“Beli Indonesia” di Auditorium Fakultas Kehutanan UGM
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Jogjakarta, 18/03/2011. Menjawab keinginan sejumlah mahasiswa yang ingin menjadi entrepreneuer, Presiden IIBF, Heppy Trenggono memberikan ceramah tentang entrepreneurship di Universitas Gajah Mada, Jogjakarta. Acara yang digelar di auditorium fakultas Kehutanan UGM itu diadakan oleh badan mahasiswa setempat dengan mengundang badan perwakilan mahasiswa dari sejumlah kampus di Jogjakarta. Ada sekitar 200-an mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan jurusan menghadiri acara itu.  Sebagian besar peserta adalah mahasiswa yang sudah memiliki usaha. Novie Ekawati, ketua panitia  penyelenggara mengatakan dia dan rekan-rekannya sudah lama mendengar tentang program-program entreprenurship yang diadakan oleh Heppy Trenggono dan IIBF. “Kami agak terlambat merespon dibandingkan dengan teman-teman Bandung dan Semarang,” katanya. Maka untuk memulai, jelas Novi pihaknya mengundang Heppy Trenggono dan timnya untuk ke UGM. Panita mengambil thema “Belajar  dari Heppy Trenggono untuk Menjadi Mahasiswa Entrepreneur”.
 
Presiden IIBF, Heppy Trenggono dalam ceramahnya membuka dengan menceritakan perjalanannya  dalam membangun bisnis. Heppy menjelaskan bahwa dia mulai berbisnis sejak semester dua yang dijalankanya sambil kuliah dan bekerja pada sebuah perusahaan swasta. Bisnis menurut Heppy bisa dilakukan siapa saja, apapun latar belakangnya. Dan cara berpikir seperti seorang pebisnis yang cerdas secara finansial itu adalah sebuah cara berfikir yang harus dimiliki oleh semua orang. “Entreperenuership itu harus dimiliki oleh semua orang, bukan hanya pengusaha saja. Terlebih lagi pemeritah harus memiliki mindset  entrepenurship,”  kata Heppy.   Negara-negara maju dunia adalah negara-negara yang dipimpin oleh pemimpin yang memiliki mindset entrepreneurship. Sebuah negara yang tidak memiliki sumber daya alam yang memadai dapat keluar menjadi negara yang kuat jika pemimpinnya seorang yang memiliki mindset ini. Sebaliknya negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah bisa keluar sebagai negara miskin dan terbelakang jika pemimpinnya tidak memiliki jiwa entrepreneurship.
 
Heppy kemudian menyampaikan beberapa tips   untuk memulai sebuah bisnis.  Modal menurut Heppy adalah hal yang selalu dibicarakan atau dipersoalkan oleh orang yang mau memulai bisnis.  Dan modal selalu identik dengan uang yang banyak. “Faktanya, banyak orang yang hari ini menjadi seorang pebisnis sukses adalah orang yang memulai bisnis dengan modal nol. Uang yang terlalu banyak cenderung membuat kita bodoh,” kata Heppy. Jika diibaratkan makanan, uang itu tidak termasuk dalam resep makanan , tetapi adalah api atau minyak yang mematangkan makanan itu. Maka jika apinya terlalu kecil maka makanan tidak akan matang, sebaliknya jika apinya terlalu besar maka makanan akan gosong.   Hampir sebagian besar pebisnis memulai bisnis dengan cara nekad. “Nekad itu baik-baik saja bahkan harus ketika kita memulai bisnis. Tetapi nekad bukanlah strategi yang bisa dipakai terus menerus. Langkah selanjutnya harus berbisnis dengan ilmu dan ketrampilan bisnis,” kata Heppy menjawab pertanyaan salah seorang peserta. Seorang pebisnis pro, kata Heppy berbisnis dengan intelektualnya sedangkan seorang pebisnis amatir berbisnis dengan emosinya.
 
Sedikitnya jumlah pengusaha di Indonesia, selain disebabkan minimnya mindset entrepreneurship juga disebabkan kurangnya karakter, yakni karakter pembelaan terhadap bangsa sendiri. “Orang lebih bangga jika bisa membeli dan memakai produk orang lain daripada produk bangsa sendiri, “ kata Heppy. Tidak adanya pembelaan terhadap produk dalam negeri menyebabkan tidak bertumbuhnya industri sehingga  keuangan masyarakat dan keuangan pemerintah juga tidak  berkembang baik. Heppy kemudian memaparkan data-data dan angka penjulan produk asing di Indonesia. Satu produk air minum menguasai 93% pasar air minum dalam kemasan dalam negeri. “Jika produknya itu roket atau teknologi tinggi saya bisa memahami, tapi ini air minum yang hanya tinggal mengambil saja   dari dalam tanah. Ekspolitasi air tanah juga telah menyengsarakan petani-petani kita di beberapa daerah karena kekurangan air untuk mengairi sawahnya. Mengapa ini terjadi? karena produknya kita bela,” kata Heppy.
 
 Maka, untuk membangkitkan ekonomi Indonesia,  sekarang telah ada sebuah gerakan “Beli Indonesia” yang diluncurkan oleh sejumlah pengusaha di Semarang akhir Februaru lalu. “Membeli bukan karena lebih baik, bukan karena lebih murah, tapi karena milik bangsa sendiri,” jelas Heppy. Semua bangsa di dunia melakukan pembelaan produk negaranya. Dan hari ini kita bangsa Indonesia tidak mau melakukannnya karena kita tidak tahu apa yang kita bela. “Siapkah adik-adik semua bergabung dalam gerakan ini…?” tanya Heppy. “Siaaaap!!!!” mahasiswa menjawab serempak sembari mengangkat jari telunjuk sebagai simbol gerakan Beli Indonesia. Heppy kemudian mengucap salam sebagai akhir dari presentasinya.  (AA)
 
Last Updated ( Monday, 21 March 2011 17:59 )