Selamat datang di iibf-indonesia.com, silahkan register terlebih dahulu untuk mendapatkan berita dan artikel terbaru dari iibf, terima kasih.
Friday, 24 May 2013
How To Be Debt Free Versi 5 Jam
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail


Semarang, 29/05/2012. Bagaimana jadinya sebuah workshop yang semestinya disampaikan selama 3 hari tetapi harus disampaikan dalam waktu 5 jam? Apakah bisa? Jawabnya, bisa! Karena itulah yang terjadi di aula Mesjid Agung Jawa Tengah, Semarang, Minggu siang. Di depan 1.000 lebih orang peserta, Presiden IIBf, Heppy Trenggono menyampaikan How to be debt free dari pukul 10.00 – 15.00 wib. “Seharusnya workshop ini disampaikan selama 3 hari tetapi hari ini harus kita selesaikan selama 5 jam. Pengalaman selama ini waktu 3 haripun masih tetap dikomplain oleh peserta,” kata Heppy dalam pengantarnya. Mengapa lama? Karena dalam setiap workshopnya Heppy memberi kesempatan seluas-luasnya kepada peserta untuk bertanya apa saja. Akibatnya pertanyaan yang muncul adalah kasus orang per orang. Namun satu kasus biasanya juga dialami oleh peserta yang lain. Sehingga terjadi saling tukar pengalaman antar peserta.
 
“Belajar itu tidak hanya sekedar ilmunya. Kalo hanya ilmu banyak dalam buku-buku yang beredar di toko-toko, tinggal bapak ibu baca sendiri. Tetapi lebih dari itu yang terpenting adalah hidayah,” jelas Heppy. Hidayah itu, menurut Heppy akan datang jika dalam proses belajar mengajar itu ada keridhoaan antara pemateri dan peserta. Banyak orang yang berubah di IIBF dan menemukan kehidupan di dalam bisnisnya bukan hanya karena ilmunya saja tetapi juga karena hidayah yang didapat. Maka meskipun hanya sedikit yang disampaikan tetapi jika hidayah masuk maka itu cukup untuk membuat hidup berubah. Masalah boleh saja belum selesai tetapi cara bermain berubah akan merubah hidup dan bisnis kita. How to be debt free, menjadi worskshop yang fleksibel karena workshop itu sebagian besar diambil dari “true story” perjalanan jatuh bangun Heppy Trenggono dalam menjalankan bisnisnya.
 
Workshop ini menjadi workshop paling banyak peminatnya. Dari perjalanan tim IIBF ke berbagai daerah di tanah air selama ini, persoalan utang menjadi masalah terbanyak yang dihadapi pengusaha. Sementara ruang untuk membicarakannya selama ini sangat terbatas. Karena utang seolah menjadi “aib” yang tak boleh dibuka di depan khalayak, padahal semua orang mengalaminya. Bahkan ada upaya manipulasi utang menjadi sejenis kekayaan yang membuat banyak pengusaha muda yang berlomba-lomba untuk besar-besaran utang. Padahal utang itu adalah ilusi kekayaan yang menyebabkan orang kehilangan kehidupan dan bisnisnya. Sehingga bisnis yang seharusnya menjadi mesin pencetak kekayaan berubah menjadi pencetak masalah.
 
How to be Debt Free adalah workshop yang membicarakan utang sampai ke akar-akarnya, hingga masuk ke dalam hal-hal yang tidak ingin didengar oleh para pengusaha. “Saya tidak akan menyampaikan hal-hal yang bapak ibu ingin dengar, tetapi saya akan menyampaikan hal-hal yang harus bapak ibu dengar,” tegas Heppy. Maka setelah mengikuti workshop ini banyak pengusaha yang tersentak dan menemukan penyebab jatuhnya bisnis selama ini karena utang. Kesalahan itu bisa karena salah waktu berutang, mengambil jenis utang yang buruk, debt addicted (kecanduan utang), bahkan pada hal mendasar tentang apa sesungguhnya utang itu sendiri. “Utang itu bukan hal yang tidak boleh dalam bisnis, boleh-boleh saja dan kita boleh berutang ketika utang itu menjadi leverage untuk bisnis kita. Namun bagi seorang pebisnis harus ada pemahaman utuh tentang hakekat utang itu,” tegas Heppy.
Workshop 5 jam di Semarang itu adalah dalam rangkaian Peluncuran “Gerakan Kebangkitan Ekonomi Ummat” yang diadakan para pengusaha Semarang dari berbagai komunitas. (AA)
 
Last Updated ( Friday, 11 May 2012 12:38 )