Wednesday, 24 September 2014
Al-Aqobah Perdana : Pelajaran Dari Negeri China
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail


Jakarta, 29/10/2010. Pantaslah Rosulullah 15 abad yang lalu untuk meminta ummatnya untuk belajar ke negeri China. Karena ternyata hari ini China memang menyuguhkan banyak pelajaran yang bisa kita jadikan contoh. “Bila selama ini kita sering berdalih kesulitan mengatur negeri kita karena jumlah penduduknya yang besar, maka China membuktikan bagaimana mengatur negeri yang berpenduduk 1,4 miliar,” kata Heppy Trenggono dalam sessi Big Picture, Majelis Al-Aqobah, Jum’at malam (29/10). Dalam sessi itu Heppy Trenggono memaparkan pengalamannya selama mengikuti pameran produk di negeri Tirai Bambu itu selama seminggu (20-26/11).  Heppy dengan timnya mengikuti pameran di kota kecil Yu Lin di China selatan. Dua produk   Heppyfood,  bubur kentang “POTAYO” dan kopi “CORDOVA”   dipamerkan ke publik China. “Dalam pameran itu kita tidak menjual tetapi mencari distributor. Dan hasilnya luar biasa sampai sekarang sangat banyak sms dan email yang masuk yang menawarkan diri untuk menjadi distributor,” jelas Heppy. Melihat antusiasme masyarakat China dan besarnya pasar Heppy menjelaskan tekadnya untuk mendirikan pabrik di negeri itu.
 
China, ungkap Heppy memang menjadi ancaman jika kita tidak pandai bermain. Tapi menjadi peluang yang sangat besar jika kita  fluent dalam berbisnis. “Masyarakat China adalah masyarakat yang memiliki karakter sebagai bangsa unggul, mulai dari cara mereka menghormati tamu, antusiasme dengan bisnis, disiplin dan lain-lain,” kata Heppy. Kesungguhan mereka untuk bekerjasama tidak hanya ditunjukkan dengan jamuan makan malam tetapi juga mengajak anggota keluarganya menemui kita bahkan mengundang ke rumahnya.  Dalam pameran itu semua negara-negara ASEAN ikut serta dalam kegiatan itu. Malaysia tampil dengan berbagai komoditi bahan pangan yang telah mereka jadikan produk dengan kemasan yang menarik. Thailand fokus dengan membawa satu komoditi saja, beras. Thailand ingin menyampaikan pesan bahwa kalau bicara beras Thailand tempatnya. Tampilan kemasan beras dalam berbagai ukuran dan variasi dengan stand yang dijaga oleh putri-putri negeri Gajah Putih itu. Sementara Indonesia standnya banyak kosong. Kalaupun ada, isinya yang ditampilkan adalah barang-barang kerajinan dan souvenir. “Dari barang yang dipamerkan dapat dijelaskan bahwa bagi orang Indonesia bisnis bagus itu ide unik yang orang lain tidak bisa menirunya,” jelas Heppy. Masalahnya, dalam bisnis bukan ide unik itu sendiri tetapi seberapa banyak kita dapat mencetak cash.
 
Al-Aqobah perdana itu, dibuka dengan laporan dari masing-masing pengurus Wilayah dan Cabang tentang gambaran perkembangan IIBF di wilayah masing-masing. Setelah itu sore hingga malam Big Picture oleh Presiden IIBF tentang isu bisnis terkini dan gambaran perkembangan bisnis dunia dan dalam negeri. Masuk tengah malam Ustadz Helmy Jatnika memimpin Muhasabah yang mengupas tentang ayat-ayat yang turun dalam bentuk bencana yang sedang melanda wilayah Indonesia saat ini. “Dari kacamata iman, bencana-bencana yang terjadi di Indonesia hari ini, jelas bukan gejala alamiah biasa, tetapi bisa jadi ini adalah peringatan agar kita semua kembali,” kata Ustadz Helmy. Istirahat selama dua jam setengah, pukul 02.30 Wib dilanjutkan dengan Qiyamullail dengan sholat tahjjud berjemaah.  Counseling one by one diberikan waktu sesuai sholat Shubuh.  
 
Peserta yang ikut dalam Al-aqobah perdana itu adalah anggota dan pengurus IIBF dari Semarang, Jakarta, Solo dan Surabaya. (AA)
Last Updated ( Thursday, 04 November 2010 17:02 )