Saturday, 25 October 2014
China, Peluang atau Ancaman
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail


Jakarta, 29/10/2010. Global Business Guide, perusahaan dari perancis yang focus dalam membangun “Business Information Resource” diwakili oleh Weil Rahmouni dan Lianna Plaut, Country Director untuk Indonesia menginterview Presiden IIBF, Ir.H. Heppy Trenggono, MKomp,  di kantor IIBF di Mampang, Jakarta Selatan.   Global Business Guide adalah sebuah perusahaan media tentang pengusaha dan perusahaan di seluruh dunia yang berpusat di Paris, Francis. Di Indonesia Global Business Guide meminta pendapat dari beberapa tokoh antara lain Marty Natalegawa, Ir. Ciputra dan Presiden IIBF, Ir. H. Heppy Trenggono, MKomp. 
 
Salah satu pertanyaan Rahmouni adalah tentang pandangan Heppy Trenggono tentang ACFTA (Asean China Free Trade Area).  “Apa pendapat Bapak tentang ACFTA yang sekarang sudah berlaku di ASEAN dan bagaimana seharusnya Indonesia menyikapi hal ini?”  tanya Rahmouni dalam bahasa Inggris. Menjawab pertanyaan ini Heppy menjelaskan bahwa ACFTA  adalah sesutau yang tak bisa dihindari karena sudah terjadi dan sudah disepakati sejak  lama antara ASEAN dan China. Dan memang hari ini China adalah negara yang paling siap dengan produknya yang telah membanjiri banyak negara. “Jelas sekali bahwa ACFTA merupakan ancaman serius bagi Indonesia kalau Indonesia masih seperti sekarang ini, dengan produksi dalam negeri yang masih lemah ACFTA ibarat kita perang buka baju tanpa senjata, sebelum ACFTA-pun banyak industri  di Indonesia yang sudah colaps. Namun dengan merubah diri memperkuat produksi dalam negeri dan bersaing dalam ekspor, ACFTA bisa menjadi peluang tersendiri, karena China adalah negara dengan penduduk 1,3 milya lebih. Indonesia dapat membeli bahan-bahan baku dari China dengan harga yang sangat murah kemudian diproduksi di Indonesia sehingga nilai tambah ada di negeri ini, kita bisa pasarkan produk kita tadi ke China” jelas Heppy.  China menurut Heppy memiliki diferensiasi yang tak bisa dilakukan oleh negara lain, yakni harga yang murah. Tetapi Indonesia harus memiliki produk-produk dengan diferensiasi lain. Heppy lantas menceritakan pengalamannya dalam menembus pasar China.
 
 “Waktu pameran di China sebulan yang lalu saya menjual kopi Cordova dengan harga 3 Yuan. Di pasar China  produk kopi sejenis  dijual seharga 1,2 Yuan. Namun CORDOVA diserbu pembeli dan banyak yang berebut manjadi distributor. Mengapa? Karena kita memiliki differensiasi yang tidak dimiliki kompetitor di China” jelas Heppy. Ke depan, kata Heppy, dia ingin lebih memfokuskan pemasaran ekspornya ke China dan ingin mengajak pengusaha yang tergabung dalam IIBF, organisasi pengusaha yang dipimpinnya, untuk ikut menembus pasar China.
 
Menyinggung soal perusahaan Heppy yang bergerak di perkebunan sawit, Rahmouni dan Lianna bergantian menanyakan beberapa tekanan Internasional seperti green peace “Sebagai perusahaan yang banyak berpartner dengan banyak pihak, kami   tidak bisa lepas dengan komunitas Internasional,  kami tetap mengikuti aturan internasional, karena kita juga tidak bisa membangun sendiri tanpa melibatkan orang lain. Namun untuk organisasi seperti green peace itu tidak perlu ada di Indonesia karena dia tidak peduli dengan pembangunan Indonesia. Kami fokus untuk membangun negara kami,” tegas Heppy.   Menjawab pertanyaan tentang komitmen dan jaminan Balimuda Group kepada investor yang mau berpartner, Heppy mengatakan bahwa perusahaannya adalah perusahaan yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh para investor di industri perkebunan kelapa sawit.”To be the most trusted organization” itulah semangat Balimuda dalam membangun bisnis dan mendorong investasi di Indonesia.
 
Lianna dan Rahmouni  dalam wawancara itu, juga menanyakan tentang iklim investasi di Indonesia dan bagaimana jaminan  berinvestasi itu aman jika berpartner dengan Balimuda.  “Saya seorang Muslim, dan sebagai muslim kami adalah strong believer  bahwa kebaikan itu harus menjadi spirit dari setiap tindakan. Kami percaya bahwa kebaikan yang kita lakukan akan kembali kepada kita, dan keburukan yang kita lakukan juga akan kembali kepada kita,” kata Heppy menjawab pertanyaan itu. Para pebisnis yang ada di IIBF, kata Heppy juga memiliki keyakinan yang sama tentang kebaikan.
 
Wawancara berlangsung selama 1,5 jam yang ditutup dengan menikmati kopi Cordova. “This is the tasty coffee that make stronger,” kata Heppy  “I like it, and I’m a coffee addicted,” Lianna menimpali. Sementara Rahmouni lebih memilih tak berkomentar tetapi lebih fokus dengan kopinya dan sesekali mengangkat alis setelah meminum nya. (AA)
Last Updated ( Wednesday, 10 November 2010 15:46 )