Saturday, 25 October 2014
Memulai Gerakan “BELI INDONESIA”
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail




Semarang, 27/02/2011. Dulu tanah air kita dijajah oleh negara asing, dan hari ini kehidupan kita dikuasasi oleh produk orang asing. Hampir semua barang kebutuhan hidup kita dibuat oleh orang asing. 92% produk teknologi yang kita pakai buatan asing, 80% pasar farmasi dikuasai asing, 80% pasar tekstil dikuasai produk asing. Dengan penduduk 237 juta jiwa Indonesia merupakan pasar besar yang sangat menggiurkan. Tetapi juga sangat menakutkan bila negara ini bangkit menjadi negara produsen.  Presiden IIBF, H.Heppy Trenggono menyampaikan dalam orasinya di depan 513 pengusaha dari 42 kota di Indonesia. Orasi itu adalah bagian dari peluncuran gerakan “BELI INDONESIA” yang digagas oleh sejumlah pengusaha yang ada di IIBF.
 
Indonesia hari ini tercatat sebagai negara yang paling konsumtif nomor 2 di dunia (AC Nieilsen). Itulah salah factor pendukung Indonesia menjadi surga bagi produk asing yang ditandai membanjirnya produk luar dengan menggeser produk lokal dan membunuh pabrik-pabrik yang membuatnya. “Tahun 2005 ada 429 pabrik tekstil kolaps, tiga tahun kemudian 200 diantaranya gulung tikar. Di tahun 2010, Indonesia mengalami defisit perdagangan dengan China sebesar Rp.53 Triliyun”, kata Heppy  
 
Lihat berapa pendapatan perusahaan-perusahaan asing di Indonesia. “Sebuah perusahaan yang menguasasi pasar air dalam kemasan meraup penjualan sebesar Rp. 10 triliyun/ tahun. Sebuah produsen minuman ringan yang menguasai 40 pasar minuman ringan dalam negeri dengan penjualan 10 trilyun/ tahun. Produsen yang consumer good berupa pasta gigi, shampoo, sabun dan-lain-lain menguasai 40 % pasar meraup penjualan Rp. 20 Triliyun/ tahun, kata Heppy berapi-api.  Heppy menambahkan, ada satu Produsen susu formula yang mengendalikan 80 persen petani susu di Indonesia, mengusai 50 %pasar susu dengan berbagai merek meraih penjualan sebesar Rp. 200 Triliyun/ tahun. (Bandingkan dengan anggaran satu tahun untuk Angkatan bersenjata kita yang hanya Rp. 30 Triliyun/tahun 2008). Sementara produk-produk baru bermerk lokal sangat sulit untuk masuk supermarket dengan cara membuat listing fee dan pemotongan harga yang sangat tinggi. 
 
Akibatnya, hari ini tercatat omset toko-toko kecil turun dari Rp. 800 ribu / hari menjadi Rp.400 ribu/ hari. Setiap tahun 1,6 juta pedagang tradisional bangkrut. Dan semakin hari semakin kecil kesempatan masyarakat untuk menjadi pedagang/ pengusaha karena semua sektor hulu dan hilir sudah dikuasai oleh pemain asing. Ini artinya Indonesia akan menghadapi bencana ekonomi yang lebih dahsyat dari bencana alam yang selama terus mendera negara ini. Sebelum ada AFCTA (Asean China Free Trade Area) industri tekstil dalam negeri sudah banyak yang kolaps hanya dengan barang-barang seludupan dari luar. Dan hari ini pemerintah telah membebaskan lebih dari 54.000 pos yang masuk ke Indonesia tanpa bea. Ibarat perang, Indonesia menghadapi musuh yang bersenjata lengkap tetapi kita bertelanjang dada.
 
Mengapa produk asing sangat bebas menguasai kehidupan kita sementara produk dan pemain lokal tidak tumbuh bahkan terus mati? Karena kita tidak memiliki sesuatu yang jelas untuk kita bela. Seharusnya kita membela Kejayaan Bangsa sendiri daripada membela kejayaan bangsa lain. Tidak jelasnya pembelaan ini juga yang membuat kita memutuskan untuk menghentikan produksi pesawat IPTN. “Apa yang kita bangun kita hancurkan dengan tangan sendiri. Kita sebut bahwa negara kita ini tidak cocok untuk industry high-tech seperti pesawat karena kita negara agraris.  Hari ini, agraris juga tidak dibangun sementara high-tech kita matikan,” jelas Heppy. Seharusnya saat ini kita sudah menjadi negara pembuat pesawat hebat, namun kenyataannya kita sangat bangga disebut sebagai pembeli pesawat.
 
Maka sekarang, lanjut Heppy, kita harus membangun dan membela negeri sendiri. Caranya dimulai dengan membeli produk buatan sendiri. Inilah pertahanan terakhir menghadapi gempuran produk asing untuk menghindari terjadinya bencana ekonomi Indonesia ke depan.  Membeli produk sendiri berarti kita membela bangsa dan saudara sendiri. Jika produknya dibeli maka akan bertumbuh industri-industri. “Jika industri tumbuh maka tidak perlu lagi anak-anak negeri ini pergi ke luar negeri menjadi TKI karena mereka mudah mendapatkan penghidupan di negeri sendiri,”  kata Heppy.
 
Di bagian akhir orasinya Heppy mengajak semua pihak untuk ikut mengkampanyekan gerakan ini. Sebagian dari peserta yang hadir dalam acara ini adalah para pengurus dan pembina dari komunitas bisnis seperti TDA yang hadir dengan beberapa pengurus dan ketua Dewan Pembinanya, H. Alay. Hadir juga Presiden MIFTA, Deddy Rahman, Walikota Pekalongan M.Basyir Ahmad yang datang bersama istrinya, dan lain-lain. Untuk gerakan Beli Indonesia ini, kata Heppy, IIBF telah menetapkan tiga sikap perjuangan, Pertama, Membeli Indonesia. Membeli produk bukan karena lebih baik, bukan karena lebih murah tapi karena buatan Indonesia. Kedua, Membela Indonesia. Sikap jelas dalam pembelaan. Membela martabat bangsa, membela kejayaan bangsa. Ketiga, Menghidupkan Persaudaraan. Aku ada untuk kamu, kamu ada untuk aku, kita ada untuk tolong menolong  
 
Usai orasi itu, acara dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen Beli Indonesia oleh semua peserta yang hadir pada sebuah spanduk yang berlogo dan bertuliskan “BELI INDONESIA”. Doa penutup dipimpin oleh Ustadz Helmy Jatnika. Usai peluncuran ini sejumlah perwakilan pengusaha dari seluruh Indonesia mengadakan rapat pembentukan panitia Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia (Kongres KEI) yang digelar di Solo, Jawa Tengah pada pertengahan Juni 2011.  (AA)
 
Last Updated ( Wednesday, 02 March 2011 15:15 )