Selamat datang di iibf-indonesia.com, silahkan register terlebih dahulu untuk mendapatkan berita dan artikel terbaru dari iibf, terima kasih.
Sunday, 19 May 2013
IIBF Bengkulu, Sebuah Energi Baru
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail


Bengkulu, 03/05/2012. Tak berlebihan jika menyebut Bengkulu sebagai kawasan terpendam yang “kekuatan” belum banyak tergali. Propinsi yang berhadapan langsung dengan samudera Indonesia menyimpan potensi ekonomi yang tidak sedikit. Perlu banyak sentuhan para entrepreneur agar potensi itu menjadi kekayaan yang dapat menyejahterakan. Pasti entrepreneur yang dibutuhkan adalah entrepreneur pejuang yang berbisnis layaknya pebisnis kelas dunia dan berperilaku sebagai muslim yang bertakwa. Jika tidak entrepreneur pejuang, maka kekayaan alam tidak menjadi anugerah tetapi akan menjadi musibah bagi ummat manusia. Kerusakan ekonomi Indonesia saat ini juga banyak dilakukan oleh mereka yang menyebut dirinya pengusaha. Sebut saja kasus BLBI yang merugikan negara nyaris Rp.600 triliyun dilakukan oleh para pengusaha. Bencana di Lapindo yang menyebabkan ribuan orang kehilangan rumah, nafkah dan kehidupannya juga disebabkan oleh orang yang menyebut dirinya pengusaha. “Pengusaha yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah pengusaha yang pejuang, yang melakukan sesuatu tidak hanya untuk dirinya tetapi juga untuk orang lain sebagai pengabdiannya kepada Allah SWT,” kata Presiden IIBF di depan pengurus IIBF Bengkulu, Kamis siang.
 
Pengusaha yang berbisnis layaknya pemain kelas dunia adalah pebisnis yang menjalankan bisnisnya dengan skill dan ilmu bisnis bukan dengan nafsu dan uangnya. Sedangkan orang bertakwa pasti tidak menjalani kehidupan secara serampangan tetapi dengan prinsip dan nilai-nilai ketakwaan. “Yang kita bangun adalah karakter unggulnya,” tegas Heppy. Maka seorang pebisinis yang memiliki karakter unggul akan menjalani bisnis dengan kesabaran, kerja keras, yakin, istiqomah, tidak terburu-buru dan lain-lain. Dan membangun peradaban harus selalu dimulai dengan membangun karakter unggul orang-orang yang ada di dalamnya. Seperti yang sudah dilakukan oleh Rosulullah yang memulai dengan merubah karakter jahiliyah menjadi karakter karimah. Indonesia sulit membangun negeri karena hari ini meninggalkan pembangunan karakter bangsanya. Hampir semua komponen bangsa terutama para elit sudah terseret pada logika pembangunan merek. Maka kemanapun kita berjalan ke seluruh pelosok negeri yang banyak kita temui adalah foto-foto orang-orang yang ingin disebut sebagai tokoh.
 
“Perubahan itu tidak pernah sekali pukul, tetapi one inch at every moment, hanya satu inci per satu inci,” kata Heppy. Untuk melakukan perubahan di Bengkulu ini, kata Heppy mulailah dari yang kecil dan berfikirlah besar dan bertumbuhlah dengan cepat. Mengapa mulai dari yang kecil? Agar ongkos belajarnya bisa kita tanggung dan kita dapat memetik pelajaran dari perjalanan. Berfikir besar? Karena semua yang akan kita bangun bemula dari mimpi dan perubahan itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki mimpi besar. Bertumbuh cepat? Karena waktu kita sangat terbatas yang kita sendiri tidak pernah tahu di mana letak ujung waktu yang diberikan kepada kita.
 
Pertemuan Presiden IIBF dengan IIBF Bengkulu ini berlangsung di sekretariat IIBF Bengkulu Kamis siang dihadiri semua jajaran pengurus IIBF Bengkulu yang diketuai oleh Edwin Yanuarta. Edwin adalah seorang pengusaha muda yang bergerak di property. Dari pusat juga hadiri Sekjen IIBF, Aswandi As’an dan Ketua Bidang Pengembangan Ekonomi, Ahmad Nur Sodik. Pada bagian akhir pertemuan, Heppy Trenggono meminta agar IIBF Bengkulu dapat menjadi energi baru buat Bengkulu dan Indonesia secara keseluruhan.(AA)
 
Last Updated ( Friday, 11 May 2012 13:51 )