Mr. Satosi Matsuda : Sukses Bisnis dengan Bushido
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Semarang, 27/12/2010. Orang Jepang tidak selalu menggunakan hara kiri (bunuh diri)  ketika mengahadapi kebuntuan. Hara-kiri hanya dijalankan oleh sekelompok orang dari kalangan Samurai yang teguh memegang tradisi itu. Namun kalangan pengusaha Jepang lebih mengedepankan semangat Bushido ketika menghadapi masalah rumit.   Itulah inti dari pengajian bisnis yang disampaikan Mr. Satosi Matsuda dalam forum pengajian bisnis IIBF Jawa Tengah tanggal 27 Desember 2010 lalu. Matsuda menyampaikan ceramahnya dengan menggunakan bahasa Jepang yang diterjemahkan oleh seorang anggota IIBF. Pengajian yang dipenuhi oleh anggota dan simpatisan IIBF itu mengambil thema “Bagaimana Pengusaha Jepang Membangun Bisnis”

Dalam pengantarnya  Matsuda menceritakan tentang perjalanan hidupnya sebagai seorang pengusaha. Dengan latar belakang dari keluarga pengusaha Matsuda memulai bisnis dengan menanggung utang perusahaan yang diwarisinya. Sempat menjadi karyawan namun penghasilannya tidak cukup untuk melunasi hutang keluarganya. Keinginan melunasi hutang itulah yang melecut Matsuda untuk berbisnis. Kini Matsuda dikenal sebagai seorang eksportir mesin-mesin buatan Jepang ke Indonesia, Vietnam, Jordania, Turki dan lain-lain. Kunjungannya ke Indonesia kali ini untuk menemui rekan bisnisnya H. Muhammad Basuki, Dewan Pembina IIBF Jawa Tengah. 
 
Menurut Matsuda kunci sukses bisnisnya adalah 1. Tepat waktu dan Tepat Janji,  karena orang-orang jepang sangat menghargai waktu. 2. Jujur dan bertanggung jawab, Bushido menjadi spiritnya, bukan hara-kiri ketika tidak bisa mengemban tugas dengan baik, melainkan semangat pantang menyerahnya dalam menghadapi tantangan. 3. Tidak mudah putus asa menemukan potensi diri.  
 
“Walau saya bukan seorang muslim, tapi saya yakinTuhan memberikan kelebihan yang berbeda-beda pada setiap manusia, dan tugas kita bagaimana menemukan potensi itu, dan saya yakin kita akan sukses dengan bekerja keras”, ujar Matsuda   
 
Matsuda juga memaparkan kisah-kisah pengusaha sukses Jepang lainnya. Pemilik Honda, Shichiro Honda, yang benar-benar mengawalinya dari bengkel sepeda motor. Bagaimana gigihnya Honda membangun bisnis hingga jari-jari tangannya sampai putus pun tidak menyurutkan semangatnya untuk menciptakan produk yang orisinil. Orang Jepang, kata Matsuda,  bangga dengan orisinalitas alias tidak senang mengcopy, sehingga semangat menelitinya sangat tinggi.
 
Menanggapi pertanyaan peserta tentang  kemungkinan Mr. Satosi dan rekan-rekan pengusaha Jepang untuk berinvestasi di Indonesia, Matsuda menegaskan, “Kenapa tidak? asalkan sesuai bidang.” Di bagian lain lain, Matsuda  menuturkan bahwa 70% Import  Jepang adalah berupa makanan, namun perlu di ingat bahwa Jepang memiliki standar yang tinggi dalam hal kwalitas. Dia juga mempersilahkan bagi pengusaha makanan dan minuman Indonesia untuk merambah ke pasar Jepang. (ANS)
 
Last Updated ( Friday, 10 December 2010 17:35 )