Friday, 24 October 2014
Ekonomi Indonesia dan Gerobak Dawet Sumiran
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Karang Kates, 28/03/2011,  Di ruas jalan Blitar – Malang di ujung jembatan bendungan Sutami arah Blitar, Sumiran  (69 tahun) berjualan es dawet. Pekerjaan yang sudah dilakoninya sejak tahun 1974. Itulah satu-satunya sumber nafkah yang diandalkan sejak dia menyatakan mengundurkan diri dari penjaga keamanan kampungnya di Karang Kates awal tahun 1974. “Hansip itu enggak ada honor tetap mas, cuma ada uang sukarela dari warga saja,” katanya dengan logat Jawa yang kental. Sumiran kemudian memutuskan berjualan dawet keliling kampung dengan gerobak yang dia buat sendiri. Bahan baku dawetnya juga dibuat dari umbi Gadung yang dibuat tepung terlebih dulu. Pembangunan bendungan Sutami menjadi berkah tersendiri buat Sumiran. Karena banyaknya pengunjung yang melihat keindahan panorama di bendungan membuat dawet Sumiran laris manis. Sumiran kemudian memutuskan untuk mangkal di ujung jembatan itu hingga sekarang.
 
Dari awal berdirinya bendungan itu hingga sekarang  orang yang berkunjung ke lokasi tidak pernah berkurang. Apalagi pada akhir pekan. Banyak warga dari kota-kota seperti Blitar, Malang, Surabaya, Jember dan lain-lain datang bertandang atau liburan bersama keluarga di tempat itu. Yang membedakan dulu dan hari ini menurut laki-laki tua ini, pendapatannya terus menurun dari tahun ke tahun.  Tahun-tahun awal dia berjualan, Sumiran bisa meraih untung hingga 700%. “Pertama jualan dulu harga semangkok dawet 200 rupiah.  Dengan modal   2.000 saya biasa membawa pulang 14.000 rupiah setiap hari,” katanya mengenang. Namun sembilan tahun terakhir pendapatannya menurun tajam. Ditanya alasannya Sumiran hanya menggeleng pelan, tidak tahu apa penyebab semua itu. Padahal menurutnya orang yang berkunjung ke tempat itu tidak berubah.   Hanya saja sekarang pengunjung sangat sensitif jika harga dinaikkan. Maka dia terpaksa mengurangi isi dawetnya agar dan harga tetap. “Sekarang membawa pulang 100 ribu saja sangat sulit mas,” katanya dengan nada pasrah.   Padahal untuk sekali membuat dawet Sumiran harus mengeluarkan modal lebih Rp. 60 ribu. Artinya Sumiran mengalami penurunan omset lebih dari 600% sejak 9 tahun terakhir.
 
Presiden IIBF, Ir. H.  Heppy Trenggono, MKomp, dan rombongan yang singgah di gerobak dawet Sumiran sore itu berkomentar jika yang dialami Sumiran juga terjadi oleh mayoritas masyarakat Indonesia saat ini.  “Itulah inflasi, harga barang melambung tetapi nilai mata uang rendah, dan daya beli masyarakat menurun,”  kata Heppy. Angka pertumbuhan ekonomi 5,8% yang dikeluarkan pemerintah hanya mengacu pada moneter tetapi tidak pada pertumbuhan sektor riil. Sehingga angka itu tidak dirasakan sama sekali di masyarakat bawah. Inflasi, menurut Heppy akan semakin parah dengan kebijakan yang ada sekarang. Pasar bebas membuat aliran produk luar sangat deras masuk ke pasar dalam negeri membuat industri dalam negeri tidak berkembang bahkan mati. Akibatnya keuangan pemerintah semakin lemah karena keuangan masyarakat tidak tumbuh.  “Keuangan pemerintah itu sangat bergantung pada keuangan masyarakat,” ungkap Heppy. Tidak banyak yang bisa diharapkan dengan sikap pemerintah yang lebih memihak produk asing daripada produk anak bangsa sendiri.
 
Namun ada satu hal yang masih bisa dilakukan untuk menyelamatkan Indonesia dari bencana ekonomi yakni membangkit karakter pembelaan terhadap bangsa sendiri. Masyarakat dan semua komponen bangsa harus membeli dan  menggunakan produk sendiri. “Semua negara di dunia melakukan ini untuk bangsanya, kok kita tidak?” kata Heppy dengan nada tanya. Heppy lalu menyebut beberapa negara yang melakukan pembelaan terhadap produk negaranya.  Makanya aneh jika Indonesia membuka pasarnya lebar-lebar untuk produk orang asing.  Sementara produk sendiri sulit menjadi tuan rumah di negeri sendiri. “Coba cek berapa defisit perdagangan kita dengan China sejak pasar bebas itu ditandatangani? Ini kan jarang diungkap kepada publik. Yang digembar-gemborkan hanya angka-angka di atas kertas saja yang tidak berpengaruh pada kenyataan di lapangan seperti ini,” kata Heppy sambil menunjuk gerobak dawet Sumiran.  
 
Perbincangan di gerobak dawet Sumiran itu tidak terasa sudah hampir satu jam. Dr. Wito Haryadi, Lukman Setiawan dan Wisudana Arisaptono dari IIBF Jawa Timur dan Ahmad Nursodik dari IIBF Jateng sudah sejak tadi menghabiskan isi mangkok masing-masing. Semua anggota rombongan mendengarkan penjelasan singkat Presiden IIBF tentang ekonomi Indonesia yang berawal dari perbincangan ringan Sekjen IIBF, Aswandi As’an dengan Sumiran, penjual es dawet itu. “Ternyata es dawet ini dapat bercerita banyak tentang ekonomi Indonesia saat ini,” kata Nursodik sambil terkekeh. Beberapa saat kemudian tim IIBF  berangkat menuju kea rah Malang.  Ikut serta dalam rombongan itu juga Sweet Luvianto, Direktur IT dan logistik PP IIBF dan Farid Tri Widodo, Direktur Pengembangan Organisasi. Juga dari United Balimuda Group, Mashudi, manager product development dan Husein Thaha Manager Keuangan. Dari kejauhan masih terlihat wajah sumringah  Sumiran karena baru saja mendapat rezeki nomplok dengan kehadiran Presiden IIBF dan timnya sore itu. (AA)
 
Last Updated ( Wednesday, 30 March 2011 14:07 )