Dua Hari Itu Tak Cukup ...
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Surabaya, 27/03/2011, Membicarakan masalah bisnis apalagi masalah itu menyangkut hutang, waktu 2 hari bukanlah waktu yang cukup dan memuaskan. Jika yang dibahas itu masalah satu orang, mungkin saja tetapi yang ingin membicarakan masalah hutangnya itu adalah 182 orang yang memiliki kisah dan pengalaman yang beragam. Angkanya pun bervariasi, mulai dari puluhan juta hingga mencapai angka puluhan miliyar. Dan ketika membicarakannya, masing-masing orang menganggap masalahnya   yang paling penting dan mendesak dan yang lain cukup jadi pendengar atau memberi saran saja.
 
Itulah kesan yang terjadi dalam workshop 2 hari “How To Be Debt free” di Surabaya tanggal 26-27 Maret 2011. 182 orang peserta yang ikut dalam workshop itu berasal dari hampir semua wilayah di Jawa Timur dan kota-kota lain di tanah air, seperti Balikpapan, Jakarta, Tangerang, Bekasi, Solo, Jogjakarta, Semarang, Padang dan lain-lain. Tidak semua peserta berkesempatan menyampaikan masalahnya. Selain faktor waktu juga ada peserta yang malu karena menganggap masalah itu sebagai aib untuk diketahui orang lain. “Tidak mudah untuk membicarakan masalah bisnis di Indonesia. Kultur dan kebiasaan membuat orang malu membicarakannya karena dianggap aib. Pengusaha terlanjur dicap sebagai orang sukses, hebat dan jauh dari masalah,” kata Presiden IIBF, Heppy Trenggono. Padahal, lanjut Heppy pebisnis adalah orang yang paling banyak masalahnya. Dan untuk keluar dari masalah seseorang harus dengan jujur pada diri sendiri tak perlu tampil sebagai seorang yang kelihatan sukses.  “Jujur saja tidak cukup tetapi harus brutal jujur,” jelas Heppy.
 
Setiap akhir sesi, peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan apa yang didapat dalam materi yang baru dipelajari. Dari situ terungkap bahwa sebagian peserta mengalami masalah yang cukup dalam. Mereka yang berani mengungkapkan apa yang dialaminya rata-rata adalah mereka yang telah menemukan clarity  tentang kesalahan yang dilakukan selama ini. “Saya tidak memiliki kehidupan selama ini. Bisnis-bisnis yang saya bangun bermasalah semua. Dan setelah mendengar penjelasan Pak Heppy hari ini, saya baru memahami kesalahan yang saya lakukan. Maka mulai besok pagi, orang-orang yang berhutang kepada saya 1 miliar ke bawah akan saya bebaskan,” kata seorang  ibu-ibu paroh baya sambil berurai air mata tanpa menyebut detail kesalahan yang pernah dia lakukannya.  
 
Saat break ada saja peserta mencari kesempatan untuk membicarakan masalahnya yang dilayani dengan sabar oleh Heppy Trenggono. Namun panitia membatasi untuk memberi kesempatan   kepada Presdir United Balimuda itu berisitirahat. “Kami tidak bermaksud menghalangi bapak ibu untuk berbicara dengan Pak Heppy namun tolong beri kesempatan beliau untuk istirahat dan makan siang dulu,” kata seorang panitia. Di hari terakhir setelah acara selesai banyak peserta yang masih belum mau beranjak dari tempat itu, hanya ingin mendengar ucapan Presiden IIBF itu menjawab pertanyaan peserta lain.  Waktu yang dialokasikan peserta untuk berfoto bersama tak urung digunakan juga untuk bertanya dan berbincang dengan pendiri IIBF itu. Peringatan dan pengumuman panitia bahwa waktu telah berakhir tak digubris sama sekali. Semua seolah larut dan tak mau melewati momen ini meski sedetik. Baru setelah azan Maghrib berkumandang  seorang pengurus pusat IIBF, meminta agar diskusi diakhiri untuk bersama-sama sholat maghrib. Karena bakda Maghrib Heppy dan rombongan akan bertolak  ke Blitar dan Malang untuk menemui para pengusaha yang ada di wilayah itu.
 
Workshop di Surabaya ini juga ditandai dengan pelantikan Pengurus Wilayah IIBF Jawa Timur periode 2011-2016. Surat keputusan pengurus pusat dibacakan oleh Sekjen IIBF, Aswandi    As’an yang dilanjutkan dengan pelantikan oleh Presiden IIBF, Heppy Trenggono.  Dalam surat keputusan itu PP IIBF menetapkan Lukman Setiawan dan Agriana Karya H, masing-masing sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Umum. Dr. Wito Haryadie sebagai Ketua Dewan Pembina dan DR. H Rasiyo, MSi sebagai Ketua Dewan Penasehat . (AA)
 
Last Updated ( Tuesday, 29 March 2011 23:52 )