Para Kyai Meminta Perjuangan Diteruskan
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Magelang, 19/03/2011. Hutang ternyata tidak hanya menjadi persoalan pelik para pebisnis besar tetapi juga pelaku ekonomi mikro di pasar-pasar tradisional. Ibu-ibu pedagang yang berjualan di pasar-pasar di sekitar Jogjakarta dan Jawa Tengah banyak yang terjebak lilitan hutang. Pemahaman tentang hutang yang keliru adalah penyebab utama para pedagang kecil ini jatuh dalam lilitan hutang. Maksud hati ingin segera keluar dari masalah dengan cara mengambil “uang mudah” malah justru jatuh dalam masalah yang lebih besar dari masalah sebelumnya. Rayuan uang mudah itu membuat para pedagang tidak memperdulikan berapa besar bunga yang harus dibayarnya.  Fakta ini terungkap dalam tanya jawab di forum pengajian bisnis yang digelar oleh Pondok Pesanteren Al Husein, Krakitan, Salam, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu siang.   Sebuah pondok pesanteren yang dipimpin oleh KH. Muhsin yang terletak di ruas jalan Magelang-Jogjakarta. Pengajian bisnis yang menghadirkan pembicara tunggal Presiden IIBF, Ir. H. Heppy Trenggono, MKomp ini,  dihadiri oleh sejumlah pimpinan pondok  pesanteren di sekitar Jogjakarta dan Jawa Tengah. Di forum itu beberapa kyai dan pengasuh pondok juga mengungkapkan masalah yang sama. Banyak jemaah pengajian dan warga sekitar pesanteren yang menjadi pelaku ekonomi menengah mengalami masalah serupa, hutang.  Bedanya dengan ibu-ibu pedagang  tadi angka mereka sudah pada level puluhan hingga ratusan juta rupiah. “Hutang itu sudah menjadi masalah jemaah kita, pak Heppy, dan kita semua tidak tahu kemana harus mengadu dan mencari tahu bagaimana caranya terhindar dari lilitan hutang,” kata seorang Kyai yang mengaku mewakili  teman-teman dan jemaahnya. 
 
Menjawab pertanyaan itu, Heppy memberi beberapa tip Apa yang harus dilakukan dan Apa yang tidak boleh dilakukan  dalam berbisnis. “Hindari riba dalam bisnis karena tidak ada bisnis yang sehat jika di dalamnya ada uang-uang riba. Riba itu tidak hanya menghilangkan keberkahan tetapi juga menjadi pintu masuk 73 dosa besar lainnya,” kata Heppy.  Bagi mereka yang sudah terlanjur terlilit hutang Heppy meminta untuk segera berhenti berhutang. Apalagi hutang itu digunakan untuk membayar bunga hutang yang lain. “Sangat tidak boleh, “ kata Heppy tegas.   Dan hal pertama yang harus ada untuk bisa lunas  hutang adalah niat untuk melunasi  hutang itu. Karena banyak orang mencari berbagai cara untuk menghindari membayar hutang. Orang yang memiliki niat untuk membayar hutang, jaminan Allah untuknya bahwa hutangnya akan lunas di dunia. Dalam banyak kasus, orang yang jatuh dalam lilitan hutang dapat bebas  dari hutang dan bangkit dengan kekayaan yang berlipat-lipat dari sebelumnya. Syaratnya, lanjut Heppy, orang itu tetap menjadi orang yang bermental kaya. Meski dalam posisi berhutang orang itu tetap memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan. “Maka jangan pernah untuk meminta sedekah jika bapak ibu mau keluar sebagai orang kaya,”  Heppy memperingatkan.  Sedekah itu, lanjut Heppy bukan dari orang kaya kepada orang miskin tetapi dari orang yang mau kepada orang yang membutuhkan. Karena itu Alqur’an banyak menggunakan istilah lapang dan sempit untuk orang yang mau bersedekah dan menafkahkan harta.
 
Pada bagian awal pengajian, Heppy banyak menceritakan perjalanan hidup dan bisnisnya. Suka duka sebagai seorang pengusaha dan perjuangannya untuk beralih ke bisnis yang berdasarkan pada nilai-nilai Alqur’an dan Hadist. “Saya justru jatuh ke dalam hutang Rp.62 miliar setelah saya berkomitmen untuk meninggalkan bisnis dengan system riba ke bisnis yang syariah. Tetapi saya sampaikan kepada Allah SWT, Ya Allah, jika ini adalah kehendakmu maka aku ridho dan tidak ada urusannnya dengan yang lain,” kata Heppy . Apa resepnya untuk bisa bangkit dari hutang 62 miliar itu..? “Terus terang saya tidak tahu. Yang saya lakukan hanya sa’i  saja,” ungkap Heppy . Sa’I yang dimaksud Heppy adalah terus berusaha membangun diri dan bisnis. Belajar ilmu-ilmu bisnis dan mendalami agama hingga terus mencari peluang di dalam dan di luar negeri. Dan dari perjalanan itulah muncul bisnisnya yang sekarang yang disebutnya sebagai “rizki yang tak disangka-sangka”.
 
Pada bagian akhir Heppy mengajak para ulama dan jemaah untuk bersama-sama membangun ekonomi ummat dan bangsa agar ummat dan bangsa Indonesia ini tidak mengalami keterbelakangan dan penjajahan ekonomi. “Dulu yang dijajah adalah tanah air kita, hari ini yang dijajah adalah kehidupan kita dengan membanjirnya produk-produk asing yang membuat kita tidak berdaya. Maka untuk membangkitkan ekonomi ummat dan bangsa ini kita harus mulai dengan semangat pembelaan terhadap umat dan bangsa sendiri, “ kata Heppy. Heppy kemudian menyampaikan gerakan Beli Indonesia kepada para hadirin dan memperkenalkan simbol jari telunjuk untuk Beli Indonesia. Dengan membeli produk sendiri maka industri akan bertumbuh, industri tumbuh berarti lapangan kerja meningkat, lapangan kerja banyak adalah penghidupan untuk anak-anak bangsa. “Tidak perlu anak-anak kita ke negeri orang menjadi TKI atau TKW karena kehidupan ada di negeri sendiri,” Heppy meyakinkan. Dan jika ekonomi rakyat bergerak dengan sendirinya ekonomi negara juga terangkat.
 
Azan zhuhur sudah berkumandang dan pengajianpun berakhir yang dilanjutkan dengan sholat Zhuhur berjemaah. Usai sholat sebagian besar jemaah masih enggan meninggalkan mesjid pesanteren itu dan terus mengikuti , seolah-olah waktu selama 4 jam tadi masih terasa kurang. Di pendopo rumah KH. Muhsin, Heppy dan rombongan pamit kepada para kyai dan ulama untuk segera  kembali ke Jakarta. KH. Muhsin tak bisa menyembunyikan rasa harunya dan meminta Heppy Trenggono untuk kembali datang ke pesanterennya. “Pak Heppy, ini permintaan dan saya sungguh-sungguh  meminta agar bapak bisa kembali lagi ke sini. Saya tahu bapak sangat sibuk dan saya tahu banyak orang yang membutuhkan bapak di tempat lain. Kami semua di sini berdoa agar bapak tetap istiqomah dan terus melanjutkan perjuangan ini,” kata Kyai Muhsin dengan penuh haru yang diamini oleh kyai yang lain.   “Insya Allah, Pak Kyai. Mudah-mudahan Allah meridhoi dan memberi  kita petunjuk,” balas Heppy sembari memeluk para ulama bergantian. Selang beberapa saat, Alphard hitam   B 1207 J itu bergerak meninggalkan halaman pesanteren itu menuju bandara Adi Sucipto, Jogjakarta. (AA)
Last Updated ( Thursday, 24 March 2011 10:00 )