Wednesday, 17 September 2014
Membangun Karakter Dengan Berbagi
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Bawang, 25/12/2010. Pukul 09.10 wib iring-iringan 23 kendaraan itu memasuki gerbang desa Bawang, kabupaten Batang, Jawa Tengah. Dua orang polisi militer bersepeda motor mengawal di bagian depan iring-iringan itu.   Seratus meter sebelum mesjid Bawang, iring-iringan berhenti. Dari Mercy Hitam ML 350  turun Presiden IIBF, Heppy Trenggono bersama Sang kakak Hj. Rima Melati dan istrinya Dewi Yuniati Asih.   Dari kendaraan lain turun 34 orang pengusaha ikut berbaris di belakang presiden IIBF itu, berjalan kaki menuju ke mesjid desa. Berbagai macam kesenian khas daerah itu dipertunjukkan, mulai dari Hadroh, Terbang, Kamplingan, Kuntulan dan marching band tampil menyambut rombongan itu. Kesenian yang biasanya hanya tampil di desa itu setiap tanggal 17 Agustus.
 
Itulah moment pulang kampung Presiden IIBF, Heppy Trenggono. 34 pengusaha  yang ikut serta itu adalah anggota IIBF yang datang dari Semarang, Solo, Jogjakarta, Bandung, Surabaya, Klaten dan Jakarta yang diundang khusus oleh Heppy. Heppy ingin menjamu para pengusaha itu dalam suasana desa Bawang, desa tempat dia lahir dan tumbuh. Pulang kampung bagi Heppy adalah tradisi tahunan yang rutin dilakukannya setiap setahun sekali di luar lebaran. Tahun 2010 ini mengambil momen bulan Muharram sebagai bulan untuk memberi kegembiraan untuk para anak yatim. Maka pulang kampungnya kali ini juga dilakukan dengan mengumpulkan 700 anak yatim dan 1.500 dhuafa’ se-kecamatan Bawang, sama seperti pulang kampung sebelum-sebelumnya dengan melibatkan para dhuafa’. “Yatim dan dhuafa’ itu adalah mereka yang sangat dimuliakan oleh Rosuullah. Untuk para pengusaha mereka ini adalah pemegang saham yang sesungguhnya, yang deviden harus selalu dibagi baik dalam keadaan perusahaan sedang up ataupun down,” kata Heppy sambil menoleh ke arah pengusaha.
 
Heppy menyebut tradisi pulang kampung ini sebagai ekspresi cinta kepada tanah air. Pulang sendiri adalah sebuah “fitrah penciptaan”, karenanya orang selalu rindu pulang, pulang ke rumah, pulang ke kampung, pulang ke tanah air dan terakhir pulang ke Rahmatullah. Maka ada sesuatu yang salah jika orang tidak mau atau takut pulang.   Menjawab pertanyaan wartawan tentang kebiasaannya memberi santunan itu Heppy mengatakan bahwa itu adalah caranya membangun sebuah karakter, karakter unggul untuk selalu ingat dengan sesama dan menghidupkan hati. “Hidup sukses itu adalah hidup yang bermanfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain. Selain itu, bertemu dengan para yatim dan dhuafa’ itu akan menghidupkan hati kita,” kata Heppy.  Menurut Heppy hati yag hidup adalah hati yang merasa susah dengan pendeitaan orang lain dan tidak megeluh dengan kesulitan diri sendiri. Sedangkan hati yang mati adalah sebaliknya.  Pulang kampung bagi Heppy berarti berbagi kegembiraan. Maka selain menghadirkan kesenian khas desa dan member santunan kepada mereka yang kurang beruntung, Heppy juga menyediakan makan gratis di warung-warung yang ada di desa itu.
 
Menjelang tengah hari biasanya Bawang selalu diguyur hujan, namun hingga menjelang sore cuaca cukup cerah. Gunung Perahu yang terletak di selatan desa dapat dilihat dengan jelas hingga sore hari ketika rombongan bertolak menuju Semarang. Rombongan bergerak meninggal desa Bawang, desa kelahiran Heppy Trenggono yang terletak di sebelah barat daya kota Semarang itu. (AA)
 
Last Updated ( Friday, 31 December 2010 08:13 )