“Maaf Mas, Ruanganya Terlalu Sempit…"
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Malang, 28/03/2011. Kedatangan Presiden IIBF ke Malang akhir Maret 2011 masih meninggalkan banyak kisah, terutama kesan dari beberapa orang yang menjadi peserta pertemuan singkat itu. Kisahnya dimulai dari workshop How To Be Debt Free Surabaya tanggal 26-27 Maret 2011, dimana sebagian dari pesertanya adalah para pengusaha dari kota Apel itu. Termasuk Ridwan, ketua TDA Malang yang kemudian menjadi host “tiban” karena host  tetap berhalangan hadir, juga  Slamet, seorang event organizer yang memegang kendali teknis  pada acara workshop itu. Dua tokoh inilah yang memutar arah perjalanan Tim IIBF menuju ke kota Malang. 
 
Hanya dengan persiapan satu hari dua orang ini dapat mengumpulkan lebih dari 200 orang pengusaha kota Malang. Mereka mempersiapkan sebuah aula yang cukup menampung 100 orang peserta. “Karena persiapan cuma satu hari kita pikir cukuplah tempatnya untuk 100 orang,” ungkap Slamet. Slamet memperkirakan jumlah 100 orangpun sudah lebih dari cukup karena ini kali pertama presiden IIBF bertemu dengan pengusaha Malang. “Ternyata Pak Heppy itu memang belum terlalu dikenal di dunia nyata tetapi sudah menggetarkan di dunia maya,” katanya dengan senyum wagu. Buktinya, tambah Slamet, hanya dengan sms dan email saja para pesertanya membludak. Sebagian peserta harus berdiri di belakang karena kursi yang tidak cukup dan sebagian lagi berada di luar ruangan dan mendengar melalui speaker yang disiapkan panitia. Meski demikian tidak ada yang beranjak hingga pertemuan itu berakhir.
 
Peserta cukup beragam tidak hanya pengusaha mapan tetapi juga para mahasiswa yang sudah memulai dan memiliki usaha. Dari beberapa orang yang bertanya dalam sesi tanya jawab terungkap bahwa hutang masih masalah besar  pengusaha di kota ini. “Pak Heppy, saya seorang kontraktor yang mengerjakan beberapa proyek pemerintah dan swasta juga. Namun satu terakhir ini perusahaaan saya mengalami masalah. Nah, untuk menutupi masalah keuangan di perusahaan itu saya mencoba membuka usaha baru di property. Bagaimana menurut Bapak?” seorang ibu muda bertanya.  Heppy kemudian menjawab dengan member beberapa tips kepada ibu itu dan meminta agar focus untuk memperbaiki masalah di perusahaan kontraktornya. “Bisnis itu kompetensi, kompetensi ibu yang sudah terbukti selama ini adalah kontrakor. Dan property adalah bisnis baru yang kompetensi ibu belum teruji di situ. Jika kita belum memiliki kompetensi jangan langsung investasikan uang tetapi investasilah dulu waktu untuk kita belajar sampai kita mengusainya,” jelas Heppy.
 
Dalam kesempatan itu, Heppy memaparkan sedikit tentang seluk beluk hutang. Mulai dari jenis hutang, hutang yang baik dan yang buruk, waktu berhutang, hal-hal yang harus dihindari saat berhutang dan lain-lain. Pada akhir sesi, materi khusus tentang gerakan Beli Indonesia. Gerakan yang digagas oleh Heppy Trenggono yang melibatkan banyak pengusaha dan masyarakat umum. Juga disampaikan tentang Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia yang dilangsungkan di Solo akhir Juni 2011. “Beli Indonesia adalah sebuah tema gerakan membangun karakter bangsa untuk membela kejayaan bangsa sendiri,” jelas Heppy.   Jika ini sudah menjadi karakter anak negeri ini maka pengusaha-pengusaha Indonesia akan tumbuh di mana-mana, karena produk mereka dibeli. Hari ini banyak industry kita tutup dan mati karena rakyat kita membela produk dan barang orang lain dengan bermacam alasan.   Mungkin hanya sepele, hanya sebuah sabun atau benda lain yang kita beli untk kita pakai. Namun konsekuensinya sangat panjang. Jika barang itu milik asing, kemana uangnya akan mengalir?, bank mana disimpannya? asing atau Indonesia, Siapa supplier yang dipilih perusahaan itu? Bagaimana mereka memilih karyawan dan lain-lain. Maka sebelum membeli sesuatu, pastikan barang itu dimiliki oleh yang mencintai Indonesia.
 
Saat acara berakhir, ternyata beberapa tim IIBF yang datang dari Surabaya dan Jakarta terpaksa harus berdiri di luar ruangan untuk memberi kesempatan kepada peserta untuk bertemu dengan Presiden IIBF. Melihat hal itu Slamet buru-buru mendatangi  dan berbasa-basi. “Maaf mas, ruangannya terlalu sempit,”  katanya dengan nada bersalah. “Tenang saja mas Slamet, tidak ada yang perlu dirisaukan. Justru yang kami khawatirkan jika tempat ini kosong,” kata Sodik menenangkan Slamet. Dari perbincangan kedua orang ini diketahui jika Slamet dan kawan-kawan sedang mempersiapkan acara khusus untuk para pengusah Malang dengan menghadirkan Presiden IIBF. “Sekaligus untuk persiapan IIBF Malang, mas,” ungkap Slamet yakin.
 
Hujan masih rintik-rintik ketika tim IIBF keluar dari gedung itu. Tim masih sempat menikmati soto Lamongan di warung di pinggir jalan itu sebelum bergerak kembali ke Surabaya. (AA) 
 
Last Updated ( Wednesday, 20 April 2011 10:17 )