Qiyamullail di PP Darul Istiqomah, Grobogan
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail

Grobogan, 23/08/2010, Tiga minibus meluncur dari Sekretariat IIBF Jawa Tengah di Jl. Simongan no. 69, Semarang. Perjalanan menuju timur ke arah kabupaten Grobogan. Pukul 02.20 wib rombongan tiba di PP Darul Istiqomah di desa Sambung, kecamatan Godong, kabupaten Grobogan.  Pondok itu terdapat tiga bangunan utama dan sebuah mesjid yang terletak di tengah-tengah. Suasana masih cukup sepi  hanya suara kodok yang meningkahi hujan rintik yang ramai terdengar. Pengasuh pesanteren itu, KH Machzun Ali sudah berdiri didampingi beberapa ustadz menyambut rombongan. “Assalamu’alaikum, Pak Heppy ... apa kabar?” Kiyai itu mendahului memberi salam begitu Heppy Trenggono  keluar dari mobil. “Alaikum salam, Kyai …, alhamdulilah!” jawab Heppy sambil  menjabat tangan lelaki berjenggot itu.  Kiyai paroh baya itu  sangat bersahaja dengan mengenakan baju koko putih dan kain sarung serta peci yang menutup kepalanya.  
 
Pesanteren ini memiliki 80-an santri yang semua berlatar belakang keluarga tidak mampu. “Kita ingin membuat pesantren ini mandiri dengan mengembangkan entrepreneurship sebagai mata pelajaran wajib,” kata Kyai Machzun. Pesanteren sendiri sudah memasarkan sejumlah produk beberapa pengusaha mitra pesanteren ini. Untuk air minum misalnya pesanteren ini menjadi distributor air minum SONNA milik pengusaha Dina dan suaminya Marsono asal Semarang. Di lahan kosong di sekitar pesanteren sudah ditanamai pohon jati emas dan beberapa tanaman lain yang semuanya akan mejadi sumber income pesanteren itu. Untuk mendekatkan para santri dengan dunia usaha, pesanteren ini menjalin hubungan dengan beberapa pebisnis yang berasal dari Semarang. Kedatangan rombongan IIBF ke pesanteren inipun adalah hasil komunikasi pihak pesanteren melalui salah seorang anggota IIBF Semarang.
 
Menjelang pk. 03. 00 Tim IIBF bersama keluarga besar pesanteren sudah bersiap-siap untuk sahur bersama di mesjid. Semua sudah duduk berjejer rapi dengan makanan yang telah terhidang di hadapan masing-masing. “Anak-anak sekalian, sahur kali ini kita kedatangan tamu istimewa yang akan berbagi ilmu dengan pengalaman dengan kalian semua. Di samping saya ini adalah Bapak Heppy Trenggono, orang yang selama ini telah kita dengar namanya dari pengusaha-pengusaha yang pernah datang ke pondok ini. Ternyata orangnya sederhana saja  dan saya sempat kaget tadi pas lihat beliau turun dari mobil tadi,” Kyai Machzun memperkenalkan ke Heppy kepada para santrinya. Lalu kemudian mempersilahkan Heppy untuk berbicara.
 
“Siapa yang mau jadi orang kaya?” Heppy membuka dialog sambil meminta para santri mengangkat tangan. Tiba-tiba semua santri mengangkat tangannya. “Luar biasa. Ini jarang terjadi di tempat lain dengan anak-anak seusia kalian,” kata Heppy takjub.  Dalam sambutan singkatnya Heppy memberi semangat dengan menceritakan pengalaman dan latar belakangnya yang juga berasal dari desa dan sudah ditinggal ibunya ketika dia baru duduk di kelas tiga SD. Heppy juga meyakinkan bahwa Indonesia membutuhkan banyak pengusaha yang muncul dari pesantren yang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sebab kalau tidak berdasarkan iman dan takwa pengusaha akan menjadi beban negara dengan melimpahkan resiko bisnisnya kepada negara.
 
Pukul 03:30 wib, suasana senyap dan hanya terdengar suara sendok beradu dengan piring. Wajah-wajah bersahaja itu makan sahur dengan lahap. “Senang sekali melihat mereka makan dengan lahap,” bisik Shofwan Aji  kepada Sodik yang duduk di sebelahnya. “Iya, dan kata Pak Heppy dengan cara beginilah yang membuat hati kita lebih hidup,” jawab Sodik tanpa menoleh sambil mengunyah. 
 
Usai sholat Shubuh Kyai Machzun masih meminta Coach Bambang Nugroho menyampaikan motivasi kepada santrinya. Dengan gaya khasnya Bambang membuat santri  tertawa dan tidak mengantuk. Lalu kemudian ditutup dengan sambutan penutup dari Heppy Trenggono. “Allah itu menunggu apa yang benar-benar kita inginkan. Apa yang kita inginkan itu tergambar dari apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan dan apa yang kita perbuat,” pungkas Heppy.   Sebelum pulang, rombongan membagikan oleh-oleh berupa sarung kepada Kyai, ustadz dan para santri.
 
Langit di ufuk timur sudah terang pertanda siang segara datang mengganti malam. Kyai Machzun berdiri sambil melambaikan tangan.  Di bawah hujan rintik tiga minibus itu bergerak meninggalkan pesanteren Darul Istiqomah itu menuju ke arah Semarang. (AA)
 
Last Updated ( Thursday, 26 August 2010 10:33 )