Saturday, 25 October 2014
Sarasehan Bisnis di Arena Muktamar 1 Abad Muhammadyah
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Yogyakarta, 05/07/2010. Biasanya ruangan itu digunakan oleh mahasiswa Kedokteran UMY untuk mempresentasikan berbagai hasil penelitian mereka seputar ilmu kedokteran yang mereka tekuni. Tapi Senin malam, ruang Amphitheatre fakultas Kedokteran UMY dipenuhi oleh peserta sarasehan bisnis “Membangun Saudagar Muhammadiyah yang Kuat Menuju Kejayaan Bangsa”. Sarasehan ini merupakan bagian dari acara Muktamar  1 abad muhammadyah di Jogjakarta.   Sebagain besar peserta  adalah para pengusaha Muhammdyah yang menjadi peserta dan penggembira muktamar. 
 
Presiden IIBF, Ir. H. Heppy Trenggono, M.Komp, yang menjadi pembicara tunggal acara itu meminta Muhammadyah untuk mengatasi kejumudan ekonomi. ”Muhammadyah harus ambil bagian untuk membebaskan bangsa ini dari cengkraman penjajahan seperti 350 tahun lalu” tegas  Heppy.   Indonesia, lanjut Heppy, akan mengulangi sejarah kelam sebagai bangsa yang terjajah dalam bentuk lain, jika tidak ada tindakan cepat.   Menurut Heppy, Indonesia saat ini mengalami tiga kejumudan. Pertama, kejumudan spiritual  dengan merosotnya akhlakul karimah bangsa ini yang percaya pada keburukan dalam setiap tindakannya. Kedua, kejumudan leadership, yang ditandai dengan banyaknya pemimpin yang tidak memimpin untuk membangun bangsanya tetapi membangun dirinya sendiri. Ketiga kejumudan ekonomi, yang ditunjukkan dengan ketidakmampuan negara ini bersaing dengan negara yang jauh lebih kecil.
 
Dalam sessi tanya jawab, semua pertanyaan berisi tentang masalah pribadi yang dihadapi oleh para pengusaha dalam menjalankan bisnisnya. “Pak Heppy, saat ini saya masih makan dari hasil kerja saya lima tahun lalu. Dan saya tidak tahu dimana letak kesalahan saya berbisnis karena sudah berkali-kali saya berganti bisnis tetapi selalu gagal,” kisah seorang pengusaha asal Banjarnegara.   Menanggapi pertanyaan ini tak urung Heppy terpaksa harus bertanya tentang kondisi yang dihadapi pengusaha itu. “Kalau ada pola yang selalu berulang seperti yang bapak alami itu, artinya sebuah danger signal yang harus segera bapak cari tahu dimana letak kesalahannnya,” jelas Heppy. Heppy menyarankan agar yang bersangkutan banyak berhubungan dengan anggota IIBF yang pernah mengalami masalah yang sama. “Itulah salah satu alasan mengapa IIBF itu ada. Pengusaha-pengusaha kita yang mengalami masalah dapat mengetahui dan memecahkan masalahnya sendiri,” tegas Heppy.
 
Acara yang dipandu oleh Sekjen IIBF, Aswandi As’an ini berakhir pada pukul 23.10 WIB. Sebagain besar peserta merangsek turun mendekati Heppy dan tim IIBF untuk bertukar kartu nama, foto-foto dan bertanya lebih jauh tentang IIBF . (AA)
Last Updated ( Wednesday, 07 July 2010 16:13 )