Saturday, 25 October 2014
Sinergi TDA dengan IIBF
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail

Jakarta, 12/10/2010. Enam orang  Pengurus  Komunitas Tangan Di Atas (TDA), Selasa siang bertandang ke kantor pusat IIBF di Mampang, Jakarta Selatan. Tim ini dipimpin oleh H. Nuzli  Arismal atau yang dikenal dengan H. Alay, Pembina Komunitas TDA. Ikut serta dalam rombongan pendiri TDA, Badroni Yuzirman. Pertemuan berlangsung di ruang kerja Presiden IIBF dari pukul 16.00 wib dan berakhir pukul 20.30 wib.
 
“Terima kasih sudah datang ke sini. Bagi saya ini adalah sebuah kemuliaan dikunjungi orang-orang shaleh yang telah banyak menginspirasi orang lain,” Presiden IIBF, Heppy Trenggono menyapa sekaligus  membuka pembicaraan. Heppy  didampingi Sekjen IIBF, Aswandi As’an dan Direktur Program, Edi Cahyanto. H. Alay  yang  duduk di sofa sebelahnya menyambut dengan menceritakan tentang rencana dia dan timnya untuk bersilaturrahmi. “Sebenarnya kita ingin datang ke sini dua hari lalu. Tapi kita mendengar Pak Heppy masih di luar negeri,” kata H. Alay. Lalu H. Alay bercerita tentang awal berdirinya TDA dan filosofi berdirinya komunitas itu. “Dari rukun Islam yang lima itu, empat diantaranya menyiratkan bahwa orang Islam itu harus kaya, Pak Heppy. Dan ayat-ayat tentang keimanan dan ketaqwaan selalu diikuti dengan perintah  bahwa kita harus banyak memberi,” kata H. Alay.  
 
Menyambung cerita Pembina TDA itu, Heppy Trenggono menceritakan tentang IIBF. “IIBF adalah gerakan untuk membangun umat dan bangsa dengan cara mencetak pengusaha yang berbisnis layaknya pebisnis kelas dunia dan berperilaku seperti seorang muslim yang bertakwa,” jelas Heppy. Heppy kemudian memaparkan program IIBF mulai dari Pengajian Bisnis, Workshop, membuka pasar di luar negeri dan lain-lain. Setelah itu dilanjutkan dengan pemaparan IIBF coaching model . ”Akhir dari proses coaching ini adalah strong leader dengan menyentuh tiga aspek, spiriualitas, leadership dan entrepreneurship. Maka sebelum kita menyentuh bisnisnya yang kita perbaiki adalah diri si pebisnisnya,” kata Heppy.
 
“Bagaimana caranya untuk menjadi anggota IIBF, Pak?” Roni Yuzirman menyela. “Mudah Mas Roni, cukup dengan ikut kegiatan IIBF.  Dan orang IIBF itu gampang untuk diidentifikasi,  cukup lihat  bahasa dan cara mereka berbisnis,” jawab Heppy. Heppy kemudian menunjukkan buku saku IIBF  “4 Disiplin Sukses” anngota IIBF, lalu membagi buku satu-satu ke tim TDA. Dalam buku itu tercantum tentang Rule of the Game dan 4 disiplin yang harus dijalankan oleh anggota IIBF. Pembicaraan terhenti sejenak begitu terdengar azan maghrib bergema. 
 
Sambil menunggu makan malam pembicaraan bergeser menjadi semacam “business  coaching” atau bedah kasus karena Roni Yuzirman lebih banyak bertanya tentang kasus bisnis. “Dari yang Pak Heppy dan IIBF hadapi selama ini kasus apa yang paling banyak di hadapi oleh para entrepreneur?”  Roni bertanya. Heppy kemudian membuat bagan di whiteboard untuk mengambarkan tentang prosentase kasus yang dihadapi para entrepreneur. “80 persen lebih kasus entrepreneur yang saya temui adalah masalah keuangan. Karena kebanyakan mereka tidak fluent dalam keuangan. Maka di IIBF kita punya workshop dua hari yang namanya Financial Literacy agar anggota kita tidak mengalami masalah serupa,” jelas Heppy. Heppy kemudian membuat dua lingkaran yang beririsan untuk menggambarkan letak masalah bisnis sesungguhnya. “Di lingkaran ini ada masalah-masalah keuangan, utang, sale yang turun, cash yang tidak tumbuh, tim yang amburadul dan lain-lain. Sesungguhnya ini bukan masalah. Ini hanya gejala masalah. Karena masalah sesungguhnya adalah di sini yakni diri si pebisnisnya sendiri,” kata Heppy sambil menunjuk lingkaran di sebelah kiri.
 
Di tengah makan malam H. Alay meminta timnya untuk segera membuat sebuah acara untuk para anggota TDA. “Kita minta Pak Heppy untuk berbicara tentang ilmu bisnis seperti ini di depan anggota TDA, kapan Bapak punya waktu luang?” H. Alay menoleh ke arah Heppy. “Insya Allah saya siap Pak,dan terima kasih telah diikutkan untuk berdakwah dan beramal sholeh. Tinggal nanti kita  cocokkan waktunya,” kata Heppy. H. Alay juga memperkenalkan anak dan menantunya yang ikut dalam rombongan itu. Sang menantu yang duduk bersebelahan dengannya akan mendirikan 99 klinik di Jabodetabek sementara anaknya adalah seorang sarjana lulusan dari China yang sangat fasih bahasa Mandarin dan berisitrikan seorang perempuan negeri Tirai Bambu itu. “Saya titipkan dua anak saya ini Pak Heppy untuk dididik dan dikutsertakan dalam kegiatan-kegiatan IIBF,” kata H. Alay dengan nada serius. “Wah, Kalau senior sudah memberi perintah   tidak ada alasan untuk menolak karena ini amanah,” kata Heppy berseloroh sambil menoleh ke arah Aswandi dan Edi. 
 
Pertemuan berakhir yang ditandai dengan penyerahan buku “Menjadi Bangsa Pintar” dan buku saku anggota IIBF kepada semua tim TDA. (AA)
 
Last Updated ( Thursday, 14 October 2010 13:49 )