Selamat datang di iibf-indonesia.com, silahkan register terlebih dahulu untuk mendapatkan berita dan artikel terbaru dari iibf, terima kasih.
Thursday, 23 May 2013
Jika Itu Larangan, Tinggalkan!
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail


Palembang, 12/06/2012. Sepanjang perjalanan dari bandara Sultan Mahmud Badaruddin II ke kota Palembang, Ridwan bercerita banyak tentang adanya kebiasaan pengusaha yang ditemuinya. “Saya banyak menemukan adanya kebiasaan kawan-kawan untuk berlomba-lomba bersedekah. Mereka meyakini jika bersedekah itu akan membuat kekayaan kita berlipat,” kisah Ridwan. Sedekah itu, lanjut Ridwan semakin menjadi-jadi jika bisnis sedang bermasalah, dan uang-uang syubhat. Uang syubhat yang dimaksud adalah uang yang didapat dengan jalan yang masih disangsikan kehalalannya. Kisah itu disampaikan Ridwan kepada Aswandi As’an yang berkunjung ke Palembang, untuk pendirian IIBF Palembang.
 
Sedekah itu sangat dianjurkan, karena hadist-hadist dan ayat tentang bersedekah itu sangat banyak. Karena sedekah menjadi salah satu tanda ketakwaan kita kepada Allah SWT. “Saya pernah mendengar Pak Heppy mengatakan bahwa sedekah itu juga tidak bisa dilakukan dengan nafsu,” kata Aswandi menanggapi kisah Ridwan. Jika dasarnya nafsu bersedekah akan menjadi semacam transaksi bisnis dan bukan cara untuk mencapai derajat takwa. Sehingga ketika sudah bersedekah Rp. 10 juta berharap-harap cemas untuk memperoleh balasan Rp.100 juta atau Rp 700 juta dengan alasan ada ayat yang menjelaskan tentang itu. “Ayat itu adalah firman Allah kepada hambaNya dimana dia sangat berkuasa memberikan balasan kepada siapa yang dikehendakiNya, bukan menjadi dasar kita untuk menguji Dia. Dia yang menguji kita karena Dia yang paling tahu tentang apa-apa yang kita sembunyikan,” kata Aswandi mengutip ucapan Presiden IIBF.
 
Vidi Aristanto Balataw, pengusaha property dan agribisnis yang sedang menyetir, menyela dengan bercerita tentang bunga pinjaman uang. “Saya menjalankan bisnis tidak dengan pinjaman berbasis bunga karena proyek saya kerjakan dengan pembayaran bertahap dari pemilik. Situasi sekarang membuat kawan-kawan kita tidak bisa menghindari bunga, sehingga ada kawan-kawan kita yang mengatakan bunga itu tidak bermasalah jika persentasenya kecil,” kata Vidi. Vidi juga berkisah jika situasi membuat para pengusaha tidak lepas dari sistem bunga. Apalagi saat ini marak sekali tawaran-tawaran investasi yang menawarkan bunga tinggi kepada para investor. Sehingga kita dibuat bingung dan tak bisa lagi membedakan mana yang riba dan yang bukan.
 
Dalam ajaran Islam itu mengandung dua hal yang harus dilakukan manusia, Perintah dan Larangan. Jika itu perintah maka manusia harus menjalankannya sesuai dengan kesanggupannya. Sholat misalnya, wajibnya memang berdiri. Tetapi jika tidak kuasa berdiri lakukan dengan duduk, tidak kuasa duduk lakukan dengan berbaring. Tidak kuasa berbaring lakukan dengan isyarat, tidak bisa melakukan dengan isyarat lakukan dengan hati. Kalau sampai hatipun sudah tak kuasa lagi artinya orang itu sudah tidak harus sholat lagi karena dia memang sudah harus disholatkan. Tetapi jika itu larangan maka kita harus tinggalkan secara totalitas. Memang ada dharuroh tetapi tidak berlaku pada semua kasus. Itupun dengan syarat yang sangat ketat dan biasanya penjelasannya rigit. “Dalam IIBF, berbisnis tidak hanya untuk bisnis itu sendiri tetapi lebih penting dari itu adalah penerapan nilai untuk mencapai keridhoaanNya. Maka kita yakin bahwa bisnis yang tidak berbasis pada nilai yang diajarkan Allah dan RosulNya akan menghancurkan bisnis dan kehidupan,” Aswandi menimpali. Maka, ketika ada kasus tawaran bunga rendah untuk pinjaman atau bunga tinggi untuk investasi, tinggal dilihat itu riba atau bukan. Kalau Riba, maka jelas aturan mainnya, tinggalkan! Karena itu larangan. Bagaimana melihat itu riba atau bukan? Jika bunganya fixed maka itu riba.
 
Perbincangan terhenti ketika mobil panther hijau itu tiba di kampus Bina Husada tempat berlangsungnya pertemuan tim engine IIBF Palembang dengan IIBF Pusat. Pertengahan Juli menjelang Ramadhan, Palembang akan menggelar workshop How To Be Debt Free bersama Presiden IIBF,. H. Heppy Trenggono, sekaligus pembentukan IIBF Palembang. “Kita ini udah sering diminta untuk membina para entrepreneur tapi belum jalan-jalan karena wadahnya belum ada. Melihat situasi yang ada di Palembang dan sumsel secara umum, kehadiran IIBF menjadi penting dan mendesak,” kata koordinator acara itu, Ridwan. Usai pertemuan, acara berlangsung di sebuah warung empek-empek untuk menikmati makanan khas Palembang itu. (AA)
 
Last Updated ( Thursday, 21 June 2012 16:47 )