono mengingatkan kembali tentang mimpi Indonesia untuk menjadi negara yang menguasai teknologi tinggi ketika IPTN didirikan dan mulai memproduksi pesawat. “Ketika Indonesia dikenal sebagai negara produsen pesawat maka apapun yang diproduksi Indonesia akan dibeli oleh negara lain. Anak-anak kita yang bekerja di luar negeri akan dihargai tinggi karena mereka berasal dari sebuah negara yang memiliki kompetensi dalam teknologi,” kata Heppy. Namun semua mimpi itu harus dikubur dalam-dalam ketika IMF hadir dengan sejumlah bantuan yang diikuti berbagai agenda yang harus dilakukan oleh Indonesia. Salah satunya adalah menghentikan produksi pesawat oleh IPTN. Padahal saat itu, IPTN telah memiliki order lebih dari 120 unit CN 235 dari negara lain setelah mengikuti Paris Air Show 1993 di Paris, Francis. CN 235 yang paling canggih di kelasnya ketika itu adalah saingan terberat dari ATR 72 milik Francis. Direktur IMF yang meminta penghentian produksi peswat IPTN ketika itu adalah Michael Camdessus, seorang veteran yang berasal dari negara yang sama dimana ATR 72 diproduksi, Francis. “Hari ini kita telah menjadi konsumen terbesar untuk pesawat Boeing, dan 16 unit ATR 72 saat ini sudah terbang di langit Indonesia setelah maskapai penerbangan kita membeli pesawat itu,” ungkap Heppy. Dengan penduduk sebesar ini, kata Heppy Indonesia sangat diinginkan oleh negara lain, terutama jika menjadi konsumen. Sekaligus sangat ditakuti jika negara ini bangkit menjadi negara produsen. Namun keinginan negara lain untuk menjadikan Indonesia sebagai negara konsumen hari ini sudah tercapai, ketika Indonesia menjadi negara terkonsumtif nomor 2 di dunia. “Siapa nomor satunya? Nomor satunya adalah Singapura, dan ternyata yang belanja di Singapura itu 60% adalah orang Indonesia,” ungkap Heppy. Heppy menambahkan bahwa tidak ada negara kaya di dunia jika negara itu sangat konsumtif dan boros. Karena sampai hari ini kekayaan sebuah negara tetap diukur berdasarkan angka produksinya bukan konsumsinya. Konsumerisme Indonesia semakin lengkap dengan menjamurnya mall-mall dimana-mana dan matinya industri di berbagai kota. Jika kondisi ini terus berlangsung dimana Indonesia tidak bisa menaikkan angka produksinya maka akan terjadi masalah sosial yang berawal dari masalah ekonomi. Dan Beli Indonesia, kata Heppy adalah sebuah pembelaan dan upaya meraih kejayaan ekonomi Indonesia dengan cara merebut kembali pasar Indonesia yang telah dikuasai oleh asing. Indonesia tidak akan pernah berjaya selama yang berkuasa di Indonesia itu bukan orang Indonesia. Mengapa kita harus memiliki sikap pembelaan? Karena hari ini Indonesia tidak memiliki sesuatu yang jelas untuk dibela. “Jika martabat bangsa yang kita bela mengapa aparat kita yang sedang menjaga perairan ditangkap oleh negara lain kita biarkan. Mengapa TKW kita digunting bibirnya kita hanya ribut dua hari saja?” tanya Heppy. Heppy menambahkan Jika kejayaan ekonomi bangsa yang kita bela seharusnya kita tidak membeli pesawat negara lain yang belum berlisensi dan melupakan pesawat buatan bangsa sendiri yang jauh lebih baik. Beli Indonesia adalah perang semesta yang melibatkan semua rakyat untuk menghadapi perang terbuka yang bernama pasar bebas. “Orang lain boleh menerapkan strategi apapun untuk mempromosikan produknya, tapi keputusan ada di tangan kita untuk membeli,” kata Heppy berapi-api yang disambut tepuk tangan para hadirin. Usai acara Mukhlis Sofyan, Ketua IIBF Riau menjelaskan semua jajaran pengurus akan berkeliling ke kota-kota sekitar untuk mensosialisasikan gerakan ini. “Kita telah sampai ke Bengkulu dan Padang. Teman-teman Padang bahkan minta secepatnya untuk diadakan deklarasi ini,” kata Mukhlis. Selain itu menurut Mukhlis sebagian pengurus juga sedang mempersiapkan keberangkatan tim ke Solo untuk ikut serta dalam Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia tanggal 22-26 Juni 2011. “Insya Allah Allah meridhoi,” kata pengusaha muda ini. (AA) |
| Last Updated ( Wednesday, 01 June 2011 09:02 ) |



