Wednesday, 01 October 2014
IIBF di Merapi : Pengungsi Stress Karena Ternak
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail


Cangkringan, 2/11/2010. Hujan baru saja reda ketika rombongan IIBF tiba posko pengungsian di Kepuharjo, Cangkringan Sleman. Debu-debu vulkanis yang beberapa hari ini telah memutihkan jalan, daun pohon dan atap rumah telah bersih oleh sapuan air hujan. Matahari bersinar cerah saat Presiden IIBF, Heppy Trenggono turun dari mobilnya. Heppy didampingi KH. Saadih Albatawi beserta dua orang muridnya, Ust. Helmy Jatnika dan Dr. Nandang Najmul munir. Ikut serta dalam rombongan itu 42 orang pengurus dan anggota IIBF dari Semarang, Solo, Jakarta dan Jogjakarta.
 
Teguh, Kadus Kepuharjo menyambut rombongan  dengan menyalami satu-satu pimpinan dan anggota rombongan IIBF. “Tadi saya diberitahu sama mas Juli ini kalau Bapak dan rombongan mau datang,” kata Teguh sambil menoleh ke arah Juliana Pangestu, engine IIBF Jogjakarta. Dalam penjelasannya, Teguh mengemukakan bahwa stok makanan di pengungsian itu berlimpah dan cukup untuk cadangan selama seminggu ke depan.   Namun ada satu hal yang membuat masyarakat Merapi stress jika harus meninggalkan rumah atau mengungsi. “Mereka itu selalu memikirkan ternaknya, Pak Heppy. Maka meskipun dilarang mereka mencuri-curi waktu untuk pulang melihat ternaknya,” kata Teguh. Karena itu kata Teguh perlu juga dipikirkan untuk pakan ternak mereka.  
 
“Ok, kalau begitu apa yang diperlukan untuk membantu  ternak itu?”   tanya Heppy. Teguh kemudian memanggil seorang warga Kepuharjo yang selama ini bertugas megurus pakan ternak para pengungsi. Dari data yang ada diperlukan paling sedikit 10 truk konsentrat. “Paling tidak untuk satu minggu ini kita perlu  sekitar 10 truk dengan nominal sekitar Rp.18 juta,” kata Teguh.   Usai menyelesaikan masalah pakan ternak tim IIBF berkelililng melihat para pengungsi yang tinggal di beberapa tenda yang tersebar di lapangan itu.
 
“ Bagaimana ibu-ibu, senang kumpul di sini? Kan kalo begini bisa ngumpul dengan tetangga,” canda Heppy kepada para pengungsi yang sebagian besar perempuan berusia lanjut.
 
“Senang pak banyak temennya. Tapi lebih senang kalo bisa pulang,” kata perempuan setengah baya yang duduk paling depan.
 
 “Iyalah, tapi sekarang di sini saja dulu, ikuti kata pemerintah yang meminta ibu-ibu untuk ngungsi. Soal ternaknya sudah ada yang ngurusin enggak usah dipikirkan. Tadi saya sudah minta ke Pak Kadus untuk membeli makanan ternak ibu-ibu semua,” kata Heppy yangg disambut  tepuk tangan para pengungsi itu.
 
Selain berkeliling ke tenda-tenda pengungsi Presiden IIBF dan Tim juga mengunjungi posko para relawan sipil dan anggota TNI/Polri. Juga dapur umum yang dikelola oleh anggota TNI. “Mudah-mudahan ini akan menjadi amal sholeh bapak-bapak sekalian di hadapan Allah. Saya dan teman-teman sangat menghargai   apa yang bapak-bapak semua lakuka ini,” kata Heppy memberi semangat. Sepeninggal Presiden IIBF dan tim seorang anggota TNI berpangkat Sertu berbisik bertanya,” Itu tadi siapa ya, mas?”. “ Itu namanya Pak Heppy Trenggono, pengusaha kelapa sawit dan makanan. Orang-orang di belakangnya itu para pengusaha yang dipimpinnya,” jelas seorang anggota IIBF.

Usai berkeliling ke tenda-tenda kemudian digelar doa bersama di gedung utama komplek pengungisan itu. Doa bersama dibuka dengan tausyiah dan dan doa oleh KH. Saadih Albatawi. Kyai Saadih meminta para pengungsi untuk bersabar menghadapi bencana ini. Bencana menurut pimpinan majelis Assamawat ini memiliki beragam makana. “Mudah-mudahan ini adalah ujian kepada para ibu-ibi dan bapak-bapak sekalian untuk lebih bersabar dan bersyukur. Seandainya ini peringatan, pasti bukan ibu-ibu dan bapak-bapak di sini saja yang diperingatkan tetapi kita semua,” jelas Kyai Saadih.
 
Pada bagian akhir Presiden IIBF memberikan sambutan penutup dengan memperkenalkan diri dan timnya. “Salah satu hikmah peristiwa ini adalah membuat kita bisa berkumpul dan bertemu langsung. Kami ini adalah pengusaha dari berbagai kota yang ingin melihat langsung ibu-ibu, bapak-bapak dan saudara semua. Itu pak Joni dari Semarang, ada Ibu Iwan dari Solo, Jogja juga ada, dan saya sendiri dari Jakarta,” kata Heppy.   Pukul 14:30 Wib acara berakhir dengan menurunkan semua barang-barang bantuan yang anggota tim ke kantor kelurahan setempat. Uang yang dikumpulkan dari anggota tim diserahkan langusng ke Kadus dan pengurus koperasi ternak. Sebagain diserahkan ke mahasiswa peternakan yang mengurus ternak warga yang bekerjasama dengan Dinas Peternakan Sleman.
 
Pukul 15.10 Wib seluruh anggota tim harus segera turun karena terdengar kabar presiden SBY akan mengunjungi para pengungsi di lokasi itu.  Namun sesampai di Posko Utama Penangaan Pengungsi di Pakem seorang petugas menyampaikan bahwa SBY baru akan datang ke pengungsian wilayah Sleman esok pagi karena saat ini Presiden memulai kunjungannya dari wilayah Klaten dan Magelang. Tim IIBF turun ke Jogja dan berhenti di sebuah rumah makan di kawasan Janti untuk istirahat dan makan bersama. Menjelang maghrib semua menuju ke rumah masing-masing.   Tengah malam setelah semua anggota tim tiba di rumah masing-masing terdengar kabar bahwa Merapi meletus hebat dan semua daerah dibawah radius 15 km adalah daerah bahaya yang kemudian diperluas menjadi 20 km. Padahal tempat itu hanya sekitar 7 km dari puncak Merapi.  Sebuah SMS masuk ke telepon seluler beberapa pengurus IIBF,  “Saat ini kami sedang berjuang menyelamatkan para pengungsi ke daerah aman di bawah hujan pasir dan krikil. Mohon doanya agar kami bisa melaluinya dengan selamat. Aris.”  
 
“Ya, Allah jangan Engkau hancurkan negeri kami karena perbuatan sekelompok orang diantara kami yang melakukan kerusakan dan kemungkaran. Berikan kami petunjuka agar kami bisa menuntun negeri ini menjadi negeri yang kembali kepadaMU,” (AA)
Last Updated ( Tuesday, 09 November 2010 10:33 )