Friday, 19 December 2014
Berharap Bangsa Indonesia Sanggup Kelola Diri
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Apakah benar kita bangsa yang bodoh? Belum cukupkah bukti kemenangan pelajar dan mahasiswa Indonesia dalam lomba sains internasional? Mendekati akhir Ramadan lalu, Presiden IIBF (Indonesian Islamic Business Forum) Heppy Trenggono merilis buku bertajuk Menjadi Bangsa Pintar.

Buku ini berharap banyak tentang Indonesia sebagai bangsa besar, karena kekayaan alam bumi Nusantara yang demikian potensial.

Menurutnya, Sumber Daya Alam yang melimpah harus diimbangi dengan kualitas dan mentalitas SDM yang mumpuni. Menguasai Iptek, pendidikan unggul, semangat juang dan etos kerja yang kuat, kreativitas dan inovasi yang tidak pernah mati, kemandirian dan kepercayaan sebagai bangsa besar yang sanggup mengelola hidupnya sendiri.

Kepercayaan diri itu juga ditunjang dari kejayaan masa lalu, di saat Kerajaan Majapahit pernah memiliki pengaruh ekonomi dan politik secara luas dan kuat. Konon di masa silam, kekuasaan Majapahit mampu menjangkau hingga kawasan Filipina, Thailand, Myanmar, Singapura dan Malaysia. Perihal pemimpin bangsa juga disinggungnya, dari komitmen tinggi Patih Gajah Mada hingga inspirasi Bung Karno untuk dunia, melalui gagasan-gagas­an besar dan menjadi pemain yang memberikan warna pada percaturan internasional.

“Presiden Soekarno telah memulai pembentukan mental bangsa dengan konsep keman­dirian ekonomi, kemandirian politik dan kepribadian nasio­nal. Karena hal tersebut, berulang kali Presiden RI pertama itu meminta agar bangsa Indonesia tidak menjadi bangsa kuli, bangsa yang tidak punya kekuatan, tidak bisa memutuskan, serta tidak bisa merencanakan. Apa yang sudah dimulai oleh Bung Karno harus kita lanjutkan,” tulisnya.

“Formulasinya tentu tidak harus sama persis, tetapi se­ma­ngatnya harus tetap kita jaga, yaitu terwujud kemandirian sehingga kita mampu bersikap, berkreasi, berinovasi dalam rang­ka menyelesaikan masa­lah-masalah yang sedang di­ha­dapi. Selain itu, yang lebih pen­ting lagi kita memiliki ke­be­ranian memotong ling­kung­an yang tidak sehat, lingkung­an yang tidak memberikan ins­pirasi kebaikan, guna memberi solusi secara lebih tepat dan cepat terhadap segala masalah yang sedang kita hadapi,” lanjutnya di halaman 39.

Nasib Tragis

Di bagian lain pada bukunya ini, ia menyesali nasib tragis yang menimpa Bung Karno menjelang akhir hayatnya tanpa penghargaan yang layak. Demikian pula dengan nasib Bung Tomo sebagai ikon pejuang kemerdekaan yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional harus melalui pergulatan yang panjang. Perlakuan serupa dialamatkan kepada Perdana Menteri pertama NKRI, Muhammad Natsir. Konon, namanya yang sudah sekitar 40 tahun silam diaju­kan sebagai pahlawan nasional, tetapi baru pada tahun 2008 (bersama Bung Tomo) diakui.

Begitu juga dengan mantan Presiden BJ Habibie yang seakan tidak dihargai jasanya oleh bangsanya sendiri. Buku ini, diakui Heppy, mewakili keprihatinan terhadap berbagai persoalan kebangsaan. Namun, di dalamnya sekaligus menyuguhkan kunci-kunci sederhana bagi kebangkitan kembali Indonesia meraih kejayaannya. Ada 13 prinsip kunci yang diajukan Heppy untuk menjadi bangsa pintar. Kunci dan kiat yang sederhana akan tetapi menawarkan banyak inspirasi. (john js)


Sumber: Sinar Harapan | Sabtu, 26 September 2009

Last Updated ( Friday, 25 June 2010 19:47 )