Selamat datang di iibf-indonesia.com, silahkan register terlebih dahulu untuk mendapatkan berita dan artikel terbaru dari iibf, terima kasih.
Sunday, 19 May 2013
Memaknai 2 Tahun IIBF : 3 Hadiah Kepada Indonesia
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail


Mampang X, 23/09/2011. Dua tahun menjadi sangat lama dan bisa sangat singkat. Tergantung pada bagaimana kita memberi arti dalam rentang waktu itu. Waktu itu bisa juga sarat makna tetapi bisa juga sia-sia. Namun bagi seorang Ahmad Nur Sodik, 2 tahun lahirnya IIBF memiliki makna besar. Di depan jemaah Al-aqobah, Jum’at malam, mahasiswa semester akhir MIPA, Undip ini menyebut ada 3 hadiah kepada Indonesia dengan 2 tahun kelahiran IIBF.
 
Pertama, IIBF mencerdaskan bangsa. Pelajaran dan materi bisnis yang disampaikan dalam forum-forum IIBF bukanlah materi yang hanya sekedar ingin didengar oleh para pebisnis tetapi adalah materi yang harus didengar oleh seorang pebisnis untuk menjadi seorang pebisnis yang berkarater. “ Jika ada kelas yang mengajarkan bagaimana berhutang, bersiasat untuk tidak membayar hutang, menyuruh orang berhutang, maka IIBF justru mengajarkan bagaimana cara melunasi hutang. Bahkan Pak Heppy selalu menekankan bahwa hutang harus dibayar karena urusannya tidak hanya sebatas dunia hari ini saja tetapi juga akhirat,” jelas Sodik. Indikator bahwa workshop IIBF itu mencerdaskan dan benar-benar dibutuhkan oleh seorang pebisnis, menurut Sodik adalah banyaknya pengusaha-pengusaha senior yang ikut dalam kelas-kelas IIBF dan bergabung dalam organisasi ini. Tidak hanya pebisnis tetapi juga para akademisi dan intelektual kampus yang bergabung dengan IIBF. “Pengusaha seperti Pak Hasan Thoha di Semarang atau Kang Riza, Pemilik Sygma di Bandung tidak akan sembarangan mengikuti sebuah kelas bisnis. Karena mereka the real business player. Tetapi ternyata orang-orang ini mau ikut bergabung dalam IIBF,” kata Sodik yakin.
 
Kedua, membawa konsep dakwah yang diterima oleh seluruh kalangan dan organisasi. Ini dibuktikan dengan bergabungnya sejumlah pengusaha yang memiliki latar belakang berbeda. “Di IIBF kita akan bertemu dengan pengusaha dari NU, Muhammadyah, HTI, PKS, Wisata Hati, Salafi dan lain-lain. Bahkan saudara-saudara kita non muslim banyak yang ikut dalam kelas-kelas IIBF,” ungkap Sodik. Mengapa? Karena yang diajarkan dalam IIBF adalah prinsip-prinsip berbisnis yang selaras dengan fitroh manusia yang cenderung kepada nilai-nilai kebaikan, kebenaran dan keadilan. Dan ekonomi atau berbisnis itu memang menjadi sebuah sunnah atau jalan Rosul yang cenderung terabaikan. IIBF menghidupkannya kembali dan ternyata bahasa IIBF dapat diterima oleh semua kalangan. “Pak Heppy selalu mengatakan bahwa hidup itu sederhana dan tidak rumit tetapi manusialah yang membuatnya rumit termasuk dalam bisnis,” jelas Sodik.
 
Ketiga, Melahirkan gerakan pembangunan ekonomi dan karakter yang menggugah kesadaran bangsa. Belum genap 2 tahun usianya, tepatnya 1 tahun 8 bulan IIBF telah melahirkan Gerakan Beli Indonesia yang dikukuhkan dalam Kongres Kabangkitan Ekonomi Indonesia di Solo akhir Juni 2011. “Gerakan Beli Indonesia memang gerakan milik semua komponen bangsa dan IIBF adalah penggagas sekaligus penggerak utamanya bersama dengan komponen bangsa yang lain,” kisah Sodik. Sodik menuturkan bahwa hari ini ada kegelisahan kolektif bangsa ini tentang situasi yang terjadi. Seolah-olah tidak ada jalan keluar yang memberi harapan. IIBF menurut Sodik sangat mmudah mengidentifikasi masalah bangsa ini. “Pak Heppy selalu mengatakan kepada semua orang dalam berbagai kesempatan bahwa masalah pokok Indonesia hari ini adalah ekonomi dan karakter. Tidak hanya sekedar mengidentifikasi masalah saja , IIBF juga meyodorkan jalan keluar yang simple yang dapat dilakukan dengan mudah oleh siapa saja,” jelas Sodik. Jalan keluar yang dimaksud menurut Sodik adalah Gerakan Beli Indonesia itu sendiri. Beli Indonesia menurut Sodik adalah sebuah tema pembangunan karakter dan ekonomi bangsa.
 
IIBF yang didalam visinya mencetak 1 juta pengusaha tahun 2020, dalam kacamata Sodik juga harapan bagi kalangan muda yang ingin menjadi pengusaha. Karena IIBF juga memiliki program khusus untuk pebisnis pemula atau mereka yang ingin menjadi pengusaha. “One month entrepeneur yang dilakukan IIBF di Semarang dan di Bandung telah memunculkan banyak pengusaha baru. Karena di program itu orang tidak hanya dibekali tentang ilmu menjual atau money management tetapi semua hal yang dibutuhkan oleh seorang entrepreneur,” kata Sodik. Bahkan program ini dijadikan model oleh Pemkot Semarang untuk mendidik pengusaha pemula di wilayah itu. IIBF juga, lanjut Sodik telah memunculkan gerakan serupa yang menumbuhkan pengusaha dari segmen lain. “Di Bandung ada Kang Aos dan Kang Murjaya yang fokus membina pengusaha mikro dan kaum dhuafa’ melalui IBS nya,” ungkap Sodik. Kedua tokoh itu adalah anggota IIBF Jawa Barat yang membangun Islamic Business School yang anggotanya saat ini tersebar di beberapa wilayah di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
 
“Dua tahun itu ternyata adalah masa yang sarat makna jika kita melakukan banyak hal untuk ummat dan bangsa. Tetapi juga tidak banyak maknanya jika kita hanya memikirkan diri sendiri. Dan akan menjadi sia-sia jika kita tidak melakukan apa-apa. IIBF telah mengajarkan kepada kita bahwa usia singkat bukan halangan untuk melakukan hal-hal besar dalam hidup kita yang amat sebentar ini,” Sodik berujar di akhir presentasinya. (AA)
 
Last Updated ( Sunday, 29 April 2012 13:12 )