Saturday, 25 October 2014
Perjalanan Umroh; Belajar Dari Rosulullah
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Mekkah, 9/3/2010
, Waktu di bandara King Abdul Aziz, Jeddah, sudah menjelang tengah malam ketika pesawat Garuda Boeing 747-400 mendarat. Dari 540 penumpang 34 diantaranya adalah rombongan IIBF yang akan melaksankan umroh bersama. Tim IIBF ini dipimpin langsung Presiden IIBF, Heppy Trenggono. Turun dari pesawat perjalanan dilanjutkan dengan bis menuju Madinah . Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam rombongan masuk Madinah menjelang fajar. Talbiah membahana di dalam bis sebagai jawaban panggilan Sang Khalik yang mengundang tamu-tamunya. Masuk waktu sholat Shubuh tim masih bisa bergabung dengan ribuan jemaah dari berbagai pelosok dunia untuk melaksanakan sholat Shubuh di mesjid Nabawi.

Hari pertama di Madinah memasuki waktu Dhuha tim engine IIBF mengunjungi Raudhoh (makam Rosulullah. Ziarah ini dipimpin dan dibimbing langsung oleh KH.Saadih AlBatawi, pengasuh majlis zikir Assamawat yang juga s mentor spiritual IIBF. Ziarah dimulai dengan melaksanakan sholat sunnah tahyatul masjid dan sholat Dhuha di dekat mimbar utama mesjid Nabawi. Perjalanan dilanjutkan dengan mendatangi makam Rasulullah yang terletak hanya beberapa meter saja di sebelah kiri mimbar. Masing-masing mengucapkan salam kepada Rosulullah. Kyai Saadih kemudian memerintahkan tim untuk menghadap kiblat untuk sholat 2 rokaat. Usai Sholat Kyai Saadih memberikan kultum tentang makna kunjungan itu. “Rosul kita makamnya hanya didampingi 2 orang sahabat terdekatnya, Abu Bakar dan Umar. Beliau tidak bersebelahan dengan makam istri, anak ataupun keluarganya. Artinya Rosul tidak mengajarkan nepotisme dalam menjalani hidup,” Kyai Saadih berujar singkat. Mengunjungi makam Rasul menurut Kiyai Saadih adalah adab kita bertamu dan memberitahu kehadiran kita kepada beliau bahwa kita sudah tiba di kota Madinah. Air mata rindu mengair deras di hadapan makam Rosul. “Ada rasa rindu yang luar biasa begitu melihat pintu makam yang bertulis Muhammad Raosulullah itu,” H. Iyus mengungkapkan perasaannya.

Perjalanan dilanjutkan ke makam Baqi’ yang berada di sisi kanan Mesjid Nabawi, tempat para pahlawan Islam dimakamkan. Makam ini hanya berupa hamparan tanah yang rata yang diagari tembok setinggi 4 meter seluas kira-kira 1,5 ha. Tidak ada tanda seperti makam pada umumnya. Usai memimpin doa di sisi pagar makam itu Kyai Saadih menjelaskan untuk selalu mengikuti jejak meniru sikap para pahlawan itu dalam menegakkan dan membela Islam.

Hari kedua ziarah dilanjutkan ke bukit Uhud. Yang terletak sekitar 5 km dari mesjid Nabawi. Uhud adalah bukit kecil yang terletak di tengah-tengah perbukitan besar. Tidak jauh dari bukit itu ada sebidang tanah datar yang menjadi makam 72 orang pahlawan Uhud. Islam mengalami kekalahan dalam perang itu dengan tewasnya 72 orang. Sementara pihak kafir Qurays meninggal 12 orang. “Uhud mengajarkan kepada kita tentang ketidaktaatan dan cinta dunia. 42 pemanah yang diminta Rosul untuk tetap berada di bukit itu tergoda untuk ikut mengambil Ghanimah (harta rampasan perang) yang ditinggalkan musuh yang kocar-kacir,” Kyai Saadih menjelaskan usai memimpin doa. Melihat pasukan pasukan pemanah turun dari bukit itu, Kholid bin Walid panglima Qurays saat itu memerintahkan pasukannya mengitari bukit dan mengambil posisi yang ditinggakan pemanah . Maka kemudian terjadilah serangan balik yang menyebabkan 72 syuhada’ gugur di kaki bukit Uhud itu. dari bukit Uhud perjalanan dilanjutkan melihat kebun-kebun kurma.

Madinah terkenal dengan tanahnya yang subur untuk kebun kurma. Pada masa Rosulullah jejak pasukan musuh bisa diidentifikasi dari biji kurma. Banyak kebun kurma yang di kota ini. Dan Tim IIBF berkunjung ke salah satu kebun kurma dimana penjaga kebun dan pedagang yang ada di tempat itu hampir semuanya orang Madura.

Malam harinya semua Tim diajak untuk sholat malam di Shuffah. Shuffah adalah pelataran di depan makam Rosul yang dulunya digunakan para sahabat yang hidup membujang dan tidak punya keluarga yang mengabdi pada keluarga Rosul. Abu Khurairoh adalah salah satu dari 13 shahabat yang dulunya menempati Shuffah itu (Ahlul Ashhuffah). Usai sholat dan berdoa dipimpin oleh Kyai Saadih semua anggota IIBF berikrar sebagai saudara yang saling membantu dan mendukung untuk melanjutkan perjuangan Rosulullah. Isak tangis haru mewarnai ikrar itu dan kemudian setiap diri larut dalam perenungan hingga azan Shubuh berkumandang.

Pukul 13.00 waktu Madinah semua anggota tim masuk ke dalam dengan mengenakan pakaian ihram. Perjalanan dilanjutkan menuju Mekkah selama 5 jam menuju Mekkah. Ustad Helmi Jatnika, pembimbing umroh sudah meminta supir bis bergerak menuju Mekkah. Keluar Madinah di Masjid Bir Ali niat Ihrom sudah diikrarkan dan semua hal-hal yang mengikat dalam ibadah itu sudah berlaku.

Dam Pertama

Dua jam perjalanan keluar dari Madinah, sebuah mobil pribadi memberi tanda kepada supir bis untuk segera menghentikan kendaraannya. Karena ternyata roda kanan belakang bis meletus. “Allah menunda perjalanan kita, begitu sampai di Baitullah kondisi sedang sepi ,“ Kyai Saadih mengibur. Supir bis hanya satu-satunya kru bis itu. Maka tak urung beberapa anggota tim ikut turun tangan membuka dan memasang ban. H.Andri Marjoni dengan gagah berani memegang kunci roda dan membuka satu-satu mur dan baut ban itu. Tanpa sadar tangannya belepotan terkena bekas minyak gemuk yang menempel di kunci ban itu. Sang istri kemudian menyodorkan tisu sebagai pembersih. Pak Joni kemudian langsung menyobek bungkusnya dan membersihkan tangannya. Baru tersadar setelah selesai ternyata tisu itu mengandung pewangi. “Kena Dam!” kata ustadz Helmy.

Tiba di Mekkah
Sambil menunggu ban selesai dipasang para anggota tim IIBF berfoto bersama dengan latar belakang bukit batu di sepanjang ruas jalan itu. Perjalanan dilanjutkan ketika matahari sudah terbenam. Tiba di Mekkah Almukarromah menjelang tengah malam dan langsung ke Baitullah untuk memulai prosesi umroh. Dibuka dengan sholat sunnat di depan Baitullah dilanjutkan dengan thowaf mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali. “Lihatlah Ka’bah itu. Rasakan kebesaranNya dengan menghayati setiap bacaan dalam sholat,” Kyai Saadih mengarahkan. “Dalam Ka’bah itu ada ajaran dan perjuangan Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail menegakkan agama tauhid”. Di depan Multazam semua anggota IIBF ditanya komitmen hidupnya. “Tanyakan pada diri sendiri, apa yang telah kamu perbuat dan apa yang akan kamu lakukan di sisa waktu hidup ini,” Kyai Saadih bertanya. “Komitmen tertinggi hidup ini adalah kita berikrar sebagai hamba Allah yang tunduk dan patuh terhadap perintah dan laranganNya,” lanjut Kyai Saadih. Usai berdoa rombongan menuju bukit Shafa dan Marwah untuk melaksanakan Sa’I . Setelah Sa’I dengan berlari kecil antara dua bukit itu dilanjutkan dengan Tahallul. “Belajarlah dari Ibunda Siti Hajar. Air yang dicarinya tidak ditemukan di kedua bukit itu tetapi justru di tumit Ismail. Ingat! Air itu keluar setelah Siti Hajar berusaha keras mencari di kedua bukit itu,” Kyai Saadih memberi pelajaran.

Mengunjungi beberapa tempat bersejarah di kota Mekkah adalah pengalaman yang tak terlupakan. Jabal Nur, Pemakaman Ma’la (tempat istri Rosulullah Khodijah Alkubro dimakamkan), dan lain-lain. Melihat alam Mekkah dan sekitarnya yang terdiri pasir dan bukit-bukit batu tidak terbayang beratnya perjuangan Rosulullah dulu. “Saat haji Wada’ Rosul berjalan kaki bersama 15 ribu kaum muslimin dari Madinah ke Mekkah selama 2 bulan,” ustad Helmy bercerita.

Hari Terakhir
Sebelum Zuhur, rombongan melakukan thawaf terakhir yang ditutup dengan ikrar dan doa di depan Multazam dibawah bimbingan Kiyai Saadih. “Ikrar ini adalah pernyataan kita sebagai hamba yang hanya tunduk dan patuh kepadaNya saja. Itulah tujuan akhir kita dari semua perjalanan hidup kita di dunia ini,” urai Kiyai Saadih. Tangis dan air mata larut dalam suasana haru yang tak terlukis dengan kata-kata. Menjelang Ashar rombongan bertolak menuju Jeddah…….(AA)

Last Updated ( Friday, 25 June 2010 19:46 )