IIBF disambut di Surabaya
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Surabaya, 7/6/2010. Jam dinding di ruang Borobudur, hotel Garden Palace menunjukkan pukul 19.42 WIB ketika Dr. Wito Haryadie, Spa, menyampaikan sambutan di depan ratusan pengusaha Jawa Timur dalam forum Sarasehan Bisnis malam itu. Dalam sambutannya Dr. Wito menceritakan perkenalannya dengan IIBF saat mengikuti workshop Business Rich Class di Solo sebulan sebelumnya. “Saat itu saya diajak seorang teman saya di Solo untuk mengikuti workshop itu. Dan sama sekali saya tidak tahu dengan IIBF sebelumnya. Nama Pak Heppy hanya saya kenal lewat internet melalui beberapa situs dan blog-blog pribadi. Namun setelah acara itu selesai saya bertekad untuk membawa IIBF ke Jawa Timur agar orang yang mengalami masalah seperti saya dapat mengambil manfaatnya dan dapat berjuang bersama gerakan ini”, kisah Dr. Wito. Dan sarasehan ini menurut Dr. Wito adalah langkah pertama untuk mengenalkan IIBF di Jawa Timur.

Hadir dalam sarasehan itu antara lain M. Taufik AB (PT. Nara Qualita Ahsana). M. taufik berkesempatan menyampaikan kata pembuka sarasehan sebagai seorang pengusaha senior. “Sebuah kebetulan lebih baik dari seribu janji. Dan malam ini adalah salah satu kebetulan itu yang mempertemukan saya dengan Pak Heppy dan IIBF”, ungkap Taufik. Hadir juga Mohammad Najib Bahasuan dari (PT. Behaestex) , Mohammad Najih (PT. Kelola Mina Laut), M. Shulton ( Paramitha Utama). Beberapa pengusaha dari Probolinggo, Banyuwangi, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan ikut hadir dalam sarasehan itu.

Pengenalan IIBF dibawakan oleh Sekjen IIBF, Aswandi As’an yang menceritakan tentang kelahiran IIBF yang by accident. ”Kisahnya bermula dari kehadiran seorang pengusaha pemula dari Semarang yang datang bersama keluarganya ke rumah Pak Heppy mengadukan kondisi perusahaannya yang sedang chaos”, papar Aswandi. Kisah pengusaha itu, kata Aswandi, kemudian berkembang yang membuat makin banyak orang yang datang mengadukan masalah perusahaan mereka. Maka untuk menjawab kebutuhan itu harus ada lembaga yang mejadi tempat belajar dan tempat dimana para pengusaha leluasa membicarakan masalahnya. “Nama IIBF sendiri diberikan oleh Joko Santoso, seorang seniman dan professional di harian Republika”, jelas Aswandi.

Presiden IIBF, Heppy Trenggono yang menjadi narasumber saasehan menyampaikan materi tentang “7 Danger Signals” dalam perusahaan. “Biasanya sebelum sebuah peristiwa terjadi akan didahului oleh sinyal-sinyal atau tanda-tanda. Badan kita mau sakit juga ada tandanya. Gunung mau meletus ada tandanya. Maka perusahaan kita sedang bermasalah juga ada tanda-tandanya. Dan tugas kita sebagai seorang entrepreneur adalah membaca tanda itu dan memberikan treatment yang tepat agar masalah serius tidak terjadi dalam perusahaan kita”, papar Heppy. Sarasehan ditutup dengan tanya jawab. Sejumlah penanya terpaksa tidak mendapat kesempatan karena waktu yang sudah larut. Namun kemudian Dr. Wito buru-buru meraih microfon dan memberitahu bahwa kelanjutan acara ini akan dilakukan dalam forum Business Rich Class, yang akan diadakan di Surabaya pertengah Juli 2010. (AA)

 

Last Updated ( Friday, 25 June 2010 19:32 )