Thursday, 18 September 2014
Tukang Cuci Itu Menjadi Bapak Anak Yatim
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail

Banten, 30/08/2010. Lelaki paruh baya itu membawa pulang anak yatim asuhannya dari rumah sakit setelah dokter memvonis patah tulang belakang anak usia 5 tahun itu tidak bisa disembuhkan dengan cepat dan biaya murah. Jangankan untuk biaya berobat untuk makan dan sekolah 194 anak yatim  asuhannya, lelaki itu sering kesulitan. Dengan penuh kasih sayang anak itu dibaringkan di atas kasur tipis  di ruang  tengah rumah yatim itu. Anak itu mengalami patah tulang setelah terjatuh saat memanjat pohon bersama teman-temannya.   Lelaki itu pasrah dan hanya berdoa kepada Sang Pencipta untuk memberi kesembuhan pada anak asuhnya itu. Sepanjang malam dia berdoa menangis di hadapan Sang Khaliq. Ajaibnya, keesokan harinya, anak itu bangun dari tidurnya dan beranjak dari pembaringan dan langsung berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.
 
Kisah ini hanya satu dari banyak peristiwa yang dialami Hamid Ali selama  mengasuh anak yatim. Hamid bukanlah orang kaya atau orang yang berkecukupan.  Dia hanyalah seorang tukang cuci yang tinggal di kampung Sukadana, Kelurahan Kasemen, Serang, Banten. Yang membedakan laki-laki paruh baya ini adalah dia menjadi pengasuh 194 anak yatim di rumahnya  yang sederhana. Rumah itu jauh dari layak. Berada di pinggir kali dengan jalan yang tak diaspal. Musim panas jalan itu berubah menjadi lautan debu. Musim hujan berubah menjadi kubangan lumpur. Hamid tidak pernah menolak anak atau bayi yang dititipkan kepadanya. “Pernah   suatu ketika ada delapan bayi datang sekaligus. Saya bingung untuk memberi  makan apa. Susu tidak ada. Uangpun waktu itu sudah habis  karena sudah dibelikan bahan makanan untuk yang besar-besar,” Hamid bercerita kepada Heppy Trenggono, Presiden IIBF. Tepat tengah   malam, kata Hamid, kedelapan bayi itu terbangun dengan posisi mulut seperti meminum sesuatu. “Subhanallah...,” kata Heppy pelan.
 
Hamid mengurus sendiri anak-anak itu dengan uang hasil keringatnya dari upah mencuci. Dia dibantu oleh beberapa anak yang sudah besar untuk memasak dan mengurus yang lain yang masih kecil. Tidak pernah meminta atau mengedarkan proposal bantuan. Termasuk biaya pendidikan anak-anak itu. Padahal beberapa anak sudah duduk di bangku SMU dan ada juga yang sudah kuliah. “Saya tidak mau minta keringanan kepada pihak sekolah untuk biaya anak-anak saya. Karena semua orang sudah tahu dengan keadaan di sini,” ungkap Hamid. Terus bagaimana caranya kalau sedang mengalami kesulitan untuk makan dan baiaya yang lain-lain. “Saya minta langsung kepada Allah,” jawab Hamid yakin. Dengan setengah berbisik Hamid berkata,”Kedatangan Bapak ke sini bertemu dengan anak-anak malam ini adalah cara Allah menjawab doa anak-anak ini.” Heppy mengangguk pelan.  
 
Pertemuan Heppy dengan Hamid malam itu adalah pertemuan yang ke sekian kalinya. Awal 2009 lalu Heppy mendengar kisah Husein Taha, salah seorang karyawannya tentang Hamid dengan anak-anak yatimnya itu. Heppy langsung mengajak istrinya untuk menjenguk anak-anak yatim itu. Dua jam perjalanan dari Jakarta untuk sampai ke tempat Hamid dan anak-anak asuhnya. Dan malam itu Hamid sedang gelisah memikirkan tunggakan biaya sekolah anak-anak asuhnya. Di depan Heppy, Hamid memuji Allah dengan berurai air mata karena  telah mempertemukannya dengan pengusaha muda itu. Hingga gelisahnya terjawab yang juga menentramkan para anak yatim itu untuk sekolah.
 
Senin malam, Heppy bertandang ke tempat itu bersama kakaknya, Rima Melati, pengurus IIBF Pusat dan beberapa karyawannya. Tujuannya untuk menghibur anak-anak itu menjalani puasa dan menghadapi lebaran.  Selama satu jam Heppy bercengkrama dengan anak-anak itu. “Kalian semua ini membuat saya rindu untuk selalu bertemu. Tidak perlu sedih dan khawatir karena kalian memiliki seorang bapak yang sangat menyayangi kalian semua. Rosul kita dulu juga terlahir sebagai anak yatim. Tetapi kemudian beliau menjadi seorang pemimpin yang membawa perubahan besar di dunia ini. Dan kalian semua akan menjadi orang-orang yang akan merubah wajah Indonesia ke depan,”  Heppy menyemangati. Pertemuan selama satu jam itu cukup membuat anak-anak gembira. Karena lebaran nanti mereka akan merayakannya sama dengan anak-anak lain dengan baju barunya. 
 
Pukul 23.40 WIB Heppy dan rombongannya bergerak pulang diantar oleh Hamid dan anak-anak asuhnya. Mercy ML 350 warna hitam dan Toyota vellfire hitam serta sebuah Suzuki APV   menyusuri jalan bergelombang di sisi kali itu. “Pak Hamid adalah contoh orang yang telah menemukan clarity di dalam hidupnya. Orang yang sudah lulus dalam self mastery. Bahkan dia rela ditinggal keluarganya karena pilihan hidupnya untuk mengurus anak-anak yatim itu. Dan sekali lagi kita dipertemukan dengan orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk Allah,” Heppy bercerita kepada Aswandi As’an dan Edy Cahyanto yang di kursi belakang. Mobil terus meluncur menembus malam. Malam itu adalah malam ke-21 Ramadhan 1431 H. (AA)
 
Last Updated ( Tuesday, 31 August 2010 15:03 )