Wednesday, 01 October 2014
Business is Intellectual Sport
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Pekanbaru, 09/01/2011. Banyak orang yang jatuh dalam bisnisnya karena membuat keputusan bisnis dengan emosi. Tergiur dengan cerita dan untung besar sebuah presentasi tanpa pikir panjang langsung menginvestasikan uangnya. Padahal dia sendiri belum memiliki kompetensi dalam bisnis yang ditawarkan itu. “Jika kita belum memiliki kompetensi dalam sebuah bisnis, jangan langsung menginvestasikan uang kita tetapi investasilah waktu kita untuk belajar terlebih dahulu,” kata Presiden IIBF, Heppy Trenggono di depan 116 orang peserta workshop “How To Be Debt Free” di Aula Universitas Islam Riau (UIR), Pekanbaru, Riau.
 
Dari bedah kasus dalam workshop itu terungkap bahwa sebagian besar peserta memiliki hutang  karena penggunaan hutang yang keliru. Mereka menggunakan consumer debt untuk membiayai investasi . Kartu kredit adalah bentuk consumer debt yang banyak  digunakan untuk membiayai investasi. “saya menggunakan kartu kredit untuk membiayai bisnis saya setelah mengikuti sebuah training bisnis beberapa waktu lalu,” ungkap seorang peserta.  Setelah berjalan setahun lebih bisnis itu belum bertumbuh tetapi kewajiban mencicil terus berjalan. Menanggapi peserta ini, Heppy mengatakan bahwa ada aturan dalam berhutang, yakni  jangan pernah membiayai proyek jangka panjang dengan hutang jangka pendek. “Kartu kredit sendiri adalah bad debt, apalagi digunakan untuk membiayai sebuah bisnis. Sudah jenis hutangnya buruk dan digunakan dengan cara yang salah,”  terang Heppy.
 
Pebisnis yang jatuh dalam lilitan hutang, kata Heppy Trenggono, sebagian besar disebabkan oleh karena berhutang dengan cara dan waktu yang salah. Hutang akan menjadi teman jika hutang itu diambil ketika kondisi perusahaan dalam keadaan bertumbuh dan kita yakin bahwa hutang itu akan membuat perusahaan berkembang. Sebaliknya hutang  itu akan menjadi musuh jika diambil ketika perusahaan dalam kondisi turn around.   “Dalam keadaan turn around,  cash is your friend,” kata Heppy.
 
Workshop sehari yang digelar di Pekanbaru ini sebagai upaya prakondisi pendirian IIBF Wilayah Sumbar-Riau yang diadakan oleh tim engine IIBF Sumbar-Riau. Tim engine yang terdiri dari pengusaha setempat sedang menyusun kepengurusan yang segera akan disahkan dan dilantik oleh IIBF pusat. “Kita sudah membentuk struktur organanisasi dan personil yang menempatkan posisi itu, mulai dari dewan Pembina dan Dewan pengurus. Tinggal ketua umum saja yang masih kosong karena itu wewenang Presiden IIBF untuk memilihnya,” ungkap Syahdanur, anggota tim engine.  Syahdanur mengatakan bahwa tekad untuk mendirikan IIBF di Riau ini karena beberapa orang pengusaha Riau pernah mengikuti workshop IIBF di Jawa Tengah dan Jawa Barat, termasuk majelis Al-Aqobah yang diadakan setiap bulan di kediaman Presiden IIBF di Mampang X, Jakarta Selatan. Dari pengalaman itu dan dialog dengan beberapa anggota IIBF di pulau Jawa menguatkan keyakinan tim engine bahwa IIBF harus segera dibentuk di Riau karena banyak pengusaha setempat yang tidak tahu kemana membicarakan masalah-masalah bisnisnya.
 
Sosialisasi IIBF di Pekanbaru ini dilakukan juga dengan menggelarkan talkshow di radio Rabbani yang menghadirkan Presiden IIBF sebagai narasumber utama yang didampingi oleh Syahdanur yang mewakili tim engine.   Sesaat sebelum meninggalkan Pekanbaru, seorang peserta menceritakan kepada Presiden IIBF tentang  masalah hutang  yang dihadapinya. “Pak Heppy, saya adalah salah seorang yang menggunakan kartu kredit untuk membiayai bisnis saya. Dan saya orang yang tak tega untuk memberhentikan karyawan yang melakukan kesalahan-kesalahan kecil. Apa pendapat bapak tentang hal ini?” tanya pengusaha itu. Heppy tersenyum dan kemudian   berkata,” Segera tinggalkan kartu kredit, apalagi digunakan untuk membiayai bisnis.  Untuk menjadi pengusaha anda harus memutuskan dengan logika dan jangan memutuskan dengan emosi. Business is an intellectual sport, it isn’t an emotional sport.” (AA)
 
Last Updated ( Monday, 31 January 2011 07:59 )