Sunday, 26 October 2014
40 Wallikota Se-Indonesia Dengarkan Paparan Beli Indonesia
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Pekalongan,  02/04/2011. 40 walikota se-Indonesia mendengarkan paparan  “Beli Indonesia”  di Pekalongan, Sabtu siang. Pemaparan yang berlangsung dalam  rapat koordinasi Kota Pusaka Indonesia itu disampaikan langsung oleh Presiden IIBF, Ir. H. Heppy Trenggono, MKomp.  Walikota Pekalongan. Dr. M,Basyir Achmad yang menyelenggarakan acara itu meminta secara khusus Presiden IIBF untuk menyampaikan hal itu.  “Materi yang saya sampaikan ini berbeda dengan masalah pelestarian benda pusaka. Sebaliknya masalah ini adalah masalah yang tak boleh menjadi  benda pusaka,” kata Heppy memberi  pengantar.
 
IPTN yang pernah menjadi pintu masuk Indonesia untuk menguasai teknologi tinggi hampir menjadi “benda pusaka”   karena dipaksa untuk dihentikan pengembangannya  oleh IMF. IMF yang datang pada tahun 1997 menawarkan bantuan yang diikuti dengan ribuan agenda yang harus dilakukan Indonesia sebagai kompensasi hutang yang dikucurkan lembaga Internasional itu. Termasuk penghapusan subsidi kepada petani.  “Ibarat permainan bola, para petani adalah penjaga gawang. Dia memang tidak pernah memasukkan bola ke gawang lawan, tetapi jika tidak kita urus maka  gawang kita yang kebobolan,” kata Heppy bertamsil.  Semua negara-negara di dunia terutama negara-negara maju memberi subsidi yang sangat besar kepada petaninya. Sehingga petani di Amerika, Inggris, Australia dan lain-lain memiliki hidup yang sama bahkan melampaui profesi lain.
 
Dihentikannya produksi IPTN menyebabkan Indonesia kehilangan 12.000 putra-putra terbaik bangsa yang telah dicetak oleh IPTN. “Bahkan saya mendapatkan informasi bukan 12.000 tetapi 48.000 anak-anak muda yang telah disekolahkan dan dididik oleh IPTN. Saatmereka  bekerja di perusahaan penerbangan yang tersebar di seluruh dunia,” ungkap Heppy. Hari ini kita lebih bangga menjadi bangsa pembeli pesawat orang lain dan menguburkan mimpi untuk menjadi bangsa produsen pesawat terbang. Paling tidak tercermin dari sikap kita terhadap pembelian 60 pesawat Boeing 737 ER yang dilakukan oleh sebuah maskapai swasta Indonesia . Tidak hanya itu maskapai yang sama juga memesan 16 unit pesawat ATR 72-500 dari Francis. ATR 72 adalah pesaing utama CN 235 di Paris Air Show 1993. Dan Michael Camdessus , Direktur IMF yang meminta menghentikan IPTN adalah orang yang berasal dari negara yang sama dengan ATR 72, Francis.
 
Dengan 237 juta jiwa penduduk saat ini, Indonesia sangat diinginkan oleh bangsa lain, terutama jika dia menjadi konsumen. Tetapi juga sangat berbahaya bagi bangsa lain jika negara ini menjadi produsen. Hari ini bangsa besar bernama Indonesia itu telah menjadi negara konsumen sebagai sasaran pasar oeang lain. Mengapa kita tidak bisa bangkit menjadi negara kuat? Padahal kita memiliki cukup modal untuk itu. Mulai dari sumber daya alam yang melimpah, jumlah penduduk nomor empat di dunia,letak negara yang strategis dan lain-lain kelebihan yang diberikan Tuhan kepada bangsa ini. “Kita hari ini kehilangan karakter unggul untuk menjadi bangsa besar, jaya, berprestasi dan disegani,” kata Heppy. Karakter unggul dapat ditemukan dengan menjawab tiga pertanyaan; Siapa jadi diri kita? Apa yang kita bela? dan apa yang kita yakini. Penjualan asset-aset strategis kepada pihak asing, menurut Heppy karena kita tidak jelas apa yang kita bela.   “Maka jika hari ini kita tidak punya ide untuk melunasi hutang negara sebesar Rp.1.700 triliyun itu, sangat tidak logis. Mengapa? Karena kita tidak memiliki keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri dan lupa dengan jati diri bahwa kita ini adalah bangsa besar,”  Heppy berapi-api. Mendengar ini walikota Bengkulu spontan bertakbir, “Allahu Akbar,” katanya lantang yang disambut takbir pula oleh hadirin.
 
Jika dulu bangsa lain menjajah tanah dan air kita, hari ini kehidupan kita yang diajah orang lain. Hampir semua barang yang kita pakai dan kita konsumsi sehar-hari adalah barang-barang buatan orang asing. Seolah-olah tidak ada tempat untuk barang-barang yang diproduksi anak bangsa sendiri. Lihat saja, satu produsen susu yang menguasai pasar susu dalam negeri memiliki angka penjualan sebesar 200 triliyun per tahun. “Mengapa itu bisa terjadi? karena kita tidak memiliki karakter untuk membela bangsa sendiri,” ungkap Heppy. Karena itu untuk membangkitkan  semangat pembelaan terhadap bangsa sendiri dan membangun karakter unggul anak negeri ini Heppy memperkenalkan sebuah gerakan yang sedang  dikampanyekan oleh para pengusaha Indonesia. Gerakan itu adalah  Beli Indonesia. “Beli Indonesia hanyalah sebuah thema perjuangan yang didalamnya mengandung beberapa sikap perjuangan untuk membela martabat dan kejayaan  bangsa Indonesia,”  ungkap Heppy. 
 
Dalam kesempatan itu Heppy memperagakan simbol Beli Indonesia dengan mengangkat jari telunjuknya, lalu kemudian meneriakkan “Beli Indonesia” yang disambut dengan teriakan yang sama oleh 40 walikota dan semua yang hadir di ruangan itu. Sebagai ice breaker pada acara itu, Heppy adalah pembicara ketiga setelah sebelumnya ada pembicara utama Prof. Dr. Dorojatun Kuncorojakti. Namun karena pembicaraannya berbeda dengan yang lain, justru dapat mencuri perhatian dari para walikota dan undangan. Forum yang semula terlihat riuh dan banyak peserta yang bicara sendiri mendadak sunyi begitu slide pertama Beli Indonesia dimunculkan.   Biasanya setiap akhir sesi pembicara sebelumnya selalu dibuka pertanyaan. Namun tidak untuk sessi Beli Indonesia. “ Ini adalah sesi khusus dan materi yang sangat khusus pula,  maka kita tidak membuka sesi tanya jawab,” kata Heppy mendahului setelah melihat gelagat beberapa dari walikota yang ancang-ancang untuk mengangkat tangannya.
 
Namun tak urung begitu materi usai beberapa walikota menyalami dan meminta Presiden IIBF itu bertandang ke kotanya untuk menyampaikan hal yang sama. “Insya Allah, Pak,” kata Heppy menanggapi tawaran seorang walikota dari Sumatera. Saat Heppy meninggalkan ruangan itu, masih terlihat beberapa orang walikota berdiri dan meneriakkan “Beli Indonesia” ke arah Heppy dan timnya. (AA)
 
Last Updated ( Wednesday, 20 April 2011 10:11 )