Semangat Menggunakan Produk Sendiri
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Jakarta, 17/12/2011. Indonesia hari ini  berada dalam kepungan produk luar yang membanjiri pasar dalam negeri. Indonesia hanya menjadi sasaran permainan orang lain dan seolah tidak berdaya menjadi pemain di negeri sendiri. Bak sebuah pertarungan, Indonesia saat ini sedang menghadapi seorang petarung yang bersenjata lengkap dengan pakaian pelindung yang rapat, sementara Indonesia sendiri menantang dengan telanjang dada tanpa senjata yang memadai. 
 
Itulah inti pembicaraan dua orang tokoh, Presiden IIBF, Ir. Heppy Trenggono, MKomp dengan Ketua Dewan Pembina komunitas TDA (Tangan Di Atas), H. Nuzli Arismal yang dikenal dengan H. Alay, Kamis siang, di Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Tempat itu adalah kediaman H. Alay dan keluarganya. Heppy Trenggono yang ditemani Sekjen IIBF, Aswandi As’an dan Direktur Pembinaan Anggota dan Organisasi, Ust, Farid Tri Widodo. Sementara H. Alay ditemani anaknya Difal dan menantunya, Alfia serta seorang imam mesjid di lingkungan itu.

“Belum berlaku ACFTA saja, selama ini industri dalam negeri banyak yang tumbang dengan barang-barang selundupan dari luar, apalagi bila ACFTA ini sudah berlaku efektif,
” kata Heppy. Indonesia betul-betul sengaja dibiarkan miskin dan menjadi negara pemakai. Berbagai pinjaman dari negara dan lembaga donor selalu diiringi dengan dengan agenda-agenda yang tujuannnya  menghambat bahkan membunuh Indonesia menjadi negara maju. Bagaimana bisa ketika satu produk air minum yang disedot dari tanah dan air Indonesia, orang Indonesia sendiri harus membayar untuk mendapatkan air itu. Uangnya terbang ke negara dimana perusahaan itu berasal.
 
H. Alay menanggapi dengan menceritakan kondisi yang dialami para pengusaha yang dibinanya. Bagaimana pengusaha garmen yang megap-megap menahan serangan pakaian dari China dengan harga yang lebih murah. “Jangankan untung untuk bertahan saja mereka sulit,” katanya. Akibatnya, perusahaan harus merumahkan banyak karyawan dan dan banyak juga yang menutup usahanya. Sementara tidak ada upaya pemerintah untuk melindungi para pengusaha negeri sendiri.
 
Maka satu cara yang efektif untuk menahan serangan produk asing sekaligus melindungi ekonomi Indonesia, kata Heppy Trenggono adalah dengan membangkitkan semangat pemakaian produk negeri sendiri. “Dengan demikian industri akan tumbuh dengan sendirinya dan ekonomi Indonesia akan menguat,” katanya. Dan untuk memulainya, kata Heppy adalah dari komunitas atau lingkungan kita masing-masing dan saling bahu membahu mengkampanyekan semangat ini secara luas.  Kedua tokoh ini sepakat untuk saling mendukung dan mengkampanyekan semangat itu.
 
Memakai produk luar dan meninggalkan produk sendiri adalah sebuah tindakan tanpa sadar bahwa kita telah mengirim anak-anak negeri ini menjadi TKI atau TKW karena mereka sulit mencari penghidupan di negeri sendiri. Maka untuk mencegahnya mulailah dengan menggunakan produk sendiri. (AA)
 
Last Updated ( Thursday, 23 December 2010 06:38 )