Friday, 24 October 2014
Presiden IIBF Meminta Koponteren Sidogiri Menjadi Contoh
Written by Administrator    Sunday, 21 March 2010 19:26    PDF Print E-mail



Pasuruan, 13/04/ 2011, Bermula dari dialog seorang ustadz dengan seorang pedagang kecil yang baru saja meminjam uang dengan seorang rentenir. “Mengapa ibu meminjam uang dengan cara renten dan bunga begitu tinggi,” tanya sang ustadz. “Karena ini cara paling mudah dan tidak ada pilihan lain. Kalau pak ustadz bisa memberikan pinjaman yang tidak pakai renten kami semua akan pindah,” jawab si pedagang.  Dialog ini terjadi di pada tahun 1997 di pinggir kota Pasuruan, Jawa Timur. Dari dialog ini membuat Sang Ustadz berfikir untuk membebaskan pedagang kecil dan mikro dari cengkaraman rentenir. Ustadz itu kemudian mengumpulkan sahabat-sahabatnya untuk mencari cara membebaskan para pedagang dari rentenir dan menghilangkan transaksi riba. Dari pertemuan itu para ustadz itu sepakat untuk mendirikan lembaga keuangan yang akan memberi pinjaman kepada para pedagang dengan pola syariah. Dan mereka memulainya dengan modal Rp. !3.500.000 yang mereka kumpulkan dari kantong mereka masing-masing. Bagaimana manajemen pengelolaanya? “Kami hanya meniru cara Rosulullah saja dengan prinsip Shiddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah,” kata KH. Mahmud Ali Zein. Semangatnya, menurut Kyai Ali adalah menciptkan Qoryatun Warobbun Ghofur, sebuah desa yang penuh ampunan dan rahmat Allah SWT. Dan negeri yang penuh ampunan dan rahmat itu hanya akan terjadi jika hukum-hukum Allah dijalankan di negeri itu.  Kisah ini dipaparkan KH. Mahmud  kepada Presiden IIBF, Heppy Trenggono dan tim, di ruang pertemuan Kopontren “Sidogiri” , Pasuruan, Selasa malam.
 
 
Kini setelah beberapa tahun berjalan Koperasi Pesanteren yang dikelola  oleh “santri sarungan” ini telah memiliki sejumlah badan usaha dengan total asset mencapai 1,7 triliyun. “Ini mohon maaf Pak Heppy, gaya sarungan seperti ini adalah pakaian dinas kami sehari-hari,” kata KH. Mahmud  berseloroh.    Badan usaha yang dimiliki Pesanteren ini antara lain Koponteren Sidogiri yang memiliki 3.000 lebih anggota aktif,  BMT Maslahat Marsalah Lil ummah, BMT Usaha Gabungan Terpadu, Lembaga Lazizwa Sidogiri, Pustaka Sidogiri dan Bank Pembiyaan Rakyat Syariah. BMT Sidogiri ini tersebar di seluruh Jawa Timur hingga ke beberapa kota lain di Jawa Tengah dan Jakarta Utara.   Tahun lalu kelompok usaha ini mengeluarkan zakat sebesar Rp.1,9 miliar.  Beberapa mini market yang menjual produk-produk lokal. “kita fokus pada produk lokal karena mereka tidak mendapat tempat memadai di super market modern,” jelas KH.Mahmud.
 
Usai mendengarkan paparan KH.Mahmud, Presiden IIBF, Heppy Trenggono meminta agar Sidogiri terus istiqomah dan selalu berpegang pada khittah pendirian lembaga ini. Karena inilah yang menjadi kekuatan Koponteren Sidogiri sehingga tetap menjadi contoh kepada lemabaga-lembaga lain di tanah air dalam membela dan membangun ekonomi ummat. “Ini adalah sebuah bentuk dakwah yang luar biasa yang harus dicontoh oleh umat-umat kita yang lain. Saya secara khusus meminta izin untuk menyebarkan tentang hal ini kepada semua pihak yang saya temui dalam perjalanan saya dan IIBF. Saya meminta agar Pak Kyai dan dan Koponteren selalu istiqomah agar ummat kita memiliki contoh yang bisa diteladani,” kata Heppy. Heppy kemudian menceritakan tentang perjalanannya mendirikan dan membangun IIBF untuk membangun bangsa dengan cara mencetak pengusaha yang kuat dan bertakwa. Kedua tokoh itu kemudian bertukar cenderamata. Heppy menyerahkan sebuah buku “4 discipline success” IIBF kepada KH. Mahmud. Dan KH. Mahmud menyerahkan seperangkat buku terbitan Pustaka Sidogiri. “Ini adalah bukuk terbitan kita dan setiap bulan ditargetkan minimal ada dua judul yang diterbitkan,” ungkap KH.Mahmud.
 
Sesaat kemudian, KH. Mahmud mengajak rombongan IIBF untuk naik ke lantai 3 gedung Koponteren dimana telah menunggu 300 lebih orang pengurus Koponteren Sidogiri. KH. Mahmud kemudian memperkenalkan Presiden IIBF kepada pengurus Koponteren  dengan menyampaikan isi buku “Menjadi Bangsa Pintar” yang ditulis oleh Presiden IIBF tahun 2009 lalu. “Dalam buku ini ada formula sederhana untuk mengetahui bangsa pintar dan bangsa bodoh. Contohnya ini, bangsa pintar itu jadi pemain bangsa bodoh jadi penonton,” kata KH.Mahmud. Buku itu diperolehnya  dari Pengurus IIBF Wilayah Jawa Timur yang berkunjung ke pesanteren itu seminggu yang lalu. “Lewat buku ini Pak Heppy mengajak kita untuk menjadi bangsa pintar,” lanjut KH.Mahmud. Setelah diperkenalkan Heppy Trenggono menceritakan tentang perjalanannya membangun bisnis dan membangun pengusaha Indonesia. Pada bagian akhir Heppy memaparkan gerakan Beli Indonesia yang digagasnya termasuk Kongres Kebangkitan Ekonomi Indonesia (KKEI) yang dilaksanakan akhir Juni 2011. Pukul 23.14 Wib perbincangan berakhir dan Tim IIBF pamit untuk kembali ke Surabaya dan melanjutkan perjalanan ke Bojonegoro besok [agi. (AA) 
 
Last Updated ( Wednesday, 20 April 2011 11:03 )