Tuesday, 21 October 2014
Panitia KEI Survey Tempat Kongres
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail


Solo, 13/03/2011. Panitia Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia (KKEI) sudah melakukan berbagai persiapan teknis untuk mematangkan rencana pelaksanaan kegiatan itu. Minggu siang panitia pengarah (SC) dan panitia pelaksana (OC) KKEI melakukan survey ke beberapa lokasi yang akan dijadikan tempat berbagai even yang akan diselenggarakan dalam KKEI itu. Istana Mangkunegaran adalah salah satu alternatiif utama tempat pembukaan acara itu. “Istana ini adalah simbol perlawanan rakyat terhadap penjajah yang ingin menguasai tanah air Indonesia dulu. Semangat itu akan kita kobarkan lagi untuk melawan penjajahan dalam bentuk lain yang sekarang telah menguasai kehidupan kita, “   kata H. Adib, ketua OC menjelaskan tentang alasan pemiihan tempat itu. Pendopo istana yang dibangun pada tahun 1804 oleh Raden Mas Said atau yang lebih dikenal dengan Pangeran Samber Nyowo itu bisa menampung 1.000 lebih tamu dan undangan pada saat acara pembukaan .
 
Selain istana Mangkunegaraan, tim panitia juga mensurvey beberapa tempat sebagai arena expo berbagai produk buatan anak bangsa sendiri. Salah satunya Graha Wisata Niaga yang lebih dikenal taman Sri Wedari yang terletak di jalan Slamet Ryadi, Solo. “Kita juga menyiapkan tempat-tempat tambahan jika peserta expo melebihi kapasitas yang kita siapkan, tetapi yang pasti kita akan melibatkan sebanyak-banyak pengusaha Indonesia yang ingin terlbat dalam acara ini. Mulai dari pengusaha kecil, menengah hingga pengusaha yang berskala multinasional,” jelas H. Adib.   Beberapa tempat tambahan itu, lanjut Adib, areal city walk di sepanjang jalan Slamet Ryadi dan beberapa lapangan yang ada di kota Solo. Usai melihat tempat expo, tim kemudian bergerak ke beberapa hotel yang akan menjadi tempat rapat dan sidang untuk acara ini. Hotel Sunan adalah hotel pertama yang ditinjau. Menurut Adib pertimbangan pada hotel ini karena hotel ini adalah hotel milik pengusaha Indonesia . Disamping pertimbangan pada fasiltas dan daya tampung ballroom hotel itu. Tim sempat bertemu dengan manajemen hotel itu selama 1 jam untuk menjajaki dan bertukar info KKEI yang akan dilaksanakan pada Juni mendatang.
 
Usai survey, tim menggelar rapat di rumah ketua OC, H. Adib, di jalan Kenanga Solo. H. Adib adalah seorang pengusaha property dan juga pemilik busana muslim “Bilqis” yang dikelola bersama istrinya. Rapat membahas tentang tempat-tempat yang telah disurvey dan hal-hal teknis lainya. Konsumsi rapat disiapkan H. Suripto, pengusaha kuliner Solo yang terkenal dengan rumah makan “Dapur Solo” nya. Dalam kepanitiaan ini Suripto menjadi koordinator konsumsi kongres. Pria berkumis yang selalu tersenyum ini juga adalah pemilik bakso “Kadipolo” yang terkenal di kota Solo. Rapat ini dihadiri oleh sebagian besar panitia  yang berasal dari Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, Semarang, Bojonegoro, Sidoarjo, Solo dan lain-lain. 
 
Ketua  Steering Committee KKEI, H. Joni Izsunaji menjelaskan bahwa ada beberapa hal penting yang akan dibicarakan dalam kongres KKEI ini. Selain menetapkan beberapa keputusan penting yang akan diambil dalam gerakan kebangkitan ekonomi Indonesia ke depan kongres juga akan menetapkan seorang figur yang akan memimpin gerakan ini. “Gerakan, organisasi atau kelompok apapun tidak akan berjalan tanpa ada kepemimpinan. Maka sangat penting bagi kita untuk mencari seseorang yang dapat memimpin gerakan ini,” kata H. Joni. Menurut pengusaha property dan agri bisnis asal Semarang ini, saat ini tim SC sedang mempersiapkan draft-draft dan alat kelengkapan kongres. Sementara itu, Ketua Humas KKEI, Aswandi As’an menjelaskan alasan dipilihnya Solo sebagai tempat penyelenggaraan kongres. Menurutnya ada beberapa pertimbangan dari pengaggas dan inisiator KKEI. Pertama, secara historis Solo adalah tempat berdirinya sebuah organisasi yang membangkitkan ekonomi rakyat dari cengkeraman penjajah. “Haji Samanhudi pada tahun 1911 telah membentuk sebuah organisasi Syarikat Dagang Islam untuk melawan dominasi penjajah. Saat itu Indonesia belum terbentuk secara de jure, maka Islam dijadikan sebagai identitas perekat oleh pendiri organisasi itu,” jelas Aswandi. Hari ini, lanjut Aswandi, para pengusaha Indonesia yang terlibat dalam kongres ini akan melakukan hal yang sama dalam satu ikatan bernama Indonesia, sebuah nama yang sering kita lupakan yang telah menyatukan kita semua dalam kebhinekaan.   Kedua, secara sosiologis masyarakat dan pemerintah kota Solo adalah komunitas yang dibangun dengan semangat entrepreneurship. “Indikasinya  dapat dilihat pada kebijakan kota Solo yang pro terhadap pelaku ekonomi mikro melalui penataan pedagang kaki lima. Jika di beberapa kota kaki lima dianggap beban di Solo justru menjadi kekuatan dan daya tarik kota ini,” jelas Aswandi.  Ketiga, secara geografis kota ini berada di tengah-tengah pulau Jawa. “Semarang terlalu utara, Jogja terlalu ke selatan, maka kita pilih Solo sebagai kota di tengah-tengahnya,”  terang Aswandi. Diluar alasan itu, menurut mantan reporter televisi ini, Solo juga memiliki simbol-simbol sejarah yang menyiratkan perjuangan dan semangat melawan penjajah dan kemandirian. “Salah satunya adalah istana Mangkunegaran itu,”  katanya singkat.
 
Menyinggung tentang capaian yang ingin diraih dalam kongres ini, Aswandi menjelaskan bahwa secara pragmatis kongres akan menghasilkan keputusan-keputusan strategis untuk gerakan kebangkitan ekonomi Indonesia ke depan. Namun tujuan sesungguhnya adalah terbentuknya sebuah karakter bangsa ini untuk membela bangsanya. “Karakter itu terbentuk jika kita bisa menjawab tiga pertanyaan. Salah satunya adalah, apa yang kita bela?” jelas Aswandi. Hari ini, kata Aswandi kita bingung tentang apa yang kita bela. Maka dengan kongres kita ingin memperjelas kepada semua pihak bahwa kita harus membela kejayaan bangsa sendiri. Caranya dengan membeli dan memakai produk bangsa sendiri. Sebuah cara sederhana tetapi memiliki dampak luas dalam kemandirian dan martabat bangsa. Jika kita membeli produk bangsa sendiri maka industri dalam negeri akan bertumbuh. Industri bertumbuh berarti lapangan kerja banyak tersedia. Lapangan kerja yang banyak adalah penghidupan untuk anak bangsa kita. Artinya, anak-anak kita kita tidak perlu merendahkan martabatnya pergi ke negeri orang sebagai pembantu, yang ujungnya juga menjatuhkan martabat bangsa.  Industri yang tumbuh juga akan menumbuhkan keuangan masyarakat dan keuangan negara.
 
Ditanya tentang alasan mengapa karakter? Aswandi kemudian mengutip ucapan penggagas KKEI, Heppy Trenggono. “Sistem, hukum dan sumber daya alam adalah sangat penting untuk kemajuan sebuah bangsa. Tetapi  karakter adalah segala-galanya. Tanpa karakter sebuah bangsa tidak memiliki masa depan.”  (AA)
Last Updated ( Monday, 14 March 2011 17:04 )