Sunday, 26 October 2014
5 Pertanyaan Fundamental Membangun Karakter Unggul
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail


Semarang, 20/10/2010. Berbicara di depan wisudawan pascasarjana Unisula (Universitas Sultan Agung) Semarang, Rabu siang, Presiden IIBF, Heppy Trenggono mengemukakan lima pertanyaan fundamental untuk membangun karakter unggul. Karakter unggul ini sangat diperlukan oleh siapa saja yang ingin menjadi orang yang sukses. Apakah pengusaha sukses, pemimpin yang sukses  bahkan  sebuah bangsa yang ingin sukses menjadi bangsa besar dan jaya. “Indonesia hari ini memiliki semuanya, sumber daya alam yang berlimpah, jumlah penduduk yang besar,  tetapi belum juga mampu menjadi bangsa jaya yang disegani,” kata Heppy. Padahal, lanjut Heppy, kalau hanya soal strategi bangsa ini bisa belajar dan meniru strategi  yang ditempuh negara lain membangun bangsanya  melalui berbagai buku dan litratur. Tapi semua strategi itu tidak ada yang jadi di Indonesia. Mengapa? “Karena ada satu hal yang tidak dimiliki oleh bangsa ini, yakni karakter unggul,” ungkap Heppy.
 
Untuk membangun karakter ungggul itu menurut Heppy dapat dilakukan dengan menjawab 5 pertanyaan fundamental; Pertama, Apa kompetensi yang sedang kita bangun.  Banyak orang berpikir bisnis itu cukup dengan ide saja. Padahal  bisnis bukan hanya ide tetapi adalah kompetensi. “Dengan kompetensinya orang tahu hal-hal yang esensial, tahu caranya membangun tim yang solid, tahu caranya bagaimana berhubungan dengan orang, tahu caranya mengendalikan uang dan lain-lain,” kata Heppy.  Membangun kompetensi itu menurut Heppy, butuh waktu. Kompetensi mengandung makna bahwa kita memiliki pengalaman dan ada satu waktu yang kita lewati. “Mau jadi apapun kita, apakah ahli hukum, pebisnis handal atau apa saja, kompetensi harus tetap dibangun. Dan Indonesia tidak akan kemana-mana jika tidak membangun kompetensi,” ungkap Heppy.  
 
Kedua,  Seberapa sadar kita dengan jati diri kita? Pertanyaan ini menyangkut identitas, siapa kita ini. Jika pertanyaan ini tidak bisa dijawab maka sulit kita untuk membentuk karakter unggul. Seseorang yang mau menjadi seorang pebisnis tentu saja jati dirinya beda dengan orang kebanyakan. “Hari ini banyak anak-anak kita lebih bangga bekerja di perusahaan asing, katanya enggak keren kalau tidak bekerja di perusahaan mulitinasional. Karena apa? karena kita tidak jelas menentukan siapa diri kita dan tidak bisa menentukan seberapa bangga kita dengan identitas itu,” ungkap Heppy.
 
Ketiga, Apa yang benar-benar kita yakiniJika pertanyaan ini bisa kita jawab maka semua persoalan kita selesai. Tetapi masalahnya sebagian besar kita tidak memiliki keyakinan yang cukup dengan sesuatu yang benar-benar kita yakini. “Persoalan terbesar kita hari ini adalah kita kita tidak yakin dengan Allah SWT,” kata Heppy tegas. Ketidakyakinan itu tercermin dalam tindakan sehari-hari. Berbisnis seolah-olah tidak bisa lepas dari riba. Padahal Allah sudah mengharamkan riba dan berkali-kali menjelaskan tentang keburukan riba. Menurut Heppy, gagal menjawab pertanyaan ini maka kita tidak akan menjadi siapa-siapa. “Bangsa Indonesia bila tidak yakin akan menjadi bangsa besar dan menjadi super power country maka kita tidak akan jadi siapa-siapa,” ungkapnya.
 
Keempat, apa yang sungguh-sungguh kita bela. Ini yang disebut dengan nilai. Tahun 1945 sangat jelas apa yang kita bela, merdeka atau mati. Waktu itu kita bisa mengatakan bahwa kita cinta damai tetapi kita lebih cinta kemerdekaan. Sangat jelas apa yang kita bela. “Hari ini apa yang kita bela? Tidak jelas! Dan inilah yang membuat kita tidak kemana-mana,” kata Heppy.  
 
Kelima, Siapa pemimpin yang benar-benar kita ridho dipimpinnya. Pemimpin itu ada tiga: 1. Pemimpin yang wajib kita ikuti. “Pemimpin ini jenis adalah Rosulullah SAW. Bagi seorang muslim wajib mengikuti pemimpin ini,” tegas Heppy  2, pemimpin yang terpaksa kita ikuti. Misalnya pemimpin yang kita tidak pilih tetapi terpilih menjadi pemimpin 3. Pemimpin yang kita ridho untuk kita ikuti.   Pemimpin yang kita ridho itu artinya pemimpin yang kita ikuti kata-katanya. Dan ini sangat diperlukan karena kita sedang belajar dan membentuk karakter. “Tidak ada bangsa yang besar tanpa dipimipin oleh pemimpin yang hebat,” kata Heppy. (AA)
 
Last Updated ( Friday, 29 October 2010 13:07 )