Mengenang Jasa Bung Karno
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Blitar, 28/03/2011. Untuk sekaliber  tokoh yang pernah mengguncang dunia, komplek makam itu terhitung sangat sederhana. Namun di situlah letak kebesaran  Sang  Proklamator, Ir. Soekarno, terbaring di pemakaman umum, Bondogerit, Sanawetan, Blitar, Jawa Timur. Makamnya dipayungi  cungkup berbentuk joglo yang disebut Astono Mulyo. Di bangunan itu Bung Karno berada di antara makam ayah dan ibunya,  R. Sukemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai. Di sisi kiri menjelang masuk ke cungkup terdapat sebuah musholla kecil untuk para peziarah yang ingin menunaikan sholat. Di musholla itulah rombongan IIBF berhenti sebelum mengunjungi makam Putra Sang Fajar.  Tim yang dipimpin langsung oleh Presiden IIBF itu melaksanakan sholat sunnat Mutlak yang dilanjutkan dengan pembacaan Tahlil dan doa bersama.
 
Menjelang masuk ke Astono Mulyo para tukang foto amatir dengan sigap menjepret semua anggota rombongan.   Penjaga makam menyambut kedatangan dan menuntun anggota rombongan menabur bunga di atas makam Bung Karno dan kedua orang tuanya. Tanpa diminta laki-laki paroh baya itu bercerita panjang lebar tentang sejarah tempat itu.  Di bagian atas makam Bung Karno diletakkan sebuah batu pualam hitam bertuliskan : "Disini dimakamkan Bung Karno Proklamator Kemerdekaan Dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Penyambung Lidah Rakyat Indonesia." Di sisi kanan pualam itu tertancap sebuah bendera merah putih dan di sisi kirinya ada sebuah bendera veteran berwarna kuning yang sudah lusuh dengan bordiran yang sudah terkelupas. “Pak , tolong bendera itu diganti dengan yang bagus . Cari yang paling bagus dan bordirannya pakai bordiran perak,” pinta Heppy Trenggono kepada penjaga makam sembari menyerahkan sejumlah uang. 
 
“Kita datang ke tempat ini untuk belajar, belajar tentang bagaimana Bung Karno menjalani hidup dan berjuang untuk bangsanya.   Kita tidak tahu bagaimana nasib bangsa kita hari  jika dulu kita tidak memiliki seorang Sukarno. Seseorang yang begitu sangat yakin bangsa ini akan merdeka ketika semua orang kehilangan harapan dan terjajah,”  ulas Heppy kepada semua yang hadir. Menjaga makamnya, tegas Heppy, bukan berarti kita memuja orang yang telah meninggal tetapi menjaga agar semangat dan ajaran Bung Karno tetap hidup  dalam hati setiap orang. Apalagi hari ini bangsa Indonesia telah kehilangan karakter yang pernah diajarkan dan dibangun oleh Bapak Bangsa itu. “Seribu kali bangunan itu tak sebanding dengan jasa yang pernah ditorehkan Bung Karno untuk bangsa ini,” kata Heppy sambil menunjuk ke arah musholla yang ada di barat laut makam. Tempat ini, lanjut Heppy, harus diperlakukan dengan hormat agar kita tidak menjadi bangsa kerdil yang tidak menghargai orang-orang yang telah berjasa terhadap bangsa kita. “Kebesaran dan kekerdilan kita sebagai bangsa dapat diukur dari cara kita memperlakukan orang-orang yang telah berjasa kepada bangsa dan negara ,” kata Heppy. Heppy kemudian mengingatkan agar semua yang hadir mengenang semua  kebaikan dan jasa Bung karno. Kepada penjaga makam Heppy meminta agar menyampaikan kepada semua orang yang berziarah apa yang telah dilakukan oleh Bung Karno. “Tugas bapak adalah menyampaikan kepada semua orang tentang ajaran, semangat, cinta dan semua yang telah dilakukan Bung Karno untuk bangsanya,” kata Heppy yang dijawab dengan takzim oleh lelaki tua itu.  Para tukang foto sempat berhenti   beraksi untuk mendengar apa yang disampaikan Presiden IIBF. Beberapa diantara mereka terlihat mengusap air matanya begitu Heppy mengakhiri pidato singkat di samping makam Presiden Pertama Indonesia itu.
 
Sejenak kemudian rombongan IIBF pamit. Menuruni tangga  Astono Mulyo, puluhan pedagang cendera mata “Bung Karno” sudah menanti dan berebut menawarkan dagangannya. Mulai dari gantungan kunci, tasbih, mainan, gelang dan lain-lain. “Coba kumpulkan semua pedagang di sini,” Heppy memberi perintah kepada anggota timnya. Selang beberapa saat kemudian tak kurang dari 40 pedagang sudah berkumpul di pelataran makam itu. Satu-satu pedagang itu diberikan  sejumlah uang. “Matur nuwun engge pak, mugi-mugi gusti Allah marengi rezeki lan keberkahan ingkang katah  (Terima kasih ya Pak, semoga Allah memberi rezeki dan keberkahan yang banyak),” kata seorang pedagang setelah menerima uang itu. “Lihatlah bagaimana seorang Bung Karno, beliau sudah lama meninggal tetapi Allah masih berikan keberkahan kepada orang lain,” kata Heppy. Dr. Wito Haryadie yang berjalan di sampingnya mengangguk pelan.
 
Di museum Bung Karno yang berada di jalan masuk makam itu, Tim IIBF menyaksikan foto-foto perjalanan seorang  Bung Karno, sejak anak-anak, remaja hingga menjelang beliau wafat. “Melihat foto ini kita serasa mau terbang karena tingginya rasa percaya diri kita dengan Bung Karno,”   Sekjen IIBF, Aswandi As’an berkata kepada Ahmad Nursodik sambil menunjuk foto Bung karno bersama para pemimpin dunia. Beberapa lukisan Bung Karno dan perlengkapan beliau semasa hidupnya tersimpan di tempat itu, termasuk reflika sebuah keris bertahta emas yang selalu menemani Sang Proklamator pergi. Jam yang ada di dinding museum menunjukkan pukul 10.29 menit ketika rombongan keluar dari museum itu. Angin sepoi berhembus  dan matahari meredup ketika segumpal awan menutupinya. Disaat itu tiga buah mobil yang ditumpangi Tim IIBF meninggalkan lokasi peristirahatan “ Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” itu. (AA)
 
Last Updated ( Thursday, 31 March 2011 15:47 )