Wednesday, 24 September 2014
Tiga Masalah Pokok Dunia Usaha Di Indonesia
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Jogjakarta, 18/02/2011.
Indonesia masih banyak kekurangan pengusaha untuk menggenjot ekonomi negara ini. Dari jumlah pengusaha Indonesia yang ada saat ini belum memenuhi syarat minimal untuk menjadi sebuah negara maju, 2% dari populasi (McLelland). “Kemajuan sebuah negara sangat ditentukan oleh sektor swasta, dan perkembangan sektor swasta sangat terkait dengan pertumbuhan para pengusahanya,” kata  Presiden IIBF Ir. H.Heppy Trenggono, Mkomp, dalam forum pengajian bisnis IIBF  D.I Jogjakarta, Senin malam. Pengajian bisnis ini diselenggarakan oleh tim engine IIBF Jogjakarta di gedung Jogja  Fish Market, Nitikan, Umbulharjo, Jogjakarta.

Heppy mengungkapkan ada tiga hal mendasar  yang menjadi masalah dunia usaha di Indonesia. Pertama, Mindset  entrepreneurship masih sangat rendah. Entrepreneurship itu tidak hanya harus dimiliki oleh pengusaha saja tetapi semua orang terlebih-lebih pemerintah. “Hanya pemerintah atau pemimpin yang entrepreneur saja yang tahu cara membangun kekayaan negaranya,” kata Heppy.    Entrepreneurship yang rendah ini yang menyebabkan pertumbuhan pengusaha di Indonesia sangat lamban.   Dorongan dan iklim untuk menjadi pengusaha di Indonesia berbeda dengan negara-negara kaya seperti Singapura atau Amerika. Di China, pemerintah mendorong agar setiap rumah tangga menghasilkan satu produk. Dan pemerintah campur tangan penuh memasarkan produk itu. Bandingkan dengan Indonesia ketika seseorang akan memulai sebuah usaha. Begitu rumit dan susahnya proses yang harus dijalani.  Bahkan ketika sudah berjalan pengusaha dibiarkan bertarung sendiri di tengah pasar bebas.
 
Kedua,  Angka kejatuhan bisnis yang tinggi. Mengacu pada data yang ada di Amerika, dari 100 bisnis yang tumbuh, hanya 4 % saja yang bisa sampai berumur 10 tahun. 50% jatuh pada tahun kedua, 80% bangkrut pada tahun kelima. Itu di negeri dimana pemerintahnya sangat mendorong dunia usaha yang memiliki prosentase pengusahanya sebanyak 11%. “Saya yakin di Indonesia angka kejatuhan bisnis lebih tinggi lagi. Karena banyak factor yang menjadi penyebabnya tidak hanya karena factor dari dalam si pebisnisnya tetapi juga factor eksternal yang menekan kehidupan sebuah bisnis,” jelas Heppy. 70% pebisnis, kata Heppy, financially incompetence. Padahal menguasai keuangan adalah keterampilan pokok yang harus dimiliki oleh seorang pebisnis setelah menjual. Kultur pebisnis di Indonesia yang belum terbiasa membicarakan masalahnya juga berpengaruh pada kejatuhan bisnis. Seolah-olah jika bicara persoalan dalam bisnis itu menjadi aib. Padahal di negara maju masalah bisnis itu adalah hal biasa untuk dibicarakan.
 
Ketiga, Tidak jelas nilai yang dibela. Ketidakjelasan apa yang dibela ini berpengaruh pada sikap dan keberpihakan warga negara terhadap sesuatu, termasuk pada produk-produk lokal. Tidak adanya pembelaan terhadap produk Indonesia menyebabkan banyaknya bisnis yang mati. “Seharusnya kita membeli sesuatu bukan karena murah, bukan karena lebih baik tetapi karena sesuatu itu buatan Indonesia,” kata Heppy bersemangat. Hari ini, kata Heppy, banyak anak-anak kita mencari penghidupan di negara orang lain sebagai TKI atau TKW karena ulah kita sendiri yang tidak mau membela produk negeri sendiri. Mereka yang jadi TKI dan TKW itu sebagian besar adalah mereka yang di PHK karena tempat mereka bekerja bangkrut. Bangkrut karena barang yang mereka hasilkan tidak ada yang membeli, karena rakyat kita lebih senang membeli barang buatan orang lain. 
 
Melihat dari tiga hal itu, lanjut Heppy, makin sempit jalan kita untuk menjadi sebuah negara besar dan jaya. Apalagi saat ini Indonesia sedang dilanda air bah barang-barang luar negeri. Bahkan ada barang-barang impor itu yang diberi label buatan Indonesia. Indonesia berada di tengah kepungan kekuatan ekonomi luar. “Ada satu pertahanan terakhir yang harus kita lakukan untuk keluar dari kepungan ini, yakni, Beli Produk Indonesia,” kata Heppy yang disambut takbir oleh para audien. Takbir itu bersamaan dengan hujan lebat yang membasahi bumi Ngayogyokarto Hadiningrat malam itu.  
 
Pengajian bisnis yang dihadiri oleh 300 orang lebih pengusaha di Jogjakarta itu berakhir menjelang pukul 23.30 wib. Usai ramah tamah dengan tim engine IIBF Jogjakarta, Heppy Trenggono meninggalkan lokasi itu ditemani Sekjen IIBF, Aswandi As’an, Direktur Program; Edi Cahyanto, Farid Tri Widodo, Direktur Keorganisasian dan Anggota, dan Sweet Luvianto, Direktur IT dan Logistik. Rombongan pulang menuju ke penginapan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta besok pagi. (AA)
 
Last Updated ( Friday, 25 February 2011 19:08 )