Thursday, 02 October 2014
IIBF Jogjakarta Didirikan
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Jogjakarta, 18/03/2011. Satu abad lalu, KH. Ahmad Dachlan meminta para santrinya untuk mempelajari surat Al-Maun sampai fasih. Namun setiap kali santrinya melaporkan bahwa mereka sudah menghafal dan memahami surat itu, Sang Kyai mengatakan bahwa mereka belum belajar. Sampai ada seorang santri yang memberanikan diri bertanya apa yang dimaksud dengan belum belajar itu. Sang Kyai kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sudah belajar itu jika sudah mengamalkan isi dari ayat itu. Maka kemudian  Achmad Dahlan mendirikan Panti Asuhan pertama Muhammadiyah di Jl. Sorosutan, Lowanu, Jogjakarta, sebagai bentuk dari pemahaman atas proses belajar dari surat Al Maun itu.
 
Jum’at malam, aula Panti Asuhan Putera Muhammadiyah itu dijadikan tempat penetapan dan pelantikan Pengurus Wilayah IIBF Daerah lstimewa Jogjakarta. Presiden IIBF, Ir. H.Heppy Trenggono, MKomp, melantik Pengurus IIBF wilayah DIY dengan AR. Iskandar dan  M. Irfan Islami sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Umum.  Ketua Dewan Pembina dipercayakan kepada Prof. DR. M. Suyanto, Pengusaha yang juga seorang akademisi.   Surat keputusan Pengurus Pusat IIBF tentang pengangkatan pengurus IIBF DIY ini dibacakan oleh Direktur Program Edi Cahyanto.
 
Usai pelantikan, acara dilanjutkan dengan pemaparan tentang sejarah, misi, visi dan tujuan IIBF oleh Sekjen IIBF, Aswandi As’an. Dalam pemaparannnya Aswandi menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa yang menjadi latar belakang berdirinya IIBF. IIBF, menurut Aswandi adalah organisasi yang terbentuk atas permintaan dan desakan sejumlah pengusaha di Semarang agar Heppy Trenggono membuat sebuah lembaga untuk menolong para pengusaha dalam menjalankan binisnya. “Awalnya hanya satu dua orang yang datang ke rumah atau ke kantornya Pak Heppy. Namun semakin bertambah seiring dengan kebangkitan beberapa pengusaha yang pernah mengikuti saran pak Heppy dalam memperbaiki kinerja perusahaannya. Hingga akhirnya tidak mungkin lagi untuk menangani satu persatu,” ungkap Aswandi. Maka kemudian diadakan sebuah workshop secara massal tentang masalah-masalah bisnis dan cara mengatasinya . Workshop yang diberi nama Business Rich Class itu diikuti 300 orang lebih yang diadakan di hotel Metro Semarang, Jawa tengah. Pada penghujung workshop di hari kedua IIBF dideklarasikan. “IIBF bukan lembaga workshop atau training tetapi adalah gerakan untuk membangun bangsa dengan cara mencetak para pengusaha-pengusaha kuat,” kata Aswandi.  IIBF sendiri, lanjut Aswandi  mentepakan tujuannya “Mencetak pengusaha -pengusaha kuat yang berbisnis layaknya pengusaha kelas dunia dan berperilaku sebagaimana muslim yang bertakwa”.  Sedangkan visi IIBF adalah mencetak satu juta pengusaha yang kuat pada tahun 2020.
 
Pada sesi pengajian bisnis, Presiden IIBF, Heppy Trenggono menjelaskan tentang pentingnya sebuah karakter untuk kebangkitan ummat dan bangsa.  “Untuk membangun kita bisa belajar dari Jepang, China, Amerika dan negara-negara lain. Tapi mengapa ketika strategi itu diterapkan di Indonesia tidak ada yang jalan?” kata Heppy dengan nada bertanya. Menurutnya ada satu yang hilang di bangsa ini yang menyebabkan semua strategi tidak berjalan yakni, karakter.  Rosulullah Muhammad SAW telah mengajarkan kepada kita untuk membangun karakter jika ingin membangun sebuah masyarakat atau bangsa. IIBF, kata Heppy juga yang dilakukan adalah sama, yakni membangun karakter para pengusaha. “Gerakan Beli Indonesia yang kita launching akhir Februari lalu juga untuk membangun karakter, yakni karakter pembelaan terhadap bangsa sendiri melalui pemebelian dan pemakaian produk bangsa sendiri,”  kata Heppy penuh semangat.  Heppy mengatakan bahwa pembentukan karakter itu adalah tugas utama seorang pemimpin. Maka keberhasilan seorang pemimpin dapat diukur dari karakter yang dimiliki oleh orang-orang atau bangsa yang dipimpinnya. Tidak akan ada kepemimpinan tanpa ada seorang pemimpin yang kuat dan pengikut yang taat.
 
Ikut hadir dalam acara ini adalah pemimpin majelis zikir Assamawat, KH. Saadih Albatawi dengan beberapa orang tim method dan tim asatiz majelis itu.  Atas permintaan Presiden IIBF, Kyai Saadih ikut memberi semangat kepada para pengurus dan anggota IIBF Jogjakarta. “Perjuangan itu akan berhasil jika orang-orang yang ada didalamnya memiliki sifat ikhlas dan tidak mengharap bayaran,” kata Kyai Saadih. Bayarannya, lanjut Kyai asal Betawi ini adalah ridho Allah karena itulah hakikat pencarian dalam kehidupan yang singkat ini.   Kyai Saadih kemudian menutup acara dengan doa. (AA)
Last Updated ( Monday, 21 March 2011 17:57 )