Friday, 24 October 2014
Tempat Para Penghafal Al-Qur'an
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Hari sudah menjelang dinihari dan kabut tipis menggelayut di atas desa Sangu Banyu. Sangu Banyu adalah salah satu desa di kecamatan Bawang, Batang, Jawa Tengah yang berada di kaki gunung Perahu. Sebuah gunung yang memisahkan Dieng dengan wilayah Bawang. Heningnya suasana menyebabkan suara air di kali Lampir di pinggir desa terdengar sangat jelas. Sebagian besar penduduk desa itu terlelap tidur dalam balutan udara pegunungan yang dingin. Tidak demikian dengan penghuni pondok pesanteren Nashrul Huda. KH. Badruddin Aqil dan KH. Syaifuddin masih terjaga bersama para santrinya. Mereka sedang menunggu seorang tamu istimewa yang akan datang ke pesanteren itu. “Kira-kira seperempat jam lagi Pak Heppy datang,” Kyai Aqil berkata pada Kyai Munif.

Mercy ML 340 warna hitam masuk ke pekarangan dan berhenti di halaman mesjid pesantren itu yang disusul oleh Avanza hitam di belakangnya. “Assalamu’alikum, apa kabar semuanya?” Heppy menyapa Kyai Aqil dan santrinya begitu turun dari mobil. “Alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh,” santri menjawab serentak. Di aula para santri telah berkumpul menggelar penyambutan sederhana. “Sudah lama saya tidak ke sini dan saya sangat rindu dengan kalian semua,” Heppy berkata kepada para santri. “Kali ini saya datang bersama para pengurus IIBF, ada Pak Luluk, Mas Edi, Bang Aswandi, ustad Farid. Di sebelah sana itu Pak Bambang dan Mas Faris dari Semarang. Dan yang di sebelahnya itu Kang Nugie dari Bandung,” Heppy memperkenalkan rombongannya. Heppy kemudian menceritakan perjalanan singkatnya sebelum tiba di pesanteren ini.

Penghafal Alqur’an
Pesantren Nasrul Huda adalah pesanteren dengan santri sekitar 150 an orang. Pesanteren ini memiliki beberapa program pendidikan untuk warga desa antara lain 1. Kajian Thariqah Qadariyah Naqsabadiyah yang dilaksankan setiap 40 hari khusus untuk para orang tua. 2. Dalailul Khaoirot yang juga diadakan setiap 40 hari sekali. 3. Madin atau madrasah Diniyah untuk siswa kelas 3-6 SD setiap hari setelah Ashar. 4. Tafsir Jalalain yang dilaksanakan setiap seminggu sekali.

Selain mempelajari kitab kuning pesanteren ini juga membimbing santrinya untuk menjadi Hafizh atau Hafizhoh (penghafal) Alqur’an. Sejak berdiri tahun 1955, pesantren ini telah menghasilkan puluhan penghafal Alqur’an. Saat ini masih ada beberapa santri yang terus menekuni sebagai hafizh yang masih nyantri. Dengan tingkat hafalan yang beragam. Mulai dari 1 hingga 30 juz. Dan yang sudah mencapai tingkat hafalan bilghoib 30 juz ada empat orang santriwati. Keempatnya adalah Zainatun, Khomidah, Rodhiyah dan Zulaikho yang menghafal Alqur’an dengan kurun waktu yang berbeda antara 3,5 hingga 5 tahun. Metode menghafal yang diterapkan di pesanteren ini adalah yang mereka sebut dengan metode “menabung”. Yakni dengan menghafal sedikit-sedikit yang telah ditetapkan jumlah dan waktu yang harus ditempuh. “Metode menabung ini dengan menghafal 2,5 lembar setiap minggu,” Kyai Aqil menjelaskan. Setiap minggu hafalan itu dibacakan di depan Kyai dan santri lain untuk mengukur tingkat hafalannya. Dan setiap tahun pesanteren menggelar semaan Alqur’an untuk para santrinya dengan mengundang para alumni dan pesanteren dari daerah lain.

Menjaga Alqur’an dan Berbakti Kepada Orang Tua
Empat Hafizhoh yang masih nyantri di Nashrul Huda saat ini memiliki motivasi yang berbeda dalam menghafal Alqur’an. Zainatun dan Khomidah ingin menjadi Hafizhoh awalnya terdorong oleh Khafizhoh senior mereka. “Para Hafizhoh yang pernah saya lihat sangat menyenangkan baik pribadi maupun kehidupannya. Dan saya selalu berpikir ingin seperti mereka,” Zainatun bercerita. Motif yang sama juga diungkapkan Khomidah yang tertarik menjadi hafizhoh setelah melihat kehidupan para hafizhoh seniornya. “Sepertinya sangat menyenangkan menjadi hafizhoh seperti mereka,” katanya. Zainatun yang menghafal 30 juz dalam waktu 4 tahun ini mengatakan bahwa setiap hari harus membuka Alqur’an kecuali waktu sedang haid. Dalam keadaan normal dia selalu menjaga kesucian dengan wudhu’.

Menjaga kesucian ini seperti syarat mutlak yang harus dmiliki seorang penghafal Alqur’an. Rodhiyah mengakui hal serupa. Bahwa wudlu’ itu hal yang tak boleh dilewatkan karena setiap saat mereka akan membaca ayat-ayat Alqur’an. Berbeda dengan dua temannya yang menghafal Alqur’an karena tertarik dengan kehidupan hafizhoh seniornya, Rodhiyah mengaku dia ingin menjaga Alqur’an. “Saya sangat ingin menjadi seorang yang menjaga Alqur’an. Jalan yang saya pilih adalah dengan menjadi Hafizhoh,” katanya. Status atau sebutan sebagai Penjaga Alqur’an ini menurut Rodhiyah sangat menyenangkan dan memberinya kepuasan bathin yang tak ternilai.

Lain lagi dengan Zulaikho yang menghafal Alqur’an selama 5 tahun, menghafal Alqur’an pada awalanya karena dorongan orang tuanya. “Menjadi hafizhoh itu karena saya ingin berbakti kepada kedua orang tua saya. Mereka menginginkan saya sebagai seorang penghafal alqur’an. Namun ke sininya saya bukan karena itu lagi tetapi keinginan saya sendiri setelah saya merasakan banyak pengalanman bathin yang luar biasa selama proses menghafal Alqur’an” ungkap Zulaikho. Setelah mencapai predikat hafizh bilghoib 30 juz keempat hafizhoh terus memperlancar hafalan dengan tetap menjalani proses seperti biasanya. Membaca Alqur’an setiap saat terutama setiap habis sholat, sholat malam dan sholat-sholat sunnah yang lain, puasa sunat dan senantiasa berwudlu’.

Hanya untuk Mereka yang Bersih
Menghafal Alqur’an itu tidak seperti menghafal pelajaran lainnya. Tidak dengan cara menyimpan semua materi dalam otak kemudian membacanya dalam bentuk kalimat, tetapi seperti terletak di ujung lidah dan meluncur begitu saja. “Hafalan itu letaknya di sini,” kata kyai Aqil sambil menunjukkan ujung lidahnya. Menurut Kyai Aqil, hal ini memang sulit difahami bagi orang yang tidak menjalaninya. Karena Alqur’an bukanlah kitab biasa tetapi kitab yang langsung diturunkan Allah SWT sebagai petunjuk untuk manusia. Maka, bagi siapa yang sangsi dengan Alqur’an, Alqur’an menantang untuk membuat satu ayat saja yang serupa. Alqur’an juga mempersilahkan menghimpun pakar dan ahli bahasa terkemuka jika memang bisa membuat ayat yang sama. Ayat-ayat Alqur’an sesungguhnya formula atau rumus bagi manusia untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Keaslian kitab ini terjamin hingga hari kiamat karena Allah SWT memastikan hal itu. Salah satunya melalui para penghafal Alqur’an ini. “Kalau bukan karena mukjizat kitab ini (Alqur’an) rasanya mustahil seseorang untuk menghafal ayat-ayat yang demikian banyak,” Heppy berkomentar. Karena kemukjizatan dan kesuciannya maka Alqur’an hanya bisa dihafal oleh mereka yang selalu menjaga kebersihan diri dan hati. Tanpa hal ini sangat sulit untuk menjadi seorang hafizh.

Dari pengamatannya selama ini terhadap santrinya yang hafizh/ hafizhoh, Kyai Aqil menilai bahwa mereka yang akan menghafal Alqur’an akan diberi cobaan terlebih dulu berupa sakit dan rezeki yang berkurang. Namun itu hanya terjadi pada awal-awal perjalanan ketika memulai kegiatan menghafal setelah itu justru banyak hal-hal yang luar biasa yang terjadi. “Kalau dia seorang hafizhoh biasanya banyak yang datang untuk melamar,” kata Kyai Aqil terkekeh.

Selalu Minta Doa
Mengunjungi pesanteren ini sudah menjadi kegiatan rutin Heppy dan kini dia memiliki hubungan yang dekat dengan para santri. Mendengar kabar Heppy akan datang biasanya penghuni pesantern ini rela untuk tidak tidur menunggu sampai Heppy datang. Hubungan ini mulai terjalalin sejak tahun 2007 ketika Kyai Aqil, yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Heppy, meminta Heppy untuk menjadi salah satu Pembina pesantren ini. Dan sejak saat itu setiap kali pulang ke Bawang, Heppy selalu singgah di pesanteren ini. “Di sini ada nasi jagung dan begono yang membuat saya selalu kangen. Istimewa lagi air panas alami yang berada di bawah itu yang selalu saya ceritakan kepada kawan-kawan saya,” kata Heppy di depan para santri. Heppy juga mengatakan bahwa dirinya sering berkirim surat dengan para santri. Surat menyurat ini, kata Heppy tanpa sepengeatahuan Kyai Aqil. “Surat yang sering mereka kirim ke saya adalah surah Alfatihah, surat AlIkhlas dan surat-surat yang lain,” ungkap Heppy sambil tersenyum. Dan Heppy terbiasa meminta doa kepada para santri setiap kali akan pamit.

Jangan lupa untuk selalu doakan bapak ya?” katanya yang disambut anak-anak itu dengan anggukan. Pagi itu, Heppy dan rombongan bersiap-siap akan berangkat menuju Semarang. Di bawah tatapan mata dan lambaian tangan para santri dua buah mobil itu pelan-pelan bergarak dari halaman pesanteren itu. Di depan, gunung Perahu tampak berdiri kokoh dengan separoh badannya sudah mulai jelas seiring dengan sinar matahari pagi yang menyibak kabut di sekujur gunung itu. (AA)***

Last Updated ( Friday, 25 June 2010 19:38 )