Wednesday, 01 October 2014
Pengungsi dari Negeri Merdeka
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Jeddah, 9/3/2010
, Dua tubuh renta itu terbaring lemah. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut kedua perempuan tua itu. Hanya pandangan matanya yang kuyu yang menatap lemah pada semua orang yang mengunjungi dan melihatnya dengan iba. Sudah sebulan ini keduanya tidak kemana-mana hanya tergeletak diatas tikar lusuh yang tak sudah tidak jelas lagi warnanya.

Dengan kondisi seperti itu seharusnya kedua nenek itu baring diatas kasur empuk dikelilingi oleh anak cucu yang menjaganya. Namun nasib berkata lain. Keduanya terbaring di bawah jembatan layang di tengah deru mesin kendaraan dan debu jalanan di kawasan Kandara, Jeddah, Arab Saudi. Tidak ada sanak saudara yang merawat kedua nenek itu. Hanya beberapa perempuan muda yang juga terlantar di tempat itu bergantian melihat kedua nenek itu. “Dua minggu lalu masih ada seorang lagi yang sakit-sakitan seperti kedua nenek itu namun minggu lalu meninggal sebelum sempat pulang ke tanah air,” jelas Imah, seorang perempuan muda yang sedang menjaga nenek itu.

Selain kedua nenek itu ada juga beberapa balita yang tinggal di bawah jembatan layang itu bersama dengan 482 warga negara Indonesia lainnya. “Saya terpaksa tinggal bersama anak saya di sini karena bapaknya sudah di deportasi duluan,” kata perempuan yang menggendong bayi itu. Si ibu sendiri sedang menunggu kabar untuk dipulangkan. Namun setelah menunggu selama empat bulan belum juga ada kabar tentang pihak yang akan mengurus kepulangannya ke Indonesia. Pulang sendiri menurutnya tidak mungkin karena sama sekali sudah tidak punya biaya. Ditambah lagi dengan dokumen yang sudah expired dan selalu tertolak. “Kita baru diurus jika menyerahkan 1.500 real dulu. Darimana kita dapat uang sebanyak itu pak. Untuk makan sehari-hari saja kadang-kadang saya harus menumpang,” kata perempuan itu pasrah.

Mana rombongan yang lain pak? Mengapa hanya beberapa orang saja yang turun?” tanya Basri kepada kepada salah seorang anggota IIBF itu. Pertanyaan yang cukup beralasan karena Basri dan para TKI lainnya melihat bis rombongan IIBF yang terparkir tak jauh dari tempat itu. “Kami ini mau ke Bandara dan agak terburu-buru makanya para ibu-ibu tidak ikut turun,” kata H Diding anggota IIBF asal Bandung. Diding juga menjelaskan kekagetannya dengan pemandangan yang ada di bawah jembatan layang itu. Karena kabar angin tentang para TKI dan TKW yang terlantar di Arab Saudi itu bukan hanya isapan jempol.

Sampaikan ke ibu-ibu atau siapa saja yang ada di dalam bis itu rasa terima kasih kami karena sudah dijenguk. Bila waktu lagi ke sini tak perlu takut akan kecopetan atau diganggu. Kami ini semua orang baik-baik, pekerja keras yang ingin merubah nasib di negeri orang karena tak ada pekerjaan di negeri sendiri,” Basri berkata dengan mata berkaca-kaca. Menurut Basri dari 482 orang yang tinggal di bawah jembatan layang itu 80 persennya kaum perempuan. Itulah yang membuat mereka cukup kerepotan karena sering terjadi gangguan bahkan penculikan terhadap para perempuan itu.

"Di sini kami harus berjuang sendiri pak. Tidak hanya untuk makan tetapi harus berjibaku melindungi kaum perempuan disini. Kadang-kadang perkelahian kami dengan kelompok dari negara lain karena mereka mengganggu perempuan kita di sini,” Basri mengadu kepada Presiden IIBF, Heppy Trenggono.

Seolah takut keburu waktu para TKW itu berebut menceritakan tentang nasib yang dialaminya. “Di sini kita tidak tau mau mengadu kepada siapa pak?” kata perempuan muda sambil menghapus air matanya. “Bagaimana kami bisa menabung gaji kami tidak pernah dibayar….” Kata yang lain. “Kami hanya ingin pulang Pak!” seorang perempuan berwajah manis dengan iba. “Saya kabur karena tidak tahan disiksa Pak..” cerita perempuan setengah baya. Banyak lagi kisah-kisah memilukan yang dialami oleh para TKW ini.

Usai mendengar kisah para TKW itu Heppy Trenggono meminta para TKI ini untuk menunjuk seorang koordinator yang bertugas mendata para TKI itu. “Saudaraku semua.., kami turut bersimpati atas semua yang kalian alami. Sepenuhnya kami tahu bahwa kalian semua adalah pejuang dan bukan orang malas. Sungguh keadaan ini di luar dugaan kami. Kami tidak bisa berlama-lama karena kami harus segera ke bandara untuk pulang ke tanah air. Tapi saya minta kalian harus saling melindungi. Teruslah berdoa dan tetap bersabar dengan satu keyakinan pertolongan Allah akan segera tiba,” Heppy memberi semangat dan membesarkan hati.

Air mata mewarnai doa para TKI dengan anggota IIBF di ujung pertemuan di bawah jembatan layang itu. setelah menyerahkan bantuan sekedarnya Tim IIBF melambaikan tangan perpisahan. Bispun bergerak meninggalkan “penampungan” para TKi itu. Dari kejauhan jembatan layang itu seperti kampung para pengungsi dengan jemuran kain darurat dan pakaian yang bergelantungan. Melihat pemandangan itu tak ada yang percaya kalau para pengungsi berasal dari sebuah negeri kaya merdeka yang bernama Indonesia. (AA)

Last Updated ( Friday, 25 June 2010 19:46 )