Wednesday, 17 September 2014
TDA Surabaya Gelar Preview Debt Free dan Beli Indonesia
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Surabaya, 15/03/2011.  200 lebih anggota TDA (Tangan Di Atas) Surabaya mengikuti preview How To Be Debt Free, di sebuah rumah makan di kawasan mesjid Agung Surabaya, Selasa malam. Preview ini disampaikan dalam forum yang digelar oleh pengurus TDA Surabaya. Aditiya, ketua TDA Surabaya menjelaskan bahwa pihaknya sudah lama mendengar di dunia maya tentang workshop yang mengajarkan tentang hidup dan bisnis tanpa hutang  yang dibawa oleh Heppy Trenggono. “Tahun lalu saya pernah menghadiri acara yang diisi oleh Pak Heppy di sebuah hotel di Surabaya. Saat itu saya berkeinginan untuk menghadirkan Pak Heppy untuk bicara di forum TDA. Maka ketika dipercaya sebagai ketua TDA Surabaya beberpa bulan lalu saya langsung menghubungi teman-teman IIBF untuk menjadwalkan Pak Heppy ke Surabaya lagi,” kata Adit. Momen itu, lanjut Adit, semakin terbuka ketika IIBF Jawa Timur berencana menggelar workshop How To Be Debt Free, 26 - 27 Maret 2011. Maka sebelum acara itu dimulai, kata pengusaha restoran ini, dia  meminta Presiden IIBF untuk memberikan gambaran singkat tentang workshop itu. “Alhamdulillah keinginan itu terwujud setelah selasa malam anggota TDA dengan sangat antusias mengikuti materi yang disampaikan Pak Heppy malam itu,” ungkap Adit sumringah.
 
Sementara itu Presiden IIBF, Ir. H. Heppy Trenggono, Mkomp, dalam uraiannnya di forum itu mengatakan bahwa hutang itu adalah sesuatu yang addicted, dan untuk melunasi hutang tidak hanya dibutuhkan uang tetapi juga mentalitas.  Banyak orang yang jatuh dalam lilitan hutang karena tidak memahami tentang seluk beluk hutang. “Untuk kaya kita perlu menguasai ilmu bisnis, dan untuk tidak jatuh menjadi miskin kita harus menguasasi ilmu tentang hutang,”  kata Heppy.   Dan syarat utama yang harus dipenuhi untuk keluar dari hutang, kata Heppy, adalah memiliki niat untuk melunasi hutang. Karena banyak orang yang berhutang selalu mencari cara dan alasan untuk tidak membayar hutangnya. “Saya ini dulunya adalah jagonya ngutang dan hampir semua bank-bank besar itu pernah saya utangi, dan setelah saya jatuh dalam 62 miliar itu, saya baru tahu kalau ternyata hutang itu harus dibayar,” kata Heppy disambut gerrr para peserta.
 
Pada bagian akhir materinya Heppy Trenggono memaparkan tentang gerakan Beli Indonesia yang telah di-launch di Semarang akhir Februari 2011. “Jika rumah kita adalah surga maka kini Indonesia telah menjadi surga untuk produk orang lain. Dan jika tidak ada semangat pembelaan terhadap kejayaan bangsa sendiri maka Indonesia berada dalam situasi yang mengkhawatirkan karena kita akan mengalami penjajahan dalam bentuk lain,”  kata Heppy berapi-api.   Heppy meminta semua pihak untuk terlibat aktif mendukung gerakan ini karena ini adalah satu-satunya pertahanan terakhir untuk membendung serbuan produk-produk asing. Semua negara melakukan ini dan memprotek negaranya untuk tidak membebaskan produk luar masuk ke negaranya. Indonesia adalah satu-satunya negara yang tidak khawatir dan menganggap serbuan produk asing itu sebagai hal yang baik-baik saja.  Heppy juga meminta kepada para anggota TDA untuk ikut serta dalam Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia (KKEI) yang akan digelar di Solo bulan Juni 2011. “Tidak perlu khawatir apakah gerakan ini akan berhasil atau tidak. Jika Indonesia keluar menjadi negara kuat dan jaya maka kita ada di dalamnya, namun jika Indonesia jatuh dan terpuruk maka kita telah melakukan sesuatu untuk bangsa kita,” kata Heppy yang disambut takbir oleh peserta.
 
Preview Debt Free dan Beli Indonesia ini adalah rangkaian acara Sharing Bisnis TDA Surabaya, Jawa Timur. Sebelumnya Ketua Dewan Pembina TDA, H. Alay memberi materi tentang Spiritual Entrepreneurship sebagai sesuatu yang harus dimiliki seorang untuk menjadi pebisnis yang kuat. 
 
Sebelum acara ini dimulai siangnya, pengurus TDA Surabaya menggelar talk show di radio Tri jaya dan radio JJ FM. Talkshow itu menghadirkan Heppy Trenggono dan pengurus TDA Surabaya sebagai pembicara. “Kami ingin sekali melibatkan kawan-kawan pengusaha non TDA dalam acara ini, namun kami terpaksa harus membatasi karena kapasitas tempat yang sangat terbatas,” kata Aditya menjawab telepon dan sms pendengar. Pihaknya, kata Adit terpaksa membagi kuota untuk teman-teman TDA di kota-kota lain dari wilayah Jawa Timur. Namun demikian, lanjut Adit, bagi pengusaha yang ingin mengikuti acara serupa silahkan untuk menghubungi panitia How To Be Debt Free tanggal 26 - 27 Maret. “Di situ akan dibicarakan lebih luas dan lebih komprehensif,” katanya mengakhiri pembicaraan. (AA)
Last Updated ( Wednesday, 16 March 2011 20:26 )