Saturday, 25 October 2014
Al-Aqobah 4 : Membangun Pasar Sendiri
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Mampang, 5/02/2011. Pulanglah ke rumah dan lihat apa yang kita pakai dan kita konsumsi setiap hari. Lalu cek siapa yang membuat barang-barang kebutuhan yang kita pakai itu. Pasti sebagian besar  buatan luar dan sedikit sekali barang-barang buatan negeri sendiri. Apalagi beberapa tahun terakhir dengan membanjirnya produk China di Indonesia produk dalam negeri makin sulit ditemui. Mengapa? Karena banyak pengusaha Indonesia yang kolaps sebagai akibat dari membanjirnya produk-produk dari luar. “Di pasaran, produk-produk kita tidak ada yang membela. Rakyat kita lebih senang membeli produk orang lain,” kata Presiden IIBF, Ir. Heppy Trenggono, Mkomp.  Menurut Heppy, saat ini Indonesia berada dalam ancaman inflasi yang mengkhawatirkan. Serbuan produk luar itu menjadi salah satu faktor mempercepat kejatuhan ekonomi Indonesia. Dengan barang-barang selundupan saja sudah membuat industri dalam negeri berjatuhan. Apalagi  per 1 Januari 2011 lalu pemerintah sudah menandatangani perjanjian ACFTA (Asean China Free trade Area), pasar bebas dengan China. “Hanya dengan satu item tekstil saja, perusahaan garmen dalam negeri sudah  banyak yang gulung tikar. Hari ini pemerintah sudah menandatangani 300 item barang-barang buatan China yang bebas masuk ke pasar Indonesia,” kata Heppy di depan jemaah Al-Aqobah Jum’at malam.
 
Heppy mengungkapkan bahwa baru satu bulan ACFTA berjalan, Indonesia sudah mengalami defisit   US $ 1 Miliar. Defisit itu berarti pengeluaran. Pengeluaran atau kebocoran keuangan negara yang tinggi akan menyebabkan inflasi. Dan jika terjadi inflasi maka yang akan menanggung   adalah semua rakyat Indonesia. “Jangan dikira kenaikan harga cabai hari ini tidak ada hubungannnya dengan defisit US$ 1 miliar itu. Sebentar lagi akan diikuti dengan kenaikan-kenaikan barang-barang yang lain. Dan itu artinya kita semua yang akan ikut menanggung,” jelas Heppy.   Sebelum maraknya barang-barang luar di pasar dalam negeri, ekonomi Indonesia belum pulih benar. Tali kekang IMF yang mengendalikan pemerintah dengan 1.400 larangan sebagai kompensasi utang membuat Indonesia terjajah secara ekonomi. Jika tidak ada tindakan cepat maka bangsa ini akan menjadi bangsa terpuruk karena kalah dalam permainan ekonomi bangsa lain.
 
Untuk mencegah terjadinya kegagalan ekonomi negara ini, kata Heppy, paling tidak ada lima hal yang mendesak untuk dilakukan. Pertama, Pembangunan infrastruktur. China hari ini dapat memproduksi barang-barang murah karena infrastrukturnya sudah menjangkau desa-desa terpencil. Sehingga harga barang-barang satu tempat dengan yang lain tidak ada perbedaan signifikan. Infrastruktur yang baik akan memacu pertumbuhan ekonomi. Kedua, Membela produk Indonesia.  Jalan terakhir yang ditempuh ketika ekonomi negara terancam adalah dengan membangkitkan kecintaan terhadap produk bangsa sendiri. “Ketika ekonomi Inggris jatuh, Margaret Teacher meminta bangsa Inggris membela negaranya dengan membeli produk dalam negeri dengan slogan Buy British. Mau tidak mau kita juga harus melakukan langkah serupa,” kata Heppy. IIBF, kata Heppy akan melakukan hal ini dengan mengadakan kampanye penggunaan produk Indonesia yang akan dimulai pada pertengahan tahun ini. Ketiga, Menumbuhkan produksi secara massif. Menumbuhkan produksi massif dilakukan setelah infrstruktur terbangun dan kecintaan terhadap produk sendiri  sudah terbentuk. Bila ekonomi itu sebuah permainan (game) maka ekspor adalah aksi menyerang. Kita bisa melakukan penyerangan dengan baik jika kita siap dengan produk-produk. Namun sebelum melakukan penyerangan, di dalam negeri harus kokoh lebih dahulu agar tak mudah di infiltrasi oleh negara lain. Keempat, Menciptakan kehidupan yang murah. Ini bagian dari kultur yang harus dibentuk oleh pemerintah. Masyarakat harus dirubah pola hidupnya dari hidup life style ke kehidupan sederhana yang berbiaya murah. Masyarakat tidak diarahkan pada pola hidup konsumtif tetapi pada kebiasaan hidup produktif. “Jakarta adalah contoh kota yang mengarahkan masyarakatnya untuk hidup mahal dan konsumtif. Seharusnya yang harus tumbuh dimana-mana adalah pabrik bukan mal-mal seperti sekarang,” kata Heppy.  Kelima, menciptakan suprastruktur yang kuat. Kurs harus dikendalikan, lembaga keuangan tidak hanya mengeluarkan pinjaman konsumsi tetapi harus lebih banyak pada investasi. Suprastruktur kuat akan menjadi penjaga stabilitas terhadap fluktuasi harga, sehingga produksi  tidak terganggu dan masyarakat dapat mengatur anggaran.
 
Kelima hal itu, kata Heppy adalah bagian dari membangun raga. Dan itu akan berjalan jika jiwanya juga dibangun. Untuk membangun jiwa ada tiga hal yang harus ada dalam diri bangsa ini. Pertama, Kebanggaan terhadap jati diri, semua anak bangsa bangga sebagai bangsa Indonesia, Kedua, Keyakinan terhadap hukum di negeri ini berjalan. Ketiga, Jelas apa yang dibela. Dalam hal ini yang dibela adalah Kejayaan bangsa. “Selama ini kita juga bingung dengan identitas apakah negara ini adalah negara agraris, industry atau maritim? Kita harus membuat identitas baru bahwa negara kita adalah entrepreneur nation,” kata Heppy yakin. Untuk memudahkan pemahaman tentang gagasan ini Heppy mengatakan akan segara menyusunnya dalam sebuah buku yang berjudul “How to Build Indonesia Today” atau “Membangun Indonesia Sekarang” .

Indonesia hari ini sudah menjadi tempat gemuk pasar orang lain. Maka langkah pertama yang amat segera untuk menyelamatkan bangsa ini adalah dengan membangun pasar sendiri. Inilah makna ucapan Rosulullah kepada Abdurrahman bin Auf ketika melihat pasar Madinah ketika itu   dikuasai Yahudi. Rosul meminta agar Abdurrahman menguasai pasar itu atau membuat pasar sendiri. 
 
Muhasabah dan Qiyamullaail Al Aqobah 4 ini dipimpin oleh Ust. Helmy Jatnika hingga sholat Subuh. Pada bagian awal sore harinya, acara diisi dengan pembahasan dan pemantapan organisasi yang disampaikan sekjen IIBF, Aswandi As’an yang memimpin pembahasan tentang Calender of Event IIBF se-Indonesia.  Karena beberapa tim engine yang hadir dari berbagai daerah (Riau, Medan, Surabaya, Jogjakarta) meminta penjadwalan pelaksanaan program perdana dan pembentukan IIBF di wilayah masing-masing. Setelah itu Direktur Program IIBF, Edi Cahyanto menyampaikan tentang beberapa program IIBF yang segera akan dilaksanakan. Salah satunya adalah program Coach, dimana IIBF pusat akan menyelengggarkan Coach Class untuk membentuk para Coach IIBF di seluruh Indonesia sebanyak 120 orang. “Coach class ini tidak hanya bermanfaat untuk membantu orang lain tetapi juga untuk membangun perusahaan sendiri,” kata Edi. Hadir juga dalam Al Aqobah ini para pengusaha dari Sidoarjo dan Bojonegoro, Jawa Timur. (AA)
 
Last Updated ( Tuesday, 08 February 2011 11:17 )