Empat Hal Penyebab Kegagalan Pebisnis
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Tangerang, 9/04/2011. Setelah banyak muncul pertanyaan tentang mengapa IIBF tidak ada di Jakarta, Sabtu pagi tim engine IIBF Jakarta Raya menggelar Pengajian Bisnis Akbar di Ballroom Great Western Building, Tangerang.   Lebih dari 600 orang hadir di Pengajian Bisnis yang menampilkan Presiden IIBF, Heppy Trenggono dan  H. Alay dari TDA sebagai pembicara. Tim engine IIBF yang memprakrasai acara ini adalah mereka yang selama ini pernah mengikuti acara-acara IIBF di daerah-daerah.  “Kita ini rata-rata adalah alumni dari workshop atau kegiatan IIBF di daerah lain,” kata Basuki Widodo. Basuki Widodo sudah mengikuti berbagai kegiatan IIBF di beberapa kota. Pengusaha engineering dengan spesifikasi cutting logam ini ini juga adalah seorang coach IIBF yang hanya menunggu sertifikasi dari IIBF Pusat. Keinginan menghadirkan IIBF di sekitar Jabodetabek  sudah terpendam lama.  “Seiring dengan perjalanan waktu semakin banyak teman-teman Jabodetabek  yang telah bergabung di IIBF dan sekarang kami menganggap saatnya untuk menghadirkan IIBF di sini,” ungkap Basuki.
 
Melihat antusiasme peserta, Basuki dan timnya mengaku surprise karena acara itu hanya dipersiapkan selama seminggu,   undangan dan informasipun hanya disampaikan via sms dan email. “Thema dan pembicaranya yang menjadi daya tarik acara ini,” kata Basuki menilai. Tim mengambil thema “Rahasia Bisnis Tanpa Hutang”. Menurut Basuki thema ini adalah thema yang melawan arus karena banyak training atau workshop yang menganjur orang untuk berhutang, bahkan menggunakan kartu kredit sebagai cara untuk mendapatkan modal. “Sebuah cara yang sangat diharamkan di IIBF,” kata Basuki mengomentari kartu kredit. Basuki yang selalu ikut dalam kegiatan IIBF ini sudah sangat fasih berbicara tentang materi hutang. Pengetahuan dan skill yang dia dapatkan di IIBF digunakan untuk mengcoach perusahaan sendiri.  Delapan bulan memperbaiki perusahaannya, Basuki mampu menaikkan omzet dari rata-rata Rp. 25 juta menjadi Rp. 250 juta per bulan. Sedangkan pembicaranya menurut Basuki , adalah dua orang yang dikenal sebagai pemain atau pebisnis yang sudah jatuh bangun dalam berbisnis. H. Alay dikenal sebagai pebisnis property dan garmen yang selalu berpihak kepada pengusaha kecil dengan mendirikan ruko-ruko yang dijual atau disewakan dengan harga terjangkau. Beliau juga dikenal sebagai Ketua Dewan Pembina komunitas TDA (Tangan Di Atas) yang memiliki ribuan anggota. Sedangkan Ir. Heppy Trenggono M.Komp, dikenal dengan kebangkitannya dari lilitan hutang Rp. 62 miliar dalam waktu kurang dari 3  tahun  dan sukses membangun bisnis dengan total asset Rp. 4 Triliyun. Kesulitannya dulu telah membuatnya berkeliling dunia mencari guru dan mentor bisnis. Dan kini dia berbagi ilmu dan ketrampilan bisnis dengan semua pengusaha yang memerlukannya. “Makanya kita tidak sungkan mengundang Pak Heppy kemanapun karena beliau selalu semangat dan panitia tidak diminta untuk menyiapkan akomodasi dan transport. Pak Heppy membiayai diri dan timnya sendiri,”  ungkap Basuki.
 
Pada sesi pertama pengajian, H. Alay menyampaikan  materi  tentang spiritual entrepreneurship.  Pengusaha yang bangkrut menurut H. Alay adalah mereka yang tidak mengikuti aturan Allah dan RosulNya. “Lihat saja di lingkungan kita masing-masing, mereka yang bangkrut itu adalah mereka yang tidak taat dengan ajaran dan melakukan pelanggaran,” kata H. Alay. Bisnis, lanjutnya, sama dengan tubuh kita, yang akan menderita sakit jika dimasukkan barang atau makanan yang tidak sehat. Maka hidup sukses itu adalah hidup yang kembali kepada ajaran.  
 
Pada sesi kedua, dibuka dengan video perjalanan seorang Heppy Trenggono dalam membangun bisnis dan kehidupannya. Video berakhir, Heppy kemudian mengulas singkat perjalanan hidupnya yang berujung pada kejatuhannya dalam lilitan hutang. “Banyak orang bertanya kepada saya, Pak Heppy, bapak kan pintar kok jatuh juga? Saya jawab, ya, saya jatuh karena saya kira saya pintar itu,”  ungkap Heppy. Pada bagian lain Heppy mennyampaikan 4 hal yang menyebabkan pebisnis gagal . Pertama, Tidak memahami bisnis. Bisnis dijalankan hanya dengan cara nekad dan tidak menggunakan ilmu dan ketrampilan bisnis. Tidak fluent dalam bahasa bisnis dan juga tidak memliki kompetensi secara financial. Kedua, berbisnis dengan emosional. Tidak sedikit orang yang jatuh dalam bisnisnya karena selalu mengambil keputusan dengan emosi. “Business is intellectual sport, it isn’t emosional sport,” kata Heppy. Ketiga, Tidak memahami tentang cara membangun kekayaan. Bisnis adalah cara untuk membangun kekayaan tetapi banyak orang yang berbisnis justru mendapat masalah  dan jatuh dalam kemiskinan. “Orang yang tidak sadar membangun kekayaan kemungkinan besar secara tidak sadar membangun kekayaan,” ungkap Heppy. Bisnis sering dianggap sebagai job. Padahal bisnis adalah cara yang ditempuh seseorang untuk membuatnya lebih kaya.  Keempat, tidak memahami ilmu hutang. Banyak pebisnis yang jatuh dalam lilitan hutang karena tidak memiliki ilmu tentang hutang. Mengambil hutang yang salah, berhutang dengan cara yang keliru, berhutang pada waktu yang tidak pas dan lain-lain.  “Hutang itu seharusnya menjadi leverage yang akan membuat bisnis kita akan berkembang, tetapi jika keliru maka hutang akan membuat masalah semakin dalam,” kata Heppy.
 
Pengajian bisnis ini dijadwalkan akan berakhir menjelang Zuhur, namun karena banyaknya pertanyaan terpaksa dilanjutkan setelah sholat Zuhur. Itupun banyak peserta yang mau bertanya terpaksa tidak mendapat kesempatan karena waktu yang sangat terbatas. Pada 20 menit terakhir Heppy Trenggono menjelaskan tentang Beli Indonesia.  Dan pengajian ini diadakan oleh tim engine IIBF Jakarta sebagai pembukaan rangkaian pendirian IIBF Jakarta Raya. (AA)
Last Updated ( Thursday, 14 April 2011 00:37 )