Sunday, 26 October 2014
Bad Debt is Slavery
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail


Semarang, 14/10/2010. Banyak orang membangun bisnis dengan maksud membangun kekayaan tetapi malah jatuh ke dalam lilitan hutang. Bisnis yang seharusnya menjadi mesin pencetak uang malah menjadi mesin pencetak masalah. Tidak sedikit kisah tentang pengusaha yang semula dikenal sebagai orang kaya namun hidupnya berakhir bangkrut dan jatuh miskin. “Perjalanan bisnis saya yang jatuh dalam lilitan hutang Rp. 62 miliar tahun 2005 lalu adalah contoh kasus dari cerita ini. Dan saya yakin juga banyak pengusaha yang mengalami masalah yang sama,” kata Presiden IIBF, Heppy Trenggono dalam pengantar Worksop “How To be Debt Free” di Hotel Pandanaran, Semarang. Workshop yang khusus membicarakan tentang hutang berlangsung selama sehari penuh yang merupakan bagian dari rangkaian workshop Life Mastery dari tanggal 12-14 Nopember 2010.
 
Menurut Heppy, 70 persen pebisnis financially incompetence. Begitu mendapat masalah yang terpikir pertama kali adalah bagaimana mendapatkan easy money dengan cara hutang atau kredit. Dia mengelola bisnis dengan uangnya bukan dengan skill dan kompetensi. Hutang sering dianggap sebagai bagian dari kekayaan. “Hutang itu adalah ilusi kekayaan. Kekayaan yang sebenarnya dalam bisnis adalah asset dan uang cash bukan hutang,” ungkap Heppy. Orang yang jatuh ke dalam lilitan hutang itu bukanlah kejadian yang tiba-tiba tetapi adalah proses panjang.  Penyebab utamanya adalah sikap abai atau tidak peduli. Mengabaikan masalah-masalah kecil, mentolelir pelanggaran dalam perusahaan dan abai terhadap sinyal-sinyal bahaya dalam bisnis. 
 
Dalam konsep umum ada dua jenis hutang, Investment Debt dan Consumer Debt.  Namun di IIBF dikenal dengan istilah Good Debt dan Bad Debt.  “Good Debt adalah hutang yang akan membuat bisnis anda bertumbuh sedangkan Bad Debt adalah hutang yang harus anda tinggalkan,” jelas Heppy.  Investment Debt  masuk dalam kategori Good Debt jika investasi itu dapat membayar dirinya sendiri. Namun jika Investment Debt  tidak dapat membiayai dirinya lagi maka hutang ini harus segera ditinggalkan karena telah menjadi Bad Debt atau hutang yang buruk. “Riba adalah always, always, always, Bad. Maka segera tinggalkan! karena tidak ada satupun yang sungguh-sungguh sukses membangun bisnis dan hidupnya dengan menggunakan Riba. Apalagi jika kita masih sholat yang didalamnya kita selalu membaca Ihdinassh shiroothol mustaqiim,” tegas Heppy. Bagi mereka yang sudah terlanjur menggunakan riba dalam bisnisnya Heppy menganjurkan untuk segera berhenti, “Hijrahlah!”
 
Hati-hatilah menggunakan Consumer Debt. Jangan pernah menggunakan Consumer Debt sebagai Investment Debt karena itu adalah sebuah kesalahan besar. Consumer Debt didesain sebagai hutang yang tak terbayar, karena itu hutang jenis ini adalah always Bad Debt. “Jangan pernah melakukan kesalahan,” kata Heppy tegas. Dalam kesempatan itu ditampilkan berbagai macam iklan Consumer Debt dari beberapa lembaga keuangan yang banyak dijumpai berbagai media yang merayu orang untuk menjadi nasabah.
 
Bagaimana caranya untuk bebas hutang? Heppy menyarankan segera berhenti. “Segera cut off! Berapa banyak orang yang datang kepada saya dengan beban hutang yang luar biasa besarnya tidak mau berhenti karena berbagai alasan, takut nama baiknya rusak, khawatir diboikot bank dan lain-lain,” ungkap Heppy. Namun, kata Heppy, orang itu biasanya akan kembali setahun kemudian dengan beban hutang yang berlipat-lipat jumlahnya.  Untuk membebaskan diri dari hutang Heppy juga menyarankan untuk merubah permainan, “Reverse the game.”  Dalam kesempatan itu ditunjukkan satu software Debt Elimination Countdown tentang strategi untuk melunasi hutang dengan waktu dan biaya yang jauh lebih sedikit.
 
Kapan kita berhutang? Saat yang tepat mengambil hutang  adalah ketika  perusahaan dalam posisi grow atau bertumbuh. Tapi jangan sekali-kali berhutang ketika perusahaan dalam keadaan down. “Dalam posisi posisi growth debt is your friend, tapi ketika perusahaan turnaround cash is your friend,” kata Heppy.  
 
Dalam sesssi tanya jawab seorang peserta bercerita tentang pengalamannya mengambil hutang di sebuah bank syariah. “Memang namanya bank syariah , Pak Heppy, tapi karakternya dan cara-cara bermainnya tidak beda dengan yang bukan syariah,” kata peserta itu mengeluh. Menanggapi pertanyaan itu Heppy menjelaskan bahwa syariah atau tidak syariah itu bukanlah suatu pilihan. Untuk seorang muslim syariah itu keharusan. Syariah dan Riba itu adalah mentalitas. Riba itu semangatnya keserakahan, ekploitasi dan penjajahan sedangkan syariah itu adalah tolong menolong dan saling membantu. “Maka lihat siapa pemilik dan pemimpinnya,” kata Heppy. 
 
Heppy berpesan untuk berhati-hati dengan hutang. Hanya dengan sedikit keserakahan yang ada dalam diri kita dan sejumput rayuan untuk mengambil uang mudah cukup untuk membuat kita jatuh dalam lilitan hutang. Apalagi hutang itu Bad Debt atau hutang yang buruk yang membuat kita seperti budak yang hilang kemerdekaannya. Karena Bad Debt is Slavery. (AA)
Last Updated ( Tuesday, 16 November 2010 14:05 )