Saturday, 25 October 2014
3 Kecerdasan Kota Pekalongan
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Pekalongan, 02/04/2011. Menyebut kota Pekalongan selalu identik dengan Kota Batik. Karena kota ini memang menjadi pusat produksi dan penjualan batik. Tidak hanya itu kota ini juga menyediakan banyak informasi tentang sejarah dan perjalanan Batik. Pemerintah setempat mengabadikannya dalam Museum Batik yang dapat dilihat oleh siapapun dan generasi manapun yang ingin tahu tentang batik. Jatuh bangun para pengusaha batik di dalam negeri juga dapat dilihat di kota ini melalui bangunan-bangunan tua pabrik batik yang sudah mati dan yang masih berjalan.  Sebelum era 80-an, Pekalongan dikenal sebagai kotanya pengusaha. Karena kota ini banyak melahirkan pengusaha-pengusaha kuat. Namun memasuki pertengahan 90-an hingga sekarang terjadi penurunan minat genarasi mudanya untuk menjadi pengusaha. “Ini SOS Pak Heppy, jika kita tidak melakukan sesuatu maka ikon Pekalongan sebagai kotanya entrepreneur akan segera berakhir dan hilang,” kata Walikota Pekalongan, M. Bashir Ahmad kepada Presiden IIBF, Heppy Trenggono suatu ketika.
 
Di mata Presiden IIBF, Pekalongan memiliki cukup modal untuk menjadi kota yang hebat. Dan modal itu hari ini masih tetap terjaga di tengah-tengah warga kota Pekalongan. Modal itu pula yang selama ini membuat Pekalongan menjadi kota entrepreneur yang banyak melahirkan pengusaha-pengusaha kuat. Tinggal merevitalisasi modal itu dan kembali menjadinya sebagai kekuatan. Heppy Trenggono mengideintifikasi ada 3 modal utama Pekalongan untuk menjadi kota yang hebat. Pertama, Kecerdasan Komunikasi. Kecerdasan komunikasi ini dapat dilihat cara orang Pekalongan menjalin hubungan. Tukang becak di Pekalongan dapat bicara akrab dengan penumpangnya dan dengan sangat lancar me jelaskan apa yang ingin diketahui oleh penumpang tentang Pekalongan. “Komunikasi ala Pekalongan berbeda dengan komunikasi di daerah lain. Orang Pekalongan menunjukkan keakraban dengan cara bicara kasar kepada kawannya. Maka semakin kasar bicaranya maka hubungan itu semakin dekat,” kata Heppy. Kecerdasan komunikasi ini juga dapat dilihat pada pedagang kecil di Pekalongan yang menyapa pelanggannya.  Mereka selalu berusaha untuk menyebut satu persatu nama pelanggannya. “Pak Carlam itu contohnya, dia selalu menyapa pelanggan dengan menyebut namanya. Tapi karena dia tidak bisa mengingat nama pelanggannya satu persatu maka semua orang yang datang dipanggil dengan nama yang sama, Bambang. Monggo Pak Bambang, silahkan Bu Bambang, terima kasih Dek Bambang,” kata Heppy sambil meniru gaya Pak Carlam menyapa pelanggannya.
 
Kedua, Kecerdasan Religius. Kecerdasan ini dapat dilihat pada kebiasaan orang-orang Pekalongan sehari-hari.  Hampir setiap hari di mesjid-mesjid di Pekalongan diwarnai dengan pengajian-pengajian, baik orang tua maupun anak-anak. Setiap minggu selalu ada pengajian akbar di beberapa tempat yang jemaahnya tidak terbatas warga Pekalongan tetapi juga berasal dari daerah lain. Dampaknya orang Pekalongan itu senang berbuat kebaikan. Sedekah itu menjadi bahasa sehari-hari warga Pekalongan. Maka berbagai moment peringatan hari besar selalu diwarnai dengan acara yang bernuasa member sedekah. “Lupis raksasa yang ada setiap Syawalan adalah tradisi yang menggambarkan bahwa orang Pekalongan itu senang dengan sedekah. Siapapun yang hadir boleh makan dan cukup bayar dengan kereweng,” ungkap Heppy. Kecerdasan religius ini tidak hanya dimiliki oleh para tokoh-tokoh agamanya tetapi juga dimiliki dimiliki oleh pemimpin yang ada di pemerintahan. “Lihatlah walikotanya, beliau memimpin tidak hanya dengan keakraban tetapi juga memimpin dengan religius,” jelas Heppy.  
 
Ketiga, Kecerdasan Entrepreneurship. Orang Pekalongan terutama anak-anak mudanya memberi definisi sendiri tentang arti pintar dan bodoh. Maka jika banyak anak-anak muda Pekalongan yang memilih menjadi pengusaha  karena  pilihan mereka dari definisi itu. “Anak-anak muda Pekalongan mendefisnisi orang pintar itu adalah orang yang bisa menjual sesuatu. Sebaliknya orang bodoh itu adalah orang yang bisa membeli sesuatu,” ungkap Heppy. Entrepreneurship di Pekalongan tidak hanya dimiliki oleh warganya tetapi juga oleh pemerintahnya. Pemerintah Kota  Pekalongan sudah lama mengidentufikasi dirinya sebagai Entrepreneurship Government . Walikotanya telah mencanangkan gerakan satu rumah satu pengusaha.
 
3 kecerdasan kota Pekalongan ini disampaikan oleh Heppy Trenggono pada ceramah singkat dengan konsep Pecha Kucha, sebuah presentasi yang diciptakan di Jepang . Presentasi ini harus disampaikan selama 6 menit dengan 20 slide. Presentasi disampaikan di depan 40 Walikota se Indonesia dan ribuan warga Pekalongan. Acara ini merupakan rangkaian dari acara malam penutupan ulang tahun kota Pekalongan ke 105 di lapangan Jatayu, Pekalongan.  Heppy yang menjadi pembicara mewakili tokoh Pekalongan dari kalangan Pengusaha. “Saya ini orang Pekalongan kelahiran Batang,” kata Heppy ketika ditanya daerah asalnya. (AA)
 
Last Updated ( Wednesday, 20 April 2011 10:14 )